Feeds:
Posts
Comments

CINTA


love2

Tinta yang menyebabkan titik

Bukan titik yang menyebabkan tinta

Cinta yang menyebabkan cantik,

Bukan cantik yang menyebabkan cinta

Kata pujangga, cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali.

Cinta, satu kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Ribuan buku tentang cinta telah memenuhi rak perpustakaan-perpustakaan dunia. Mulai dari novel-nonel monumental sampai karya-karya klasik para penyair. Bahkan jika Anda amati cinta telah menjadi satu tema yang paling banyak dibicarakan, ditulis, didiskusikan, didramakan, maupun difilmkan.

Cinta, satu kata yang mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Ia dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Ah, inilah dasyatnya cinta menurut Jalaluddin Rumi.

Namun hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, si gemuk menjadi kurus, si normal menjadi gila, si kaya menjadi miskin, raja menjadi budak.

Cinta, satu perasaan naluriah yang ada dalam jiwa kita. Ia tumbuh apabila kondisi mendukungnya. Ia selalu tumbuh dari dalam, tanpa membutuhkan pengaruh-pengaruh dari luar dan tanpa didramatisasi ataupun di rekayasa. Ia memberi tapi tidak meminta

Cinta adalah perasaan dalam jiwa yang tumbuh secara sendirinya tanpa kesengajaan atau niatan. Jadi jika kita mencinta seseorang, bukan karena diri orang itu, melainkan karena bagaimana dia membuat kita merasa dicintai.

Kepada Tuhan pun cinta itu semakin agung. Orang yang mencintai Tuhan adalah seorang yang sadar bahwa Tuhan telah banyak memberikannya cinta, tanpa mengharapkan imbalan apapun dari hambanya.

Memang tidak sesederhana itu menjelaskan apa hakekat cinta. Mungkin sampai sekarang masih sangat langkah pakar yang berani menjelaskan hakekat cinta, karena pengertiannya sangatlah jelas tapi hakekatnya sangat misterius. Cinta adalah cinta…

”Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan sesuatu melainkan menambah kabur dan tidak jelas, berarti definisinya adalah adanya cinta itu sendiri”.

(Ibnu al-Qayyim)

AKU ADA KARENA CINTA

cinta allah

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”

(QS 32:9)

Allah memulai menciptakan manusia dengan menyempurnakan aspek fisik, baru kemudian Dia meniupkan ruh-Nya. Dengan demikian keberadaan manusia itu terdiri dari unsur jasmani (fisik) dan ruh ( Allah).

Jalaludin Rumi menyatakan bahwa yang pertama diciptakan Tuhan adalah cinta. Cinta merupakan sifat Tuhan, sehingga antara makhluk dan Khaliqnya sama-sama memiliki sifat mencinta. Dari sini Rumi mengajukan gagasan bahwa cinta sebagai kekuatan yang fundamental dalam diri manusia.

Tuhan adalah Cinta. Sang Maha Cinta telah meniupkan cinta-Nya pada setiap pencinta tanpa henti. Cinta akan selalu ada sebagai manifestasi dari keabadian Sang Pemberi cinta.

Karena Sang Pemberi Cinta adalah Penguasa Alam, maka Cinta akan menggerakkan segalanya. Cinta adalah sebab, juga merupakan akibat. Alam semesta adalah wujud Cinta-Nya.

Di saat berdo’a dan sholat, coba Anda sempatkan untuk melafazkan sifat-sifat Allah. Cobalah hayati perlahan-lahan. Coba temukan getarannya di sana.

Sebuah bisikan mulia dan penuh cinta dengan jelas akan memancar darinya. Pancaran dari sifat-sifat mulia Allah. Ibnu ‘Arabi melantunkan syair cintanya:

……

Lempeng-lempeng Taurat dan Kitab Al Qur’an

Kuanut agama cinta

Dan kemanapun arah

yang hendak dituju oleh kendaraannya

Cinta itulah agama,

dan keyakinanku

Syariat, Wujud Cinta

syariat

“Sadat salat pasa tan apti,

Seje jakat kaji mring Mekah,

Iku wis palson kabeh”

(Syekh Siti Jenar)

Anda dapat menjumpai bait di atas di “ Serat Seh Siti Jenar” gubahan Raden Panji Nata. Kalimat dalam bahasa jawa itu jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebihnya “syahadat, sholat, dan puasa tidaklah diinginkan, begitupun zakat, haji ke Mekah. Semuanya palsu belaka”.

Achmad Chodjim dalam bukunya yang berjudul “ Syekh Siti Jenar ( Makna Kematian)” menjelaskan bahwa menurut pandangan Siti Jenar, pada masa itu, kelima rukun Islam itu sudah berubah maknanya dalam hidup ini. Semuanya telah menjadi formalitas belaka. Tidak ada lagi manfaat yang didapat oleh orang Jawa dalam menjalankan syariat yang lima itu. Semua sudah tidak dapat lagi diturut atau dipegangi. Bila ibadah telah menjadi palsu, tidak dapat dipegangi, maka semuanya merupakan keburukan di bumi.

Selama ini kita menganggap bahwa cinta kasih itu kaitannya dengan agama Nasrani. Sedangkan agama Islam kaitannya dengan syari’ah (hukum), ketaatan pada hukum, serta disiplin pada hukum. Padahal Islam adalah agama yang senantiasa mengajarkan cinta. Allah juga selalu menunjukkan cinta lewat syariat-Nya.

Definisi ilmu syariat itu ialah hukum-hukum yang datang dari Allah, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang terdiri dari lima hukum yaitu wajib, sunat, haram, makruh dan mubah. Dengan hukum-hukum ini, syariat menentukan seluruh kehidupan ini ada yang harus dilaksanakan, yakni perkara-perkara yang wajib. Ada yang sebaiknya dilakukan yakni perkara sunat. Ada pula yang harus ditinggalkan yaitu perkara haram. Sedangkan yang makruh sebaiknya ditinggalkan. Ada juga yang boleh dilakukan dan boleh ditinggalkan, yakni perkara-perkara yang dikategorikan sebagai mubah hukumnya.

Dengan kata lain, setiap apa saja bidang yang kita selami di seluruh aspek kehidupan seperti dalam sistem pendidikan, ekonomi, pertanian, kebudayaan, teknologi dan sistem hidup yang lain, tidak akan terlepas dari lima hukum ini. Bidang kajian ilmu syariat ialah tentang kehidupan lahiriah manusia.

Syariat-yang merupakan bagian tak terpisahkan dari perkembangan Islam-merupakan salah satu ‘cara’ Allah dalam mendidik dan mengarahkan manusia menuju kepada kehidupan yang selamat dan bahagia. Sholat misalnya, lebih dari sekedar gerakan dan ucapan lahir, ia memiliki konsekuensi bathin yang justru mesti terjaga terutama di luar waktu sholat. Sudahkah sholat kita mampu menjadi metode pelatihan relaksasi,  menyegarkan hati yang susah, menghidupkan radar bathin yang telah diredupkan dengan persoalan dunia yang setiap hari datang bertubi-tubi tanpa mengenal jeda.

Sudahkah puasa menjadi penjara bagi hawa nafsu kita yang selalu cenderung pada kenikmatan sesaat, menghentikan insting hewani yang telah menyatu dalam tubuh kita. Kalau belum, jangan syariat yang disalahkan, tapi diri kita yang belum sampai pada taraf penghayatan makna syariat itu. Allah telah mengajarkan metode terbaik untuk meraih kebahagiaan sejati, kebahagiaan hakiki.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya

HIDUP TANPA AGAMA?

images

Apakah manusia mutlak butuh agama?

Apa manusia tidak bisa hidup tanpa agama?

Apakah  agama  masih relevan dengan kehidupan masa kini?

Dulu, ketika pengaruh gereja di Eropa  menindas  para  ilmuwan  karena penemuan  mereka  yang dianggap  bertentangan  dengan  kitab  suci, bagaimana Anda memandang Nicolaus Copernicus, Kepler, dan Galileo Galilei yang dihukum dan ditentang karena menemukan teori Heliosentris?. Bagaimana mereka memandang agama yang telah memiliki kitab suci bertentangan dengan fakta yang terjadi dan terbukti secara sains?.

Yang terjadi ternyata para ilmuan itu mencoba meninggalkan agama, padahal dari pembahasan sebelumnya dikemukakan bahwa agama merupakan fitrah, ia tetap ada dalam diri manusia. Tidak mungkin bisa ditinggalkan.

Dan benar. Ternyata kecenderungan meninggalkan agama itu tidak berlangsung lama. Mereka menyadari akan kebutuhan adanya pegangan sejati dalam hidup. Pegangan pasti yang sangat  stabil, yang tidak terbentuk   oleh   lingkungan  dan  latar  belakang pendidikan, budaya, serta kondisi sosial kemasyarakatan. William James menegaskan bahwa, “Selama manusia masih memiliki naluri cemas  dan  mengharap,  selama  itu  pula  ia  beragama (berhubungan  dengan Tuhan).”

Selama manusia tetap ingin menjadi manusia, dia harus tetap berpegang pada satu nilai yang tetap, nilai yang akan menemani jiwanya kapanpun, yang memberi tujuan, ajaran, jalan, serta pijakan untuk menempuh kehidupan yang terarah. Se-komunis apapun, seseorang pasti membutuhkan agama. Baik dia mengaku beragama maupun tidak.

Apalagi alam modern sebagai produk kemajuan sains dan teknologi telah melahirkan pola hidup yang materialis, konsumtif, hedonis, dan individualis. Pola hidup seperti ini akan berpotensi menghilangkan jati diri dan ketenangan batin bagi masyarakat.

Sehingga wajar jika John Neisbitt dalam Ten New Direction for The 1990 Megatrend 2000 meramalkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak mampu memberitahu kepada manusia tentang arti kehidupan. Arti kehidupan itu bisa dipelajari melalui spiritualitas.

Jajak pendapat yang sempat diadakan oleh BBC dan dipublikasikan pada 20 April 1998 menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Barat masih membutuhkan agama. Dihadapkan pada pertanyaan,”Apakah sekarang ini agama telah kehilangan maknanya?” responden yang menjawab ”Tidak” ternyata lebih besar daripada yang menjawab ”Ya”. Satu lagi, dalam buku Calestine Prophecy diceritakan bahwa akan terjadi pembalikan budaya umat manusia di abad ke-20 secara besar-besaran, dari budaya materialistik menjadi budaya spiritualistik. Hal ini terjadi karena adanya rasa sepi di tengah keberlimpahan materi yang terdapat di masyarakat yang telah maju.

Ketika manusia dengan kemampuannya yang luar biasa telah mencapai kesuksesan, sering kali ia disergap dengan adanya perasaan kosong dan hampa dalam batinnya. Ia seringkali bingung saat telah meraih puncak kesuksesan dan kejayaan kariernya. Ia sering kehilangan pijakan, kemana dia harus melangkah, untuk apa semua prestasi yang telah diraihnya itu. Di sini agama berperan memberi bimbingan, jalan akan stabil dan menuju ke tujuan akhir dari hidup manusia, yaitu-dalam bahasa Williem James The Great Socius. Dialah Allah.

”Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS 62:8)

FA_KCB_promo nasional-ver_final

Malam jam setengah tujuh tanggal 11 Juni 2009, berangkatlah saya menuju 21 Galaxy Mall Surabaya. Aiaii….  yang antri lumayan banyak, aku yakin orang yang berjubel disini cuma ada satu tujuan, melihat perdana Ketika Cinta Bertasbih… Beberapa menit kemudian makin banyak orang yang datang hingga antri di tangga…

Begitu nyampe di loket, mbak penjaga loket bilang, ‘maaf mas, sudah habis yang tiket jam 7. tinggal jam setengah sepuluh. Hah? Setengah sepuluh. Nggak jadi deh, males donk di mall nunggu berjam-jam demi film ini. Alasannya nonton karena cuma penasaran, aja apakah filmnya sebagus novelnya. Ya sudah, tak apa, akhirnya hari ini baru bisa kembali kesana untuk nonton…..

Mau nonton cuplikan filmnya?

Klik sini..

Atau Mau download trailer film Ketika Cinta Bertasbih?

Silahkan Download di sini

Reality show saat ini sedang menjamur. Tapi di antara semua tayangan reality show, Terhehek-Mehek adalah salah satu program yang dianggap paling disukai oleh pemirsa. Jam tayangnya yang prime time yaitu 18.15-19.00 WIB hingga back song-nya yang keren dan syahdu, membuat acara ini makin diminati.

Pertama kali nonton Termehek-mehek, apa sih yang ada di benak kamu? Pastinya sih terseret arus cerita yang seringkali mengaduk-aduk perasaan di tengah-tengah acara pencarian orang yang dikasihi. Kamu diajak untuk ikut dag-dig-dug menanti ending cerita, happy or sad ending? Jadinya berat rasanya mata untuk dialihkan ke hal lain selain mantengin monitor TV sampai acara selesai. Ehem..iya apa iya?

Mayoritas dari kita, saya dan kamu pasti yakin dan percaya bahwa acara tersebut adalah nyata dan bener terjadi. Dan masih banyak jutaan pemirsa TV lainnya juga yang ikut menangis dan bahagia sesuai dengan jalan cerita Termehek-mehek. Eh…usut punya usut, ternyata acara Termehek-mehek dan mayoritas reality show lainnya itu adalah rekayasa, bukan murni nyata kejadiannya. Kok bisa sih? Makanya, supaya ngerti, ikutin terus pembahasan ini yah. Lanjuutt!

Ternyata rekayasa

Dalam bahasa Jawa, ada istilah ‘nggak mehek’ yang artinya kurang lebih meremehkan atau menganggap kecil sesuatu. Namun Termehek-mehek yang sekarang lagi booming, mempunyai arti menangis tersedu-sedu. Acara ini muncul sekitar Mei 2008 dan langsung menarik perhatian mayoritas pemirsa TV. Ide acara adalah membantu mencari seseorang yang lama hilang. Jalinan ceritanya begitu mempesona karena dibuat seakan-akan nyata dan terjadi dengan sebenarnya.

Saya yang semula juga tersepona eh…terpesona pada Termehek-mehek, jadi kuciwa juga mengetahui fakta sebenarnya. Helmi Yahya sebagai yang punya ide cerita mengakui bahwa ia memanfaatkan karakter orang Indonesia yang suka diberi mimpi.

Para pemeran di tiap episode sengaja diambil dari masyarakat umum terutama mahasiswa agar terkesan alami karena wajahnya belum pernah nongol di TV sebelumnya. Ada satu kasus ketika seorang mahasiswa langsung diteleponin oleh banyak teman-temannya setelah shooting reality show. Jelas aja nih mahasiswa langsung menjelaskan pada teman-temannya itu bahwa cerita yang diangkat bukanlah kisah pribadinya, tapi rekayasa berdasarkan skenario belaka. Malulah kalau sampai beneran kisah pribadinya jadi konsumsi banyak orang se-Indonesia, begitu katanya.

Sebagian dari kamu bisa jadi nggak terima dengan kenyataan ini. Kok bisa sih? Bukankah jelas-jelas sang target pernah mengusir kameramen acara termasuk host-nya yaitu Panda dan Mandala? Masa’ rekayasa pake acara usir-usiran segala? Bahkan Panda pake acara nangis juga bila kebetulan ending cerita mengharukan atau sedih. Mungkin kamu berpikir naïf seperti itu.

Yupz, kamu emang nggak salah. Namanya aja acting, pastilah ya harus meyakinkan. Bahkan Panda dan Mandala pun dibayar bukan cuma untuk menjadi host, tapi plus acting juga. Bagi mereka yang bekerja di dunia pertelevisian, sedari awal langsung ngeh bahwa acara-acara reality show seperti ini penuh dengan rekayasa. Namanya aja show atau pertunjukkan yang sudah jelas ada unsur menghiburnya dong. Hal ini tidak bisa dihindari karena tuntutan deadline. Ketika tidak ada satu kisah nyata yang bisa diangkat ke layar TV, maka solusinya adalah bikin skenario dan membayar pemain amatiran agar terkesan alami. Nah, awalnya saya pikir sebagian, tapi ternyata most of them alias hampir semua episode adalah rekayasa!

Cara gampang untuk mengenali bahwa ini adalah rekayasa yaitu kamu perhatikan aja kualitas suara yang jernih ketika terjadi percakapan antara host, client dan target. Kalau memang si target benar-benar tidak tahu sebagaimana ekspresi mukanya yang seringkali berakting bingung ketika didatangi host, maka seharusnya kualitas suara mereka tidak sejernih yang kita dengar di TV. Kejernihan suara itu karena memang adanya chip untuk mikrofon yang biasanya dipasang di baju. Nah loh…

Kalo kamu jeli, ada wajah tokoh pada acara termehek-mehek yang juga sedang bermain sinetron meskipun hanya sebagai tokoh figuran. Lagipula, bila acara ini menyajikan kejadian sebenarnya, apa ada orang yang rela aibnya ditampilkan sedemikian rupa di TV? Kan sudah mendapat persetujuan dari semua pihak, mungkin itu kilahmu. Namanya juga dramatisasi Non, pastilah acara ini dihadirkan agar seolah-olah semuanya terlihat real.

Mengapa terjadi?

Yupz…kalo di benakmu sempat terbersit pertanyaan seperti ini, itu tandanya kamu sudah selangkah lebih cerdas. Kok bisa-bisanya reality show yang seharusnya real alias nyata, eh ternyata malah rekayasa. Kondisi ini memang memanfaatkan psikologi orang Indonesia yang cenderung pasif dan konsumtif. Mereka mudah ‘dicekoki’ apa saja terutama yang bertujuan pembodohan secara massal. Hal ini pula yang terjadi pada berbagai macam program TV di Indonesia.

Deadline, biasanya menjadi alasan utama rekayasa tayangan reality show. Jadi kalo nunggu kisah nyata beneran untuk ditayangkan, itu bakal menunggu waktu lama dan belum ada kepastian juga kasusnya bisa selesai atau nggak. Kalo direkayasa dengan skenario layaknya sinetron, maka menjual program ini ke stasiun TV jadi lebih mudah karena semuanya serba mudah dan pasti. Karena mudah dan ditonton banyak pemirsa, maka rating pasti naik. Kalo rating naik, iklan pun bakal rebutan untuk ambil porsi tayang. Nah, loh…UUD juga alias Ujung-Ujungnya Duit.

Berdasarkan data AC Nielsen di akhir tahun 2008, Termehek-mehek merupakan program acara paling populer dengan raihan rating 7,2 poin dan share 27,3 persen. Ini adalah yang tertinggi dari semua acara reality show yang ada di stasiun televisi lainnya. Menurut Gusti M Taufik, salah satu Event Coordinator pada sebuah Production House (PH) di Jakarta mengatakan bahwa budget produksi pasti akan membangkak jika shooting menggunakan kejadian real. Belum lagi memburu target pasti akan makan waktu lama. Perhatikan saja pada acara Termehek-mehek, meyoritas pencarian orang bisa dilakukan hanya dalam waktu beberapa hari. Padahal faktanya itu adalah skenario yang bisa diselesaikan hanya dalam waktu hitungan jam saja.

Uang adalah raja diraja manusia saat ini, apalagi untuk program TV. Meskipun sebuah tayangan dikatakan bermutu dan mendidik, namun tanpa uang atau iklan yang menyokong, maka bisa dipastikan program tersebut akan gulung tikar dengan cepat. Begitu sebaliknya, meskipun sebuah tayangan dikategorikan ‘junk program’ alias tidak bermutu, tapi bisa tetep jalan bila didukung kekuatan modal. Inilah pola hidup kapitalisme yang memang sangat mendewakan modal dan pemodal sebagai penguasa zaman.

Tradisi intip-mengintip, mencari celah untuk tahu aib orang, bertengkar dengan kasar di depan umum, berkata-kata jorok sehingga TV perlu menyensor dengan bunyi ‘tiiiittt’, adalah sebagian budaya reality show terutama Termehek-mehek yang berusaha diajarkan pada kita. Sifat dasar manusia yang selalu saja ingin tahu urusan orang dijadikan komoditi, tak ubahnya seperti infotainment. Bedanya, kali ini yang dijadikan objek pengintipan adalah mereka yang bukan selebritis. Tapi intinya sih tetep aja, melakukan hal-hal yang nggak penting dan nggak bermanfaat.

Bagaimana sikap kita?

Mungkin awalnya kita nggak paham tentang realitas reality show. Jadinya kita gampang banget tertipu dan ngefans dengan sebuah program tayangan tertentu. Sampai-sampai kita bela-belain untuk menunda keperluan lain demi nggak mau ketinggalan acara tersebut. Ehem…iya apa iya?

Nah, sekarang kamu jadi ngerti tentang apa dan bagaimananya reality show itu terutama Termehek-mehek yang sekarang ini lagi booming. Terus, apa dong yang kita lakukan sebagai pemuda cerdas plus beriman? Ya…nggak usahlah terlalu serius nonton acara reality show itu. Apalagi tayangan favorit begini biasanya sengaja ditaruh di jam-jam darurat. Perhatikan aja Termehek-mehek ini tayang di waktu Maghrib yang singkat. Kalo kamu udah taraf kecanduan sama acara beginian, bisa dipastikan bakal males mau berangkat sholat. Bila pun melakukan, pasti maunya pingin cepet-cepet selesai alias sholat ala kilat khusus (emangnya surat?).

Padahal itu semua rekayasa loh. Seandainya pun bukan rekayasa, masa iya sih tayangan reality show bisa mengalahkan waktu sholat kamu? Semua ini adalah langkah awal bagi media TV untuk menanamkan racunnya ke dalam benak kaum muslimin terutama pemudanya. Kamu jadi terlena di depan TV dan males untuk sholat secara khusyuk dan tumakninah. Boro-boro baca al-Quran setelah sholat Maghrib, yang ada juga baca al-Fatihah nggak jelas bacaannya karena cepet-cepetan mau nonton Termehek-mehek. Aduh….moga aja kamu bukan type ini ya.

Sabtu sore dan Minggu sore itu biasanya banyak kegiatan di sekitar rumah kamu karena anak-anak sekolah dan kuliah pada santai. Dengan adanya Termehek-mehek ini biasanya kamu-kamu pada males untuk berangkat ngaji atau kegiatan positif lainnya. Pinginnya cuma duduk manis sambil mantengin layer TV nunggu acara reality show kelar.

Nah, mulai sekarang udah nggak musim lagi males ngaji dan ikut pembinaan. Meskipun acara TV kesayangan kamu lagi main, waktunya berangkat menimba ilmu ya berangkat aja. Emang TV bisa menyelamatkan dunia-akhirat kamu? Pasti nggak dong. So, nonton reality show ya wajar-wajar aja kaleee, nggak perlu sampai kecanduan.

Semua ini sandiwara

Bagi yang nggak begitu suka dengan sinetron, biasanya terjebak dengan reality show semacam Termehek-mehek. Padahal program jenis ini setali tiga uang alias sama saja dengan sinteron hanya beda kemasan. Sang produser tahu bener bahwa tidak semua orang bisa ditipu untuk program pembodohan ala tayangan sinetron. Oleh karena itu butuh polesan cerdas untuk tope orang-orang seperti ini dengan tayangan jenis lain. Reality show adalah jawabannya.

Sesungguhnya, semua ini adalah sandiwara. Sandiwaranya para pemodal untuk mengeruk untung sebanyak-banyaknya, tak peduli apakah tayangan itu merusak generasi atau tidak. Yang penting bagi mereka adalah rating tinggi yang berarti iklan banyak, duit pun mengalir menambah penuh pundi-pundi uang mereka. Parahnya lagi, masyarakat kita terlena dengan kebodohan ini. Maka sudah saatnya bagi kamu-kamu yang selangkah lebih cerdas daripada rakyat kebanyakan karena kamu udah membaca gaulislam ini (ehem… kagak nyombong Non!) untuk tidak berdiam diri.

Yuk, kita sebarkan pemahaman ini pada umat. Bukan melulu tentang rekayasa reality show saja tapi juga muatan isinya yang bisa merusak generasi secara perlahan tapi pasti. Ingat, tayangan TV hanya hiburan. Ibarat garam pada masakan, bila kebanyakan maka selain rasanya nggak enak juga pasti menimbulkan berbagai macam penyakit.

Begitu juga dengan tayangan TV, nggak perlu menjadikan TV sebagai menu pokok harian kamu. Sekadarnya saja untuk mengetahui berita terkini terutama tayangan yang bermutu dan bermanfaat. Selebihnya, kita kudu ingat bahwa hidup ini bukanlah main-main. Hidup di dunia juga bukan sandiwara, tapi sungguhan. Kita berbuat salah ya akan mendapat dosa, kalo beramal shalih akan dapat pahala. Hidup kita akan dihisab, akan dimintai pertanggungan jawabnya. Allah Swt. yang akan mengawasi kita semua. Dia tidak bisa ditipu dengan acting kita yang bepura-pura alim atau berpura-pura ikhas. Jadi, beramallah sebaik-baiknya untuk kehidupan sebenarnya di negeri akhirat kelak. Biarkan saja Termehek-mehek dengan acara ‘nggak mehek’nya itu, yang penting kamu nggak lagi sebagai orang naïf yang percaya banget sama reality show. So, ayuk bergerak dan berdakwah untuk perubahan!

dimuat di Majalah Gaulislam edisi 074/tahun ke-2 (26 Rabiul Awal 1430 H/23 Maret 2009)

Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukan dunia

Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya…

(Laskar Pelangi – Nidji )

Masih ingat ga’ anggota Laskar Pelangi….ada Lintang, Kucai, Arai, Mahar, Borek, Flo. Pemeran masing2 tokoh itu oleh sang sutaradara Mira Lesmana dan Riri Riza diambil langsung dari tanah Belitong, sebuah pulau terpencil, tempat tinggal Andrea Hirata. Kenapa LP (Laskar Pelangi) difilmkan? Saya, dan banyak pecinta novel pasti tidak setuju LP difilmkan. Pada awalnya, muncul ketakutan, ketidakpercayaan pada sineas perfilman Indonesia, yang kebanyakan hanya memikirkan untung tanpa memperhatikan filosofi dan nilai2 dari sebuah novel.

BIasanya film tidak seindah novel, atau kata Andrea “pembaca memiliki film sendiri”. Adalah hasil pemikiran yang alama dan mendalam untuk kemudian Andrea mau LP difilmkan. Banyak sekali penawaran muncul, bahkan konon ada salah satu PH yang rela membayar milyaran rupiah, tapi Andrea belum bersedia. Cerita menjadi lain ketika Rri dan Mira menyerahkan script, dibaca, dan dia berfikir bahwa mereka adalah orang2 yang benar2 mengetahui esensi dari LP. Akhirnya dia rela 100% LP difilmkan, dia yakin dengan kerja dari mereka berdua.

Bukan itu saja, Andrea juga membawa misi suci, yaitu demi kebangkitan pendidikan di Indonesia, yang sampai saat inipun, masih ada sekolah yang lebih buruk dari SD Muhamadiyah sekolah Ikal 30 tahun yang lalu. Rakyat Indonesia sedang membutuhkan inspirasi dalam hidup, dan LP datang disaat yang tepat.

Selain itu juga dia ingin membuat semua anak, terutama di Belitong, tidak takut bermimpi. Bayangkan, Zulfany (pemeran Ikal) adalah anak dari pedagang arloji di kaki lima, sekarang sudah menjadi bintang film, bisa bekerja sama dengan seorang sineas sekelas Riri Riza dan Mira Lesmana. Allohu Akbar.

Cut Mini yang tidak henti2nya meneteskan air mata saat tampil di Kick Andy ketika melihat cuplikan film. Ketika ditanya mengapa menangis, dia menjawab, dia selalu teringat Belitong dan ingin kembali kesana. Disini dia memerankan Bu Mus. Kenapa Cut Mini?? pertanyaanku juga, aku menyepelekan, bisa apa dia, hidup enak, orang kota, ga’ ngerti pendidikan, kok bisa2nya jadi bu Mus.

Mira menjawab, dia butuh aktris yang sudah memiliki jam terbang, tapi tetap musti casting. Ternyata diantara yang datang, Cut MInilah yang paling tepat, dia datang dengan logat Belitong, it means, dia telah mempersiapkan dengan baik. Sempat ditayangin juga guru2 yang terpanggil, yang hebat, yang ikhlas, yang mengajar di tempat terpencil, sendirian, tidak dibayar, dan di gedung yang memprihatinkan. Yang menyaksikan semalam pasti sepanjang tayangan meneteskan air mata. Inspiring

Theme Song, Kenapa Nidji? menurut Mira, Nidji adalah Band terbaik di Indonesia saat ini. Jadi dia langsung call them dan Giring pun tanpa ba, bi, bu langsung menyetujui. Yup, menurutku juga, lirik2 Nidji berkualitas, classy. Selain Nidji, Gita Gutawa kaya’nya menyanyikan satu single juga. Yah, dengan segala tujuan mulia, persiapan yang bagus, semoga misi film ini akan tersampaikan, kata ANdrea sendiri “filmnya bakal lebih bagus dari bukunya”.

Oia yang terakhir penting nih untuk diperhatikan. Ternyata orang kribo hebat-hebat ya…..liat aja Kick Andy, Andrea Hirata, Riri Riza, Mira Lesmana, Giring. Jadilah mereka membuat partai baru–PKS–Partai Kribo Sejahtera.. :)

Mau download film Laskar Pelangi?

Download disini

Salah satu pengertian “budaya” ialah tingkat-tingkat mutu ekspresi manusia. Kalau seorang suami marah kepada istrinya atau seorang bapak marah kepada anaknya, kita bisa mengukur tingkat kualitas budaya mereka dengan cara melihat pola ekspresi atau ”cara marah” mereka.

Harus diingat juga bahwa pols ekspresi itu sebagai indikator budaya manusia dan masyarakat,hanyalah salah satu dimensi belaka dari pengertian tentang budaya dan kebudayaan.

Pada kesempatan lain tentulah kita memerlukan uraian-uraian yang mengupas dimensi-dimensi lain.

Suku Asmat di Irian jaya ( Papua), ketika seorang warga mereka meninggal dunia, mereka menangis dengan puisi. Mereka meraung-raungkan syair yang musikal selama tiga hari tiga malam. Mereka memiliki pola dan kadar kebudayaan tertentu, dan muatan syair duka mereka sama sekali tidak kalah dari hasil karya manusia beradab yang mengenal agama-agama dan ilmu pengetahuan modern. Kita diajari untuk tidak bersikap arogan atau memandang rendah mereka hanya karena pakaiain dan peralatan hidup mereka sehari-hari yang masih primitif, sebab kadar keberbudayaan mereka lebih ditentukan untuk pola dan muatan ekspresinya.

Ketika Rasulullah Muhammad SAW dilempari batu dalam perjalanan dakwahnya di Eithopia, beliau pulang sambil mengucapkan do’a yang sangat puitis dan menunjukkan tingkat budaya yang berkualitas tinggi. Saya pribadi selalu mengkritik dan mengambang air mata saya setiap sekali mengucapkan do’a Rasul tersebut.

Ketika Khalifah ali bin abi Thalib dijepit oleh sayao kekuatan Muawiyah yang membelot serta ditikam dari belakang oleh kaum khawarij, beliau senantisa nersujud mengucapkan do’a-do’a yang penuh kedewasaan, kearifan, kelembutan, keadilan nurani serta mencerminkan kepribadian beliau sebagai seorang demokrat sejati yang mengambil posisi moderat demi memelihara ukhuwah.

Cara kita semua marah, cara kita bergembira dan bersedih, cara kita berdagang, cara kita menjalani lalu lintas perpolitikan, cara kita memimpin masyarakat dan negara, sesungguhnya mencerminkan tingkat mutu budaya kepribadian kita. Ketika kita menjalani mekanisme konglomerasi ekonomi yang steril dari nurani keadilan sosial, ketika kita menyelenggarakan kepemimipinan sosial politik yang terpusat pada egosentrisme dan subyektivisme diri maupun kelompok, serta ketika kita menjalankan roda keagamaan dengan siakap ”benar sendiri” dan ”menang sendiri”, sehingga keakhlian kita adalah menajis-najiskan dan membuang orang lain yang kita anggap kotor sesungguhnya meamantulakn tingkat keberbudayaan kita.

Bisa saja kita berperan sebagai pemimpin negara yang dipuja-puja karena kepakaran strategis dan taktis, atau sebagai pemuka sosial, pemuka kaum beragama yang dijunjung-junjung: ternyata dalam prespektif budaya kita masih menyimpan kadar-kadar budaya primitif yang serius namun tidak kita sadari.

Anak-anak kita begitu lulus ujian akhir langsung mendemonstrasikan cara-car kurang berbudaya untuk bergembira dan bersyukur. Merekas mencorat-coret baju mereka, berpesta pora, minum-minuman keras, atau bahkan berkelahi satu sama lain.

Renungkanlah: untuk bergembira saja mereka tidak mapu menemukan bentuk yang pas dan pantas. Renungkanlah, betapa kita telah gagal mendidik anak-anak kita bagaimana cara bersyukur yang berbudaya.

Karena itulah, sering kita mendengar bahwa ”kesenian itu gunanya untuk mengasah hati nurani kita dan kehalusan budi”. Dua hal itu merupakan nukleus dari ”budaya”.

Semoga tulisan ini bisa mengantar kita semua ke dalam ajang untuk melatih, mengasah nurani dan kehalusan budi kita – ditengah gegap gempitanya zaman yang makin penuh primivitas dan kebinatangan.

”Sedang TUHAN pun Cemburu”

9 Rahasia Doa Dihapus

Oia, maaf temen-temen, artikel tentang 9 rahasia doa lulus ujian ternyata diminati oleh salah satu penerbit. Sekarang kayaknya sudah terbit. Sehingga kami diminta menghapus artikel tersebut dari blog ini. Maaf banget ya…kalo berminat mungkin bisa beli di toko2 terdekat. Gramedia, Togamas, manyar Jaya juga kayaknya ada..(Hehe,,sekalian promosi)

PMDK Berbeasiswa ITS 2009/2010

Mungkin ini bisa jadi pilihan bagi temen2 yang pengen kuliah tanpa membebani orang tua dengan biaya kuliah maupun biaya hidup sehari-hari. Mengingat jika masuk beasiswa ini kita bebas seluruh biaya kuliah, mulai I/O, SPI,SPP bahkan biaya hidup pun tiap bulan kita sudah dijatah oleh ITS sampai kita lulus.

Enaknya lagi kita tidak dibebani dengan syarat2 yang berat, misal IP harus dibatasi gak boleh dibawah sekian.Saya masuk ITS pun lewat program beasiswa ini. Syarat2nya nggak jauh beda dengan beasiswa lain. Program ini diperuntukkan bagi siswa SMA/MA/SMK/Sejenis yang mempunyai kemampuan akademis yang menonjol.

Dari pengalaman saya dan teman2 yang lolos program ini, biasanya itu ditunjukkan dengan nilai rapot (rangking 1-3 paralel), piagam olimpiade mata pelajaran (Olimpiade Sains Nasional, dan sejenisnya), juga sertifikat2 keaktifan dalam organisasi intra maupun ekstra sekolah. Kalau temen2 berminat bisa langsung lihat pengumumannya di sini.

Serta Download berkas-berkasnya di sini

Wanita Berkalung Sorban

perempuanberkalungsorban2

Saya dengan penuh keyakinan mengataka bahwa negeri kita sudah sangat makmur sekali.

Bagaimana tidak, ulama’-ulama’nya sudah sangat semangat menyikapi berbagai persoalan umat. Urusan sosial sudah tuntas, penghraman penggusuran sudah tuntas, hukum demo sudah jelas, fatwa tentang fikih sosial pokoknya selesai lah, sehingga mereka nharus cari bahan lain untuk difatwa. Setelah rokok jadi masalah,,ehada ulama’ MUI yg mengharamkan film.

Udah lihat klip video film “Perempuan Berkalung Sorban” ? . Di postingan ini kita bisa  menyimak kontroversi yang menyertai film ini. Kontroversinya: Apakah film yang menceritakan seorang santriwati “pendobrak kemapanan” ini melecehkan Islam?

Bagaimana? Bagus, ‘kan? Kini, ayolah kita simak kontroversinya.

Imam Besar Istiqlal Serukan Boikot Film Perempuan Berkalung Sorban

JAKARTA (LampostOnline): Film Perempuan Berkalung Sorban menuai kontroversi. Film ini dinilai telah menyakiti umat Islam dan kalangan pesantren. Imam Besar Masjid Istiqlal Ali Mustafa Yaqub menyerukan agar film besutan sutradara Hanung Bramantyo ini diboikot.

“Saya malah menganjurkan tidak usah nonton aja. Selesai. Karena memang film ini akan dapat menimbulkan salah paham terhadap Islam dan terhadap pesantren,” kata Ali Mustafa Yaqub.

Perempuan Berkalung Sorban menceritakan perlawanan Anissa, seorang santriwati terhadap pengekangan perempuan di pesantren. Dalam film itu, Annisa berkata Islam tidak adil terhadap perempuan. Film menampilkan diskriminasi terhadap perempuan yang dilakukan ulama dengan dalih agama, seperti perempuan tidak boleh jadi pemimpin, perempuan tidak perlu berpendapat dan perempuan tidak boleh keluar rumah tanpa disertai muhrimnya.

Bagi Ali Mustafa Yakub yang juga menjadi Wakil Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI), ada dua hal yang menyakitkan umat Islam dalam film itu. Pertama, pencitraan Islam yang sangat buruk. Seolah-olah Islam mengajarkan yang tidak sesuai perkembangan zaman, misalnya, seorang perempuan tidak boleh keluar rumah untuk belajar dan sebagainya sesuai dengan mahromnya dan sebagainya itu.

Kedua, penggambaran salah tentang pesantren. “Pencitraan tentang pesantren sangat disayangkan sekali, bahkan saya berani mengatakan itu bukan hanya merusak citra saja tapi memfitnah itu,” kata pemimpin Pondok Pesantren Daarus Sunna tersebut.

Tidak hanya memboikot, Ali Mustafa juga meminta film yang diangkat dari novel karya Abidah El Khaleiqy itu ditarik sementara dari peredaran untuk diperbaiki.

Hanung Siap Hadapi Kontroversi

JAKARTA, (PRLM).- Sutradara muda, Hanung Bramantya menyatakan siap menghadapi kontroversi seputar film terbarunya, “Perempuan Berkalung Sorban”.

”Saya sangat sadar ini sesuatu yang sensitif. Jadi mari kita lepaskan dulu film atau diskusi ini dari Islam atau juga pertentangan salaf dengan salaf atau salaf dengan modern. Mari kita bicara (konteks) manusia dengan manusia yang kebetulan di sini konteksnya adalah perempuan,” kata Hanung.

Hanung sebelumnya sukses menggarap film “Ayat Ayat Cinta” yang diangkat dari novel. Film “Perempuan Berkalung Sorban” hasil adaptasi dari novel.

Dalam film tersebut, Hanung banyak mengkritik kebijakan pesantren. Buku-buku yang akan dibaca santri, namun tidak sesuai ajaran pesantren, langsung dibakar. Padahal di novel karangan Abidah Al Khalieqy, tidak diceritakan hal semacam itu.

Abidah mengatakan, aksi bakar buku tidak ada dalam cerita. ”Dalam tradisi salafi (pembakaran buku) itu tidak ada, tetapi mungkin untuk efek dramatisasi, okelah,” paparnya.

Abidah sendiri mengatakan novel ini sejatinya dibuat sebagai upaya untuk memberdayakan kaum perempuan. Tapi ketika di tangan Hanung, novel ini tidak hanya menjadi `kampanye` memberdayakan kaum hawa saja. Tapi Hanung mampu memberikan cerita berkualitas dengan berbagai bumbunya.

logo-lamongan Usai jama’ah isya’ seperti biasa kiai Delun duduk-duduk dulu di emperan Al Akbar, masjid kampung sebelah rumahku. Dia melihat ada kakek-kakek dengan karung tepung yang ternyata berisi beberapa butir beras. Maksud saya beberapa ribu butir beras. Kiai Delun menghampirinya. Saya kenal dengan orang tua itu. Beliau pengemis yang tadi siang menolak permintaan ibuku untuk makan siang dirumahku. Terlintas di pikiranku mungkin beliau menolak itu karena akan merugikan pendapatannya siang ini kalau disambi makan segala di rumahku. Tapi ibu mungkin yang lupa kalau Rasul pernah melarang Aisyah mengajak pengemis makan bareng di rumah rasul, bukannya apa-apa, dengan alasan dikhawatirkan pengemis itu semakin tidak nyaman dengan hadirnya kita di depannya. Maka cukuplah kasih sebungkus nasi untuk dimakannya di luar. Delun mulai bertanya,”Jenengan asalipun saking Propinsi Jawi pundi mbah?”(Asalnya dari Provinsi Jawa mana mbah?). Delun menanyakan begitu karena budayanya, peminta di Jawa Timur bersedia hijrah ke Jawa Tengah atau Jawa Barat untuk mencari peruntungannya. Analoginya, mahasiswa dari daerah Lamongan pun lebih bangga kuliah di Jakarta, meskipun dia tahu banyak orang Jakarta yang menimbah ilmu di ITL (Institut Teknologi Lamongan). Itu sudah jadi tradisi dalam kehidupan sosial. Maling juga ternyata punya jiwa petualang, maling kurang hobi mencuri di kampungnya sendiri. Dengan santun mbah itu menjawab,”Saking Jawi Lamongan,,” (dari Jawa Lamongan) Saya yakin kiai Delun ingin tertawa, karena Lamongan itu nama kabupatenku. Tapi dengan sigap dia kendalikan nafsu itu. Mukanya geram, tajam, marah, persis mimik muka nabi Musa saat menghadapi Fir’aun. Lho, kiai kok bisa marah?. Saudaraku, kemarahan sesungguhnya merupakan hal yang wajar; sebab kemarahan itu menunjukkan adanya dinamika. Sama seperti kegembiraan, kesedihan, kerinduan, dan sebagainya. Karena itu, perlu dicari solusi agar kemarahan memberikan dampak positif, yakni bisa menjadi salah satu faktor yang mempererat hubungan pemarah dengan yang niat dimarahi. Caranya tidak sulit. Yang penting, urai dulu akar permasalahnya. Kiai Delun lantas dengan nada ketus berkata,”Sudah sanggup mengadakan kegiatan mubadzir ”Pesta Expo Gebyar Kotaku”, ku pikir daerah ini sudah tentrem dan rakyate sejahtera. Sehingga sudah sangat pantes dan bener kalau mengadakan acara semacam itu. Ternyata masih ada gelandangan. Masih ada para pengemis di kota ini.” Inilah keadaan kita, kurang pointer melihat mana yg diprioritaskan. Bagaimana tidak, belanja militer saat ini masih sekitar 780 milyar dollar per tahun. Padahal kelaparan dan kekurangan gizi di dunia bisa diatasi dengan 19 milyar dollar AS setahun. Kebutuhan akan tempat tinggal bisa diatasi dengan 21 milyar dollar setahun. Pandangan yang melihat bahwa hubungan antara orang ”atas” dengan rakyat sebagai sebuah tindakan budaya, akan memerlukan berbagai bentuk kemelek-hurufan budaya. Tetapi apa ini bukannya pembodohan yang amat berat bagi masyarakat. Apa ini bukan penindasan yang amat nampak disengaja oleh “orang atas” terhadap rakyatnya. Hidup tanpa strata, tentulah hampa. Harus ada yang disebut miskin agar ada sebutan orang kaya. Harus ada sebutan rakyat agar ada yang namanya pemerintah. Harus ada murid agar ada guru. Begitulah seterusnya. Tapi relasi antar strata itu bukan untuk saling duduk-menduduki. Relasi yang muncul adalah antara atap dengan tiangnya. Tiang harus setia mendukung dan menopang atap. Agar atap senantiasa melindungi tiang-tiang alit dari panasnya matahari, derasnya hujan, juga melilitnya usus. Tapi atap mbok ya nyadar diri. Tidak usahlah sok di atas lalu takabur. Mentang-mentang berkuasa ketemu tiang tidak nyapa. Hati-hati loh dengan tiang, do’a makhluk teraniaya itu maqbul. Permohonan mustadz’afin itu Ijabah sekali. Kalau saja seluruh tiang ini berdoa secara kolaborasi, dengan khusyu’ dan penuh ketundukan, bermunajah dengan berjama’ah, dalam perutnya yang tertindas ia mendendangkan doa-doa dengan tawadhu’ di depan Tuhannya, hingga lelap tertidur. Yang menopang kamu telah terlelap, robohlah tiang penyanggahmu. Tamatlah kemapananmu.

Relevansi Aksi

KETIKA HARUS TURUN KE JALAN

Demonstrasi salah satunya, masih dianggap cukup relevan dalam mengubah kebijakan. Pada akhir tahun 80-an/awal tahun 90-an begitu sulitnya mengajak mahasiswa untuk berdemonstrasi.

Ini bisa dipahami karena setelah Peristiwa Malari dan Gerakan Mahasiswa 1978, mahasiswa dibungkam. Menteri P&K saat itu, mengeluarkan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/ Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK).

Dengan kebijakan itu, dewan mahasiswa dibubarkan, dan yang tersisa hanyalah unit kegiatan mahasiswa dan senat fakultas, serta himpunan mahasiswa jurusan.

Kasihan sekali melihat mereka saat itu. Tapi beberapa tahun kemudian hal itu berubah secara dramatis. Bahkan, bisa dikatakan bahwa gerakan mahasiswa seakan tak pernah absen dalam menanggapi setiap upaya depolitisasi yang dilakukan penguasa. Terlebih lagi, ketika maraknya praktek-praktek ketidakadilan, ketimpangan, pembodohan, dan penindasan terhadap rakyat atas hak-hak yang dimiliki tengah terancam.

Kita sama-sama mengetahui ragam bentuk perlawanan yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa lebih merupakan kontrol atas perilaku-perilaku politik penguasa yang dirasakan telah mengalami distorsi dan jauh dari komitmen awalnya dalam melakukan serangkaian perbaikan bagi kesejahteraan hidup rakyatnya.

Peranan mahasiswa menjadi begitu penting dan berarti tatkala berada di tengah masyarakat. Saking begitu berartinya, sejarah perjalanan sebuah bangsa pada kebanyakkan negara di dunia telah mencatat bahwa perubahan sosial (social change) yang terjadi hampir sebagian besar dipicu dan dipelopori oleh adanya gerakan perlawanan mahasiswa.

Konsep Dosa Dan Pahala

Sekarang ini masyarakat masih banyak tidak faham peranan ibadah, oleh sebab itu kita saksikan di masyarakat walaupun banyak shalat, sering puasa, rajin shodaqoh, sering pergi umrah tapi sifatnya tidak berubah.

Padahal Allah tidak memandang banyaknya ibadah, tetapi lebih pada efek dari ibadah itu. Artinya bila dengan amalan lahir itu tidak timbul rasa cinta pada Allah, tidak terasa malu dan takut pada Allah maka ibadah yang banyak tidak ada nilainya. Sebaliknya walaupun hanya mengerjakan yang fardhu tapi terasa pengaruh dari ibadahnya itu, maka itu sudah cukup.

Sebab itu dalam beribadah jangan mengejar fadhilat (pahala). Misal, shalat Dhuha agar mendapat pahala berlipat. Pahala itu hanya tambahan. Kita kiaskan begini, orang yang mendapat gaji di kantor. Kadang-kadang gaji yang pokok hanya sedikit, misal 500 ribu. Tapi kalau lembur dapat 1 juta. Yang 1 juta itulah fadhilat.

Tapi jika kerja pokok tidak dilaksanakan, apakah akan dapat bonus yang 1 juta? Kalau kita kiaskan, orang yang mengejar fadhilat dengan shalat sunat, sedangkan ibadah fardhu tidak memiliki efek sama sekali bagi perubahan sifatnya. Itu artinya orang yang mengejar fadhilat tertipu.

Seorang rentenir kampung dengan ‘khusyu’nya’ mendengar khutbah jum’at yang membahas tentang pahala membaca Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, serta An Naas masing-masing dibaca tujuh kali tiap habis sholat jum’at.

Sang khotib dengan lantang menyampaikan “barang siapa yang membaca Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, serta An Naas masing-masing dibaca tujuh kali tiap habis sholat jum’at, maka semua dosanya diampuni selama tujuh hari yang lalu serta tujuh hari yang akan datang.”

Dengan wajah cerah rentenir kampung sabar membaca surat-surat tersebut usai sholat. Saya yakin dia membaca dengan niat tulus agar dosa-dosanya diampuni. Yang telah lalu, maupun yang akan datang.

Bagaimana Anda melihat itu sebagai persoalan agama?. Atau persoalan moral?. Tuhan Maha Pengampun dengan segala maghfirahNya. Tapi Tuhan juga Maha Adil dengan segala kebijaksanaanNya. Allah menciptakan konsep dosa dan pahala bukan dalam rangka mengajak kita untuk bertransaksi jual beli, atau bisnis untung-untungan dengan Allah.

Kalau kita beribadah dalam rangka mencari target pahala, rasanya kita ini pedagang pemburu laba terhadap Allah. Padahal nikmatNya telah kita rasakan tanpa hingga.

Tuhan tidak menciptakan konsep hadiah dan sanksi berupa pahala dan dosa untuk menjadikan ajaranNya menjadi tidak adil kepada manusia. Dia menciptakan itu untuk menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami manusia tentang adanya ganjaran yang diberikan bagi hambaNya yang mengerjakan kebaikan maupun yang melanggar laranganNya.

Saya pernah mendengar seorang ustadz dengan gaya sindirannya mengemukakan hal yang sangat sederhana. Beliau menyampaikan,”Sekedar senyum seorang istri kepada suaminya, Allah menggantinya dengan pahala seperti sholat terawih”.

Kemudian dengan senyum sinis beliau melanjutkan,”Bagi wanita yang bulan Ramadhan berhalangan sholat terawih, cukup senyum sajalah..”Fatwa beliau saya pandang sebagai otokritik terhadap sebuah tradisi mementingkan pahala daripada nilai serta efek dari sebuah ajaran.

Pahala memang adalah idaman luhur dari umat islam. Tetapi pahala barulah sebuah terminal dalam perjalanan spiritual menuju Allah. Pahala itu kita singgahi sebelum menuju suatu ujung perjalanan cinta terakhir. Siapa lagi kalau bukan Allah.

Anarkis

Harus sabar dalam meladeni anak-anak muda seperti kami. Karena memang gampang-gampang susah. Usia muda biasanya selalu penuh gairah untuk selalu menganalisa, mengkritik, menggunjing, serta mengintip aurat-aurat kehidupan.

Maklumlah, saat inilah mereka harus dinamis, harus hiperaktif, rajin memuntahkan ide-ide, harus penuh semangat dan kritis menghadapi kaum tua yang sudah merasa banyak makan asam garam gula serta sambal kehidupan ,mencoba mengingatkan beliau-beliau yang merasa telah merasakan segala rasa yang ada di dunia. Anda tidak perlu tertawa sinis menyambut anak muda yang mencari nafkah seratus rupiahpun belum pernah tapi dengan gagah telah bicara kebobrokan ekonomi makro dunia.

Waktu lagi pulang kampung, saya biasanya menyempatkan cangkruan bersama orang-orang tua depan rumah.
Mbah Denan sempat titip saran kepadaku,”Rif, besok kalau balik ke Surabaya, bilang ke teman-temanmu mahasiswa. Tidak usah lah demo-demo lagi. Nggak usah repot-repot teriak depan kamera tipi. Tidak ada gunanya semua itu. Hanya bikin suasana tambah rumit. Sumber kemacetan, perusak pagar, mengganggu ketenangan lalu lintas, main dorong-dorongan dengan polisi. Belajar sajalah yang bener. Baru perjuangkan nasib bangsamu”

”Begini mbah Denan” Saya mencoba membela kaumku di depan kaum tua dari kampungku itu.”Aksi bagi mereka bukan sekadar sarana untuk menuntut atau memprotes sesuatu, tetapi juga sangat penting untuk meningkatkan militansi dan radikalisme mereka. Aksi berfungsi sebagai pendidikan politik yang kongkret. Melalui aksi, mahasiswa dihadapkan secara langsung tentang realitas yang sesungguhnya. Jika tuntutan aksi tidak dipenuhi, mereka mendapat pelajaran bahwa pemerintah tidak akomodatif, tidak mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat. Bila aksi berhasil, mereka akan memperoleh pelajaran bahwa metode aksi ternyata efektif untuk memperjuangkan sesuatu. Dan merekapun tersenyum. Soal dorong-dorongan dengan polisi itu, memang tidak seharusnya terjadi. Idealnya menyampaikan pendapat harus dengan santun, dengan mau’idhotul hasanah, tapi yang menjadi satu alasan mereka anarkis adalah karena media di Indonesia sudah dikuasai oleh kapitalis. Yang dicari media sekarang bukan nilai yang terkandung dari berita, tetapi menarik tidaknya, laku tidaknya, atau menguntungkan atau tidak kalau peristiwa itu diangkat. Kalau cuma demo kecil-kecilan dengan baca puisi, menyanyikan lagu perjuangan, bawa spanduk, jadi kayak lomba kesenian anak SD lah mbah,atau demo diganti debat di ruang tertutup, media tidak akan tertarik, akhirnya yang didemo tidak tahu kalau ada pendemo yang menentangnya. Kalaupun tahu, mereka akan cuek karena dianggap hanya melibatkan sedikit personal, semua masyarakat tidak akan ikut-ikutan mendukungnya. Gitu ceritanya mbah,,,”

Mbah Denan bengong,,”Ngomong opo ae toh lee,,”

« Newer Posts - Older Posts »