Seorang Arab kampung datang kepada Muawiyah ibn Abi Sofyan dengan pakaian yang sangat kumal. Ternyata karena alasan itu Muawiyah pun tidak mempedulikan kehadirannya.
“Ya Amirul Mukminin,” kata orang Arab Kampung itu. “Bukanlah pakaian yang mengajak anda berbicara tuan! Yang mengajak tuan bicara adalah manusia yang berada di dalam pakaian ini!”.
Arab Kampung itu kemudian berbicara panjang lebar tentang berbagai masalah dengan tingkat keilmuan yang tinggi. Tutur kata dan bahasanya indah. Muawiyah tak menyangkanya sebelumnya.
Usai berbicara, Arab Kampung itu keluar dan pergi meninggalkan istana tanpa meminta suatu apapun.
Muawiyah pun berkata, “Aku belum pernah melihat seseorang yang pada awalnya sama sekali tak kuhargai, namun pada akhirnya ia begitu mulia di mataku”.
♥♥♥
Ketika masih berada di kelas empat Madrasah Ibtidaiyah (setara SD), saya memperoleh pelajaran hidup yang sungguh berharga: jangan mudah meremehkan orang lain dari penampilannya.
Saat itu saya sangat hobi bermain ke Pasar Wage. Itu adalah nama pasar di kampung sebelah yang buka tiap 5 hari sekali (Wage). Nah, di jalan masuk pasar itu, ada seorang tukang sol sepatu. Biasa, dari segi penampilan, tak ada yang unik, penampilan seadanya, pakaiannya kotor oleh debu-debu jalanan. Tetapi sungguh wajahnya meskipun kotor, tapi cerah. Diam-diam saya sambil lewat masuk maupun keluar pasar selalu memperhatikan Bapak tukang sol sepatu ini. Saya memang sejak lama percaya, bahwa orang shalih selalu memancarkan aura positif dari wajahnya.
Dan benar. Secara tak sengaja salah seorang teman yang kebetulan mondok di pesantren bercerita, bahwa bapak tukang sol sepatu itu adalah salah satu ustadz yang mengajar di pesantrennya. Teman itu pun bilang bahwa tukang sol sepatu itu adalah seorang hafidz (hafal Al Qur’an).
♥♥♥
Saya berulang kali menunduk syukur kepada Allah, sungguh karunia yang luar biasa, sejak kecil saya dipertemukan dengan banyak manusia mulia. Beberapa manusia luar biasa itu adalah para guruku di MI Islamiyah. MI tempat saya belajar itu bukanlah sekolah elit. Hanya MI kecil, terletak di kampung terpencil pula. Ah, jangankan gubernur, bupati saja belum tentu mengenal nama kampung yang juga dipimpinnya itu.
Namun saya bangga dan merasa beruntung bisa bersekolah di sana. Di sekolah itu saya memperoleh banyak teladan tentang keikhlasan. Jika mengenang mereka (para guru MI itu), saya mendadak melankolik. Bagaimana tidak, semua dari kami sadar betul bahwa gaji yang mereka terima dari hasil mengajar di sekolah itu tak mungkin cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ah, jangankan untuk mencukupi kebutuhan hidup. Untuk biaya bensin untuk pulang pergi tiap hari saja saya yakin akan tekor. Harap tahu, jarak rumah mereka dengan MI itu relatif jauh. Apalagi pas musim hujan. Terpaksa mereka harus menempuh jarak yang jauhnya tiga kali lipat dari jalan pintas, karena saat musim hujan jalan pintas menuju kampungku tak bisa dilewati kendaraan.
Tapi jangan ragukan bagaimana semangat mereka dalam mengajar. Mereka mengajar kami dengan sungguh-sungguh dan sangat antusias, tak ada sedikitpun rona keterpaksaan di wajah mereka. Bagaimana mereka bisa dengan ceria mengajar kami, seolah lupa dengan kesulitan ekonominya?. Seolah segala kebutuhan mendasar hidupnya telah tuntas. Padahal, sungguh, kami benar-benar tahu, bahwa mereka bukan orang kaya. Ya, jika kekayaan dipandang dari segi materi, mereka jauh dari predikat kaya. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, kebanyakan dari mereka mencari pekerjaan lain. Ada yang menjahit, ada yang bertani, ada yang mengajar di tempat lain.
Kami sadar, nama mereka tak dikenal di negeri ini. Tak ada yang kenal mereka kecuali warga kampung dan kami para muridnya. Tapi mereka mulia dalam ketidakpopuleran. Mereka mutiara yang tersimpan. Mereka manusia mulia yang terpendam dari buku-buku biografi sejarah. Dan jujur, diam-diam saya lebih bangga kepada mereka daripada para dosen maupun para professor di kampus saya saat ini.
Bagiku, merekalah lu’lu’il maknun, mutiara yang tersimpan. Sayang, mereka tak terjangkau media. Sayang, tinta emas tak bersedia menulis nama mereka di lembar buku sejarah, menjadikan mereka sebagai teladan manusia inspiratif. Alasannya sederhana, budaya jurnalistik dan pers kita lebih menghargai prestasi yang tertampilkan dalam kompetisi-kompetisi tingkat nasional, baru dihargai. Budaya masyarakat kita lebih menghargai manusia berdasar banyak standar-standar fisik: prestasi akademik, deret gelar, tingkat pendidikan, popularitas, tingkat kekuatan finansial, karya-karya ilmiah, dan banyak lagi standar formalitas yang lain. Maka wajar jika para manusia mulia itu tak mungkin masuk dalam deretan nama yang layak ditulis oleh tinta emas sejarah. Deret gelar mereka tak punya. Bahkan kebanyakan mereka adalah lulusan pesantren yang gelar terakhir yang disandangnya adalah santri. Kekayaan apalagi. Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari mereka harus bertani dan menjahit.
♥♥♥
Ada tukang bakso yang memiliki kebiasaan unik. Setiap menerima uang dari pembeli bakso darinya, ia menyimpan uang itu di tiga tempat. Sebagian di laci gerobaknya, sebagian di dompetnya, dan sisanya ke kaleng bekas tempat roti. Ketika ditanyaapa alasannya, jawabannya membuat kita tertunduk malu.
“Uang yang masuk dompet itu, “ Penjual bakso itu menjelaskan alasannya, “adalah hak keluarga dan anak-anak saya. Uang yang di laci itu untuk zakat, infaq, qurban, dan yang sejenisnya. Sedangkan yang di kaleng itu untuk nyicil biaya naik haji. Insyaallah sekitar dua tahun lagi bisa mencukupi untuk membayar ONH. Mudah-mudahan ongkos haji naiknya tidak terlalu, sehingga saya masih bisa menjangkaunya”.
Sekali lagi, banyak manusia mulia yang tersimpan di balik layar sejarah. Mereka tak mengharap puja-puji manusia. Mereka hanya ingin mulia di depan Tuhannya. Mereka merindu untuk segera tidur di atas dipan bertahtakan emas. Mereka merindu hidup bersama bidadari-bidadari surga bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan. Lu’luil Maknun.
Ada kisah dari Emha Ainun Najib. Suatu hari Cak Nun ingin membeli jagung bakar dalam jumlah banyak, untuk dia dan kawan-kawannya. Padahal uangnya tidak cukup. Si penjual jagung malah berkata, “Kalau sampeyan cuma punya 75 rupiah untuk satu jagung, ya tidak apa-apa lah. Silahkan ambil. Tapi harganya tetap seratus rupiah lho ya”.
“Lho, bagaimana sih Pak?” Tanya Cak Nun bingung.
Penjual jagung itu menjawab, “Kekurangan sampeyan yang dua puluh lima rupiah itu adalah keuntungan saya di akhirat nanti.”.
♥♥♥
Lu’luil Maknun. Mungkin banyak dari kita yang tertunduk malu pada mereka. Ketika yang lain mendamba kuasa, mereka justru gemetaran menerima amanah. Ketika masih banyak dari kita yang tak ada puasnya memburu harta dengan beragam cara, mereka menolaknya atas nama kejujuran. Ketika banyak dari kita yang memburu popularitas, tak terbesit dalam jiwa mereka untuk dikenal banyak orang dan diketahui jasa-jasa mereka. Mereka tidak tertarik dengan puja-puji dari manusia. Mereka tak tertarik untuk dikenal oleh banyak manusia. Mereka hanya ingin dikenal sebagai hamba yang mulia oleh Tuhannya.
Semoga kita tak lagi merasa rendah saat berhadapan dengan orang yang hartanya lebih banyak, gelarnya lebih berderet, atau jabatan dan popularitasnya lebih tinggi. Karena bagi Allah, bukan ukuran-ukuran semacam itu yang menjadi tolok ukur kemuliaan manusia.
Semoga mulai saat kini kita juga tak mudah menganggap remeh orang-orang yang dari penampilan fisik mungkin sangat sederhana. Karena tak jarang orang-orang baik lahir dari orang-orang yang sederhana. Mereka tidak menampakkan kebaikannya. Mereka kadang berusaha mati-matian merahasiakan prestasinya. Mereka menyembunyikan kebaikan dan prestasi yang telah diperoleh dengan alasan takut riya’, takabur, atau ujub. Mereka takut niatnya untuk berbuat baik terkotori oleh sikap-sikap hati yang salah.
Ya, jangan takut tak memiliki eksistensi dalam lembar sejarah dunia. Karena lembar sejarah akhiratmu tak akan pernah melewatkan manusia-manusia mulia yang mengikhlaskan dirinya meniti jalan-Nya. Jika rangsangan untuk menampilkan potensi diri dikhawatirkan akan timbul riya’, ujub, takabbur, dan segala sifat-sifat kotor yang lain, yakinlah, bahwa di hadapan Allah, mutiara tetaplah mutiara. Tersimpannya mutiara tak mengurangi harga mutiara itu.
Tugas kita dalam hidup cukuplah sederhana, berusahalah untuk menjadi mutiara. Mutiara yang berharga menurut Allah.

mas sampean ngesir luluk ta? cie2
impressive cak, inspiring.