Judul : Sukses Tanpa Sarjana
Penulis : Ahmad Rifa’i Rif’an
Penerbit : Marsua Media
Tebal : 200 halaman
Harga : Rp. 25.000
Hal apa yang paling diinginkan semua umat manusia? Jawabannya adalah sukses. Sukses telah menjadi impian setiap manusia. Berbagai jenis pendidikan diambil, beragam usaha dikerjakan, beragam jenis pekerjaan ditekuni demi mencapai kesuksesan.
Sayangnya, meski semua manusia ingin sukses, tidak semuanya memahami apa itu makna dari kesuksesan. Tidak sedikit yang masih menganggap kesuksesan identik dengan punya harta banyak, popularitas melangit, duduk di kursi empuk kekuasaan, dan lain-lain. Padahal begitu banyak orang kaya (secara materi), populer, maupun pangkatnya tinggi yang hidup dalam stres, depresi, bahkan meninggal dengan cara bunuh diri.
Lalu, apa sebenarnya indikator seseorang bisa disebut sebagai orang sukses?. Buku setebal 200 halaman ini memberikan pemaknaan tentang sukses dengan sangat gamblang. Penulis mencoba menjernihkan definisi sukses melalui tingkatan kesuksesan hidup yang disebutnya sebagai kelas-kelas sukses.
Penulis mengungkapkan bahwa kelas terendah kesuksesan hidup adalah materi. Kelas ini termasuk di dalamnya berisi harta, tahta, popularitas, intelektualitas, kreatifitas, dan sejenisnya. Intinya ia lebih bersifat egosentris. Kelas ini bisa mengangkat manusia pada sebuah kelas yang ‘elit’ di komunitasnya. Jika manusia bisa mengendalikannya, maka potensi untuk mencapai tangga sukses yang lebih tinggi akan semakin mudah. Tapi jika tak bisa mengendalikan, maka kelas pertama ini tak banyak berperan untuk menggapai tujuan hidup yang lebih tinggi.
Kelas pertama ini hanyalah tangga terendah. Bahkan berapa banyak manusia yang telah meraih kaya, popularitas melangit, intelektualitas tak diragukan, tapi hidupnya justru berakhir di rumah sakit jiwa, bahkan tak sedikit yang mengakhiri hidupnya dengan cara tragis. Karena hati mereka hampa dalam gemerlap kilau materi.
Kelas sukses kedua adalah bahagia. Ia jauh lebih tinggi dari tangga pertama yang hanya terjangkau secara inderawi dan bersifat fisik semata. Kebahagiaan adalah suasana damai di jiwa. Ia tak berasal dari harta berlimpah, ia tak berasal dari pangkat yang tinggi, bukan juga dari popularitas. Bahagia akan lahir dari ikhlas dan syukurnya hati terhadap segala hasil yang dicapai dalam kehidupan.
Bahagia tapi hanya untuk diri sendiri tentu belum cukup. Manusia yang mulia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Maka kelas sukses berikutnya adalah bermanfaat bagi manusia lain. Maka kesuksesan sebenarnya adalah bagaimana agar dalam setiap hembusan napas kita senantiasa menjadi rahmat bagi sekitar kita. Kedatangan kita membawa kebaikan dan senantiasa membuat orang lain tersenyum, dan kepergian kita ditangisi setiap orang karena sang pahlawan telah tiada. Inilah orang-orang yang akan memperoleh ganjaran berupa tangga sukses keempat, sukses abadi.
Ya, penulis mengungkapkan dengan tegas bahwa kelas sukses tertinggi adalah kelas sukses keempat yaitu kesuksesan yang abadi. Yang tak lenyap sampai kapan pun. Jika kelas sukses satu hingga tiga berakhir saat usia kita telah berakhir, maka kelas keempat ini yang menjadi penentu, apakah kau benar-benar sukses dalam hidup di dunia. Kesuksesan yang abadi, saat kita menginjakkan kaki di pelataran surga. Saat itulah kau benar-benar sukses. Sukses yang tidak pernah usai sampai kapanpun. Kesuksesan yang tidak pernah berakhir oleh kematian sekalipun.
Dengan pemaknaan sukses seperti yang dituliskan dalam buku ini, maka sesungguhnya sukses itu hak semua orang. Semua manusia dibekali oleh Tuhan sejak lahir untuk bisa meraih prestasi tertingginya. Sukses bukan hanya milik sarjana. Bukan pula milik anak pejabat. Semua orang berhak untuk sukses.
Sukses Tanpa Sarjana, sangat layak untuk menjadi salah satu bacaan, karena buku ini menyentuh sisi motivasi pembaca untuk berprestasi tanpa menunggu lulus sarjana. Kalau sebelum wisuda sudah bisa sukses, mengapa harus menunggu hingga lulus?.


bang rifai kok belum ada bukunya di gramedia padang ya …