“Wong Lamongan nek rendeng gak iso ndodok,
nek ketigo gak iso cewok“
Pada zaman kolonial Belanda, Lamongan ternyata terbebas dari politik Tanam Paksa (cultuurstelsel). Meskipun sepertinya kebijakan itu cukup menguntungkan bagi Lamongan, namun sesungguhnya hal itu mengungkap satu fakta yang menyedihkan. Ya, pada saat itu, secara ekonomi Lamongan termasuk salah satu daerah yang dianggap tak menguntungkan. Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial Belanda itu memang disebabkan kondisi tanah Lamongan yang kurang subur.
Di akhir abad ke-20, Lamongan masih diacuhkan. Lamongan tidak banyak dikenal. Lamongan hanya diketahui orang sebagai daerah yang miskin, tidak berprestasi, dan terbelakang.
Bahkan di Tahun 1970-an sampai awal tahun 1990-an, masyarakat Jawa Timur mengenal Lamongan sebagai daerah paling miskin nomor dua di Propinsi Jawa Timur setelah Kabupaten Pacitan.
Ya, setelah ditinjau dari alamnya, Lamongan dan Pacitan ternyata memiliki karakteristik yang sama, yaitu keduanya berada di daerah pesisir yang salah satu sisinya diapit oleh gunung kapur yang tandus, yang sangat sulit untuk ditanami tanaman pertanian.
Orde Baru pun yang sering mengklaim sebagai Orde Pembangunan ternyata tak kuasa menjulurkan tangan pembanguannya di Lamongan. Di zaman Orba, tanaman pertanian milik penduduk Lamongan sering mengalami kegagalan panen dalam setiap tahunnya. Pada musim penghujan kegagalan disebabkan karena hujan, sedang pada musim kemarau kegagalan panen lebih disebabkan karena kekurangan air dan terserang hama.
Bahkan kondisi itu menyulut berkembangnya pameo klasik yang menyindir, “Wong Lamongan nek rendeng gak iso ndodok, nek ketigo gak iso cewok “
Maka tak heran, jika lantas lebih dari separuh penduduk Lamongan berada di bawah garis kemiskinan. Prosentase keluarga miskin di Kabupaten Lamongan pada tahun 1999 yang mencapai 50,74 %. Bahkan dua tahun sebelumnya, prosentase keluarga miskin mencapai 54,02 %.
Memasuki millenium baru, fajar kebangkitan terbit. Ditandai dengan terpilihnya Masfuk sebagai Bupati Lamongan. Lamongan mulai menunjukan perubahan yang signifikan. Kabupaten Lamongan tiba-tiba melejit menjadi daerah yang maju. Terobosan demi terobosannya dalam pembangunan sering menjadi perbincangan nasional. Dimulai dari pembangunan Wisata Bahari Lamongan (Lamongan Ocean Tourism Ressort), kemudian Lamongan Integrated Sharebased, yang mempunyai visi untuk menyediakan sentra logistik terpadu bertaraf internasional di Tanjung Pakis, Kabupaten Lamongan. PKL yang dulunya tersebar tak terurus kini tertata dengan rapi. Kelancaran jalan-jalan desa dan pengairan ditata sedemikian rupa. Bahkan mulai 2005, Lamongan mencetuskan program Beasiswa bagi siswa dan mahasiswa berprestasi yang ekonominya kurang beruntung, dengan harapan para generasi pelajar ini nanti setelah menyelesaikan studinya mereka bisa kembali dan menyumbangkan pikiran dan kemampuannya demi kemajuan Lamongan.
Lalu apa tujuan buku ini ditulis?. Sebelum menjawab itu, ijinkan saya mengajukan kalimat tanya, berapa banyak anak muda Lamongan yang begitu cinta kepada Lamongan sehingga rela mengabdikan diri tanpa pamrih, ikhlas untuk memperjuangkan kemajuan Lamongan agar menjadi kota yang bisa dibanggakannya?.
Saya tak tahu pasti apa jawabnya. Yang jelas, sampai sekarang kita masih dengan mudah menyaksikan anak-anak muda Lamongan yang telah merantau ke luar kota, ke kota-kota besar, setelah mereka sukses di sana, mereka enggan untuk kembali ke tanah kelahirannya, Lamongan.
Cinta. Agaknya rasa itu yang perlu ditumbuhkan dari para generasi kita. Karena ketika cinta telah bicara, jangan tanyakan pengorbanan yang akan diberikan oleh sang pencinta. Ia pasti akan rela mengorbankan apapun untuk yang dicintainya.
Aku Cinta Lamongan. Saya berharap buku ini memberi kita sedikit alasan, mengapa Lamongan menjadi tanah yang layak kita cinta. Semoga ebook ini menginspirasi lahirnya generasi-generasi baru yang siap memberikan kontribusi terbaiknya bagi Lamongan. Sehingga Lamongan benar-benar berkilau, cemerlang, dan bercahaya, sebagaimana translate namanya dalam bahasa Arab, Lam’an, yang artinya memang berkilau, cemerlang, bercahaya.
Ah, semoga harapan itu tak terlalu melangit. Jika anda lahir di Lamongan dan kini telah jadi ‘orang’ di kota-kota lain dan hanya pulang ke kampung halaman setahun sekali, yaitu saat lebaran, harapan saya, semoga anda tetap mengenang Lamongan sebagai kota yang anda rindukan.
Ebook Aku Cinta Lamongan sengaja dibuat berseri mengingat begitu banyak bab yang dibahas nantinya. Untuk seri pertama ini kebanyakan masih menjabarkan sejarah lahirnya Lamongan. Seri selanjutnya menyusul mengiringi terbitnya versi cetaknya.
Silahkan download ebooknya di sini

Lam’an… Rif’an temenku sekelas, adik kelasmu, pernah cerita di kelas, Lamongan dulu diberi nama Lam’an setelah ‘seseorang’ (lupa siapa :p) berada di tempat belum ada namanya dan melihat bintang jatuh karena terangnya, indahnya, bintang tersebut. Itulah mengapa diberi nama Lam’an… Dan sekarang lebih dikenal Lamongan…
Nice story…