Manusia. Agama. Budaya. Kesehatan. Pendidikan. Paling tidak itulah lima hal di dunia ini yang sejatinya haram dikomersilkan. Tapi lagi-lagi keserakahanlah biang keroknya. Uang mengalahkan nurani, sehingga tak lagi susah menjumpai manusia berhati kanibal, yang dengan kejamnya memperdagangkan manusia. Uang mengalahkan rasa malu kepada Tuhan, sehingga agama yang seharusnya menjadi media pendekatan kepada-Nya, justru menjadi komoditi untuk memperkaya diri. Budaya yang seharusnya dipelihara untuk memperkaya khasanah suatu bangsa, namun dengan hebatnya segelintir manusia menukarnya dengan recehan rupiah. Kesehatan yang seharusnya menjadi hak mendasar manusia, tapi di negeri ini rumah sakit, dokter, puskesmas, klinik, bahkan mantri lebih menganut petuah ‘orang miskin dilarang sakit’. Pendidikan yang seharusnya menjadi hak warga negara, tapi kini menjadi komoditas yang sangat prospektif untuk mengeruk rezeki. Kali ini kita fokus membahas yang terakhir.
Tak susah mencari dasar betapa serius Islam mewacanakan pentingnya pendidikan. Lihatlah wejangan Kanjeng Nabi berikut, “Kelebihan orang yang berilmu atas ahli ibadah ialah seperti kelebihan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang-gemintang.” (HR. Ibnu Majah). Silahkan membaca ulang sejarah, ulama’ masa lalu telah berusaha keras mengamalkan wejangan sang Rasul. Mari kita amati bagaimana khalifah Al-Makmun memikat hati rakyatnya untuk cinta membaca. Al-Makmun mendorong penerjemahan berbagai karya filsafat dan ilmu pengetahuan Yunani dan Syria ke dalam bahasa Arab. Ditambah sarana perpustakaan yang punya koleksi buku lengkap, tempatnya nyaman, bahkan dapat makan dan bisa fotocopy tulisan dengan gratis. Hasilnya, mayoritas masyarakat jadi kecanduan membaca dan melahirkan banyak pemikir Islam.
Sekarang?. Hmm.. Negeri kita yang kaya sumber daya alam, gemah ripah loh jinawi, ternyata masih terpuruk dalam banyak aspek, termasuk pendidikan. Data International Association for Evaluation of Educational (IEA) menempatkan Indonesia di urutan ke-29 setingkat di atas Venezuela dalam hal kemampuan membaca murid-murid sekolah dasar kelas IV dari 30 negara di dunia. Begitu juga dengan studi yang dilakukan Vincent Greannary yang dikutip oleh World Bank dalam sebuah Laporan Pendidikan “Education in Indonesia from Crisis to Recovery” tahun 1998. Hasilnya, kemampuan membaca anak-anak kelas VI sekolah dasar kita hanya mampu meraih kedudukan paling akhir dengan nilai 51,7 setelah Filipina (52,6), Thailand (65,1), Singapura (74,0), dan Hongkong (75,5). Benar-benar malu-maluin!
Apa penyebab utama dari semua itu?. Kalau masih ada yang bilang karena minat baca dan belajarmasyarakat yang masih rendah, silahkan jawab, “Apa yang mau dibaca?. Jangankan untuk membeli buku-buku berkualitas, bahkan untuk makan sehari-hari saja susahnya minta ampun. Jangankan untuk mengenyam pendidikan sekolah, bahkan untuk mencukupi kebutuhan mendasar, sandang, pangan, dan papan saja sulitnya amit-amit. Jangankan kuliah dengan lancar, bahkan untuk bayar kost aja nunggak berbulan-bulan”
Segelintir orang yang bercokol di birokrasi pendidikan lebih bangga jika diakui sebagai sekolah berstandar internasional. Tak ketinggalan yang di kampus pun lebih getol menggalakkan program-program yang membuat kampusnya bersaing di tingkat internasional. Meski harus mengatrol biaya pendidikan setinggi mungkin. Meski harus berkompromi dengan pusat untuk memutus subsidi pendidikan secara perlahan. Meski menjerat leher mahasiswa miskin dengan biaya kuliah yang semakin tak terjangkau keadaan ekonomi mereka. Ya, pendidikan kini lebih layak dijadikan komoditas perdagangan yang pertimbangan utamanya tentu saja perhitungan untung rugi.
(Tulisan ini telah dimuat di Majalah PEGON)

majalahe arek2 koms ya haha