Berdebat tanpa amal sungguh saya benci. Apalagi hanya mengenai gengsi diri.
Kalimat itu memang cukup baru bagiku yang selama ini menjadi salah satu penikmat beasiswa sejak usia sekolah hingga saat ini.
‘Beasiswa itu racun’ menjadi kalimat penohok jiwaku yang selama ini bisa kuliah dari ‘belas kasih’ pemberi beasiswa. Kalimat itu begitu pahit sebelum bisa kucerna dengan sikap bijak. Ya, kalimat itu memang begitu pedas untuk didengar.
Tapi tak begitu butuh waktu lama untukku sadar, bahwa tak selamanya yang pahit itu harus dimuntah. Tak selamanya yang pedas itu tak bisa dinikmat. Terkadang kita butuh jamu yang cukup pahit untuk membantu menyembuhkan jasad yang lama sakit. Kita pun butuh sambal sebagai penghilang hambar dalam kuah sang bunda.
Beasiswa itu racun. Aku pun tersadar, bagaimana aku bisa mengerti makna mandiri, bahkan untuk memenuhi kebutuhan mendasar dalam hidup saja menunggu ‘disuapi’ dengan uang beasiswa. Bagaimana aku akan mengerti tentang makna perjuangan, bahkan hanya untuk menyelesaikan kewajiban menimba ilmu saja harus ‘merengek’dan memelas pada pemberi beasiswa.
Ketika data dari salah satu perusahaan multinasional mengungkap satu fakta yang makin memperkuat pendapat itu, bahwa 80% dari mahasiswa yang menyelesaikan studinya dengan diberi beasiswa, saat lulus mereka tidak mampu bertahan untuk hidup dengan mandiri. Ya, tahulah kita bahwa kebiasaan ‘diberi’ menjadi racun yang menggerogoti semandirian.
Tentu berbeda dengan mereka yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya sendiri saat kuliah dengan kerja keras. Mereka yang mampu mandiri sejak kuliah, saat lulus tentu lebih mudah menyesuaikan dengan realitas kehidupan yang memang tak manja. Ya, kehidupan ini tak manja, maka memanjakan mahasiswa dengan beasiswa-beasiswa adalah pilihan yang tak bijak.
Lalu solusinya?
Mudah. Ya, sangat mudah bagi yang mau berpikir. Saran saya wahai perisahaan, yayasan, kampus, sekolah, birokrasi, instansi, yang selama ini ‘baik’ kepada mahasiswa, hanya metode pemberian beasiswa saja yang butuh dipikir dengan baik. Alangkah indah jika beasiswa itu diberikan kepada mereka yang mau mengerjakan hal produktif, nah, beasiswa itu anda berikan kepada mereka sebagai ‘gaji’ yang mereka terima atas produktivitasnya. Singkatnya, jangan beri ikannya, tapi beri kailnya. Biar mereka sedikit berpikir caranya memancing iotu gimana. Biar mereka bisa sedikit paham, cara hidup itu gimana. Supaya mereka tidak kaget saat mereka diwisuda dari kampusnya.
Lihatlah saat ini. Penerima beasiswa ibarat burung dalam sangkar emas yang tiap hari hanya menunggu disuapi makanan sejak bayinya. Indah memang. Sangkarnya memang emas. Tapi begitu burung dilepas dari sangkarnya, ia akan kebingungan untuk mencari sumber hidupnya. Ia bingung, ketika ia harus berusaha mencari makan sendiri.Ia tak kunjung mandiri. Ia kalah dengan sang burung yang hidup di alam bebas sejak kecil.
Maka, teringat kalimat Pak Harvan dalam Laskar Pelangi, satu kalimat yang paling tepat bagimu wahai para penuntut ilmu. Hidup itu memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya’
Tidaklah sekali-kali seseorang makan makanan yang lebih baik daripada makan dari kerja tangannya sendiri,, (HR Bukhari)

Lha terus? kesimpulannya ku harus kerja gitu mas utk kuliah?
Bener jg seh mas,, kita harus terbiasa utk mandiri sejak skarang. Hidup tak manja..
Artikel yg bgs, Mas!
iya…betul…
manja…kpn qt bkal brubah klo dmanja terus..
cHance ouR seLf!!
Let’z try…
Tulisannya mengena banget.