
Ada kalimat yang selama ini menggema dari Catatan Pinggir Gunawan Muhammad, “Tuhan tidak butuh sembahyang manusia”.
Tak ada yang membantah kebenaran kalimat itu. Saya yakin. Bahkan jikapun seluruh makhluk-Nya tak ada yang menyembah-Nya, Ia tak ‘kan kehilangan Kuasa.
“Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (Adz Dzaariyaat : 57)
Tapi sayang, kalimat yang benar tidak selalu membuahkan kebenaran. Seperti Ali radhiyallahu ‘anh saat mengomentari Khawarij yang gemar menyelewengkan ayat, Ali berkata, “Kalimatu haqqin, wuridha bihal baathil.. kalimat benar yang dengannya termaksud kebathilan”.
Tak harus selalu bertentangan dengan Pak Gunawan Muhammad serta rekan-rekannya di komunitas Utan Kayu. Sebagaimana kita juga tak harus selalu sependapat dengan mereka. “Setiap orang bisa diterima atau ditolak kata-katanya” seru Imam Malik di Raudhah Masjid Nabawi, “Kecuali orang yang berada dalam kubur ini!” Beliau menunjuk ke arah makam Rasulullah.
Imam Malik benar, dan saya memilih tidak sependapat dengan Pak Gun yang gencar menyuarakan kalimat di atas. Kenapa? Ya, Pak Gun menggemakan Adz Dzaariyaat ayat 57 tapi menegasikan ayat 56 nya.
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz Dzaariyaat : 56)
Tulisan-tulisan komunitas Utan Kayu memang kritis. Kita akui itu. Referensi-referensinya juga luas. Kita juga paham itu. Tapi semua itu tak boleh menjadikan kita senantiasa taqlid pada pemahaman-pemahaman mereka tentang segala hal. Karena selama ini kita seringkali terjebak dalam ketertarikan tokoh, bukan pada apa yang disampaikannya.
Sejenak mari kita jadikan kalimat Pak gun di atas sebagai sample. Bukankah kalimat itu bisa mengungkap semangat yang pincang dari perintah beragama?. Yang diungkap oleh pak Gun hanya satu semangat saja, yakni ingin menyadarkan khalayak bahwa beragama tidak semata bergelut dengan ritual formal peribadahan. Pak Gun ingin menekankan bahwa beragama bukan dalam rangka melaksanakan ibadah untuk menyenangkan Tuhan. Tapi Pak gun mungkin tak memprediksi, bahwa kalimatnya itu memberi pemahaman lain pada khalayak awam, “Buat apa sembahyang kalau tuhan tidak butuh?”.
Nah, pemahaman rusak pun semakin menggejala. Bukan hanya pada masyarakat awam, tapi juga kaum intelektual yang berpikir bahwa tugas sosial lebih utama daripada sekedar ibadah-ibadah formal. Lahirlah para pembebas mustadz’afin yang meremehkan sholat. Muncullah para aktivis muslim yang tak pernah menyentuh Qur’an. Lahirlah sang pejuang kemanusiaan yang tak pernah merasai sejuknya puasa di siangnya Ramadhan. Sayang, bukan?. Padahal sang pejuang pembebas bumi dari penindasan tak terbebas dari kewajiban ritual menunaikan kewajiban mahdhah.






Saya suka baca tulisan ini, bisa membuka cakrawala berpikir yang baru. Tapi saya memilih untuk menilai tulisan orang lain dari berbagai aspek, kan kita kadang tidak tahu maksud yang sebenarnya dari sebuah tulisan.
Yang Anda kutib dalam tulisan ini kan hanya sebuah kalimat dari Gunawan Muhammad. Kalau ada, saya minta keseluruhan dari tulisan Gunawan Muhammad.
Saya menyuruh anak saya makan, bukan berarti saya yang butuh. Ngomong-ngomong, Gunawan muhammad itu siapa?