Salah satu pengertian “budaya” ialah tingkat-tingkat mutu ekspresi manusia. Kalau seorang suami marah kepada istrinya atau seorang bapak marah kepada anaknya, kita bisa mengukur tingkat kualitas budaya mereka dengan cara melihat pola ekspresi atau ”cara marah” mereka.
Harus diingat juga bahwa pols ekspresi itu sebagai indikator budaya manusia dan masyarakat,hanyalah salah satu dimensi belaka dari pengertian tentang budaya dan kebudayaan.
Pada kesempatan lain tentulah kita memerlukan uraian-uraian yang mengupas dimensi-dimensi lain.
Suku Asmat di Irian jaya ( Papua), ketika seorang warga mereka meninggal dunia, mereka menangis dengan puisi. Mereka meraung-raungkan syair yang musikal selama tiga hari tiga malam. Mereka memiliki pola dan kadar kebudayaan tertentu, dan muatan syair duka mereka sama sekali tidak kalah dari hasil karya manusia beradab yang mengenal agama-agama dan ilmu pengetahuan modern. Kita diajari untuk tidak bersikap arogan atau memandang rendah mereka hanya karena pakaiain dan peralatan hidup mereka sehari-hari yang masih primitif, sebab kadar keberbudayaan mereka lebih ditentukan untuk pola dan muatan ekspresinya.
Ketika Rasulullah Muhammad SAW dilempari batu dalam perjalanan dakwahnya di Eithopia, beliau pulang sambil mengucapkan do’a yang sangat puitis dan menunjukkan tingkat budaya yang berkualitas tinggi. Saya pribadi selalu mengkritik dan mengambang air mata saya setiap sekali mengucapkan do’a Rasul tersebut.
Ketika Khalifah ali bin abi Thalib dijepit oleh sayao kekuatan Muawiyah yang membelot serta ditikam dari belakang oleh kaum khawarij, beliau senantisa nersujud mengucapkan do’a-do’a yang penuh kedewasaan, kearifan, kelembutan, keadilan nurani serta mencerminkan kepribadian beliau sebagai seorang demokrat sejati yang mengambil posisi moderat demi memelihara ukhuwah.
Cara kita semua marah, cara kita bergembira dan bersedih, cara kita berdagang, cara kita menjalani lalu lintas perpolitikan, cara kita memimpin masyarakat dan negara, sesungguhnya mencerminkan tingkat mutu budaya kepribadian kita. Ketika kita menjalani mekanisme konglomerasi ekonomi yang steril dari nurani keadilan sosial, ketika kita menyelenggarakan kepemimipinan sosial politik yang terpusat pada egosentrisme dan subyektivisme diri maupun kelompok, serta ketika kita menjalankan roda keagamaan dengan siakap ”benar sendiri” dan ”menang sendiri”, sehingga keakhlian kita adalah menajis-najiskan dan membuang orang lain yang kita anggap kotor sesungguhnya meamantulakn tingkat keberbudayaan kita.
Bisa saja kita berperan sebagai pemimpin negara yang dipuja-puja karena kepakaran strategis dan taktis, atau sebagai pemuka sosial, pemuka kaum beragama yang dijunjung-junjung: ternyata dalam prespektif budaya kita masih menyimpan kadar-kadar budaya primitif yang serius namun tidak kita sadari.
Anak-anak kita begitu lulus ujian akhir langsung mendemonstrasikan cara-car kurang berbudaya untuk bergembira dan bersyukur. Merekas mencorat-coret baju mereka, berpesta pora, minum-minuman keras, atau bahkan berkelahi satu sama lain.
Renungkanlah: untuk bergembira saja mereka tidak mapu menemukan bentuk yang pas dan pantas. Renungkanlah, betapa kita telah gagal mendidik anak-anak kita bagaimana cara bersyukur yang berbudaya.
Karena itulah, sering kita mendengar bahwa ”kesenian itu gunanya untuk mengasah hati nurani kita dan kehalusan budi”. Dua hal itu merupakan nukleus dari ”budaya”.
Semoga tulisan ini bisa mengantar kita semua ke dalam ajang untuk melatih, mengasah nurani dan kehalusan budi kita – ditengah gegap gempitanya zaman yang makin penuh primivitas dan kebinatangan.
”Sedang TUHAN pun Cemburu”
