Sekarang ini masyarakat masih banyak tidak faham peranan ibadah, oleh sebab itu kita saksikan di masyarakat walaupun banyak shalat, sering puasa, rajin shodaqoh, sering pergi umrah tapi sifatnya tidak berubah.
Padahal Allah tidak memandang banyaknya ibadah, tetapi lebih pada efek dari ibadah itu. Artinya bila dengan amalan lahir itu tidak timbul rasa cinta pada Allah, tidak terasa malu dan takut pada Allah maka ibadah yang banyak tidak ada nilainya. Sebaliknya walaupun hanya mengerjakan yang fardhu tapi terasa pengaruh dari ibadahnya itu, maka itu sudah cukup.
Sebab itu dalam beribadah jangan mengejar fadhilat (pahala). Misal, shalat Dhuha agar mendapat pahala berlipat. Pahala itu hanya tambahan. Kita kiaskan begini, orang yang mendapat gaji di kantor. Kadang-kadang gaji yang pokok hanya sedikit, misal 500 ribu. Tapi kalau lembur dapat 1 juta. Yang 1 juta itulah fadhilat.
Tapi jika kerja pokok tidak dilaksanakan, apakah akan dapat bonus yang 1 juta? Kalau kita kiaskan, orang yang mengejar fadhilat dengan shalat sunat, sedangkan ibadah fardhu tidak memiliki efek sama sekali bagi perubahan sifatnya. Itu artinya orang yang mengejar fadhilat tertipu.
Seorang rentenir kampung dengan ‘khusyu’nya’ mendengar khutbah jum’at yang membahas tentang pahala membaca Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, serta An Naas masing-masing dibaca tujuh kali tiap habis sholat jum’at.
Sang khotib dengan lantang menyampaikan “barang siapa yang membaca Al Fatihah, Al Ikhlas, Al Falaq, serta An Naas masing-masing dibaca tujuh kali tiap habis sholat jum’at, maka semua dosanya diampuni selama tujuh hari yang lalu serta tujuh hari yang akan datang.”
Dengan wajah cerah rentenir kampung sabar membaca surat-surat tersebut usai sholat. Saya yakin dia membaca dengan niat tulus agar dosa-dosanya diampuni. Yang telah lalu, maupun yang akan datang.
Bagaimana Anda melihat itu sebagai persoalan agama?. Atau persoalan moral?. Tuhan Maha Pengampun dengan segala maghfirahNya. Tapi Tuhan juga Maha Adil dengan segala kebijaksanaanNya. Allah menciptakan konsep dosa dan pahala bukan dalam rangka mengajak kita untuk bertransaksi jual beli, atau bisnis untung-untungan dengan Allah.
Kalau kita beribadah dalam rangka mencari target pahala, rasanya kita ini pedagang pemburu laba terhadap Allah. Padahal nikmatNya telah kita rasakan tanpa hingga.
Tuhan tidak menciptakan konsep hadiah dan sanksi berupa pahala dan dosa untuk menjadikan ajaranNya menjadi tidak adil kepada manusia. Dia menciptakan itu untuk menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami manusia tentang adanya ganjaran yang diberikan bagi hambaNya yang mengerjakan kebaikan maupun yang melanggar laranganNya.
Saya pernah mendengar seorang ustadz dengan gaya sindirannya mengemukakan hal yang sangat sederhana. Beliau menyampaikan,”Sekedar senyum seorang istri kepada suaminya, Allah menggantinya dengan pahala seperti sholat terawih”.
Kemudian dengan senyum sinis beliau melanjutkan,”Bagi wanita yang bulan Ramadhan berhalangan sholat terawih, cukup senyum sajalah..”Fatwa beliau saya pandang sebagai otokritik terhadap sebuah tradisi mementingkan pahala daripada nilai serta efek dari sebuah ajaran.
Pahala memang adalah idaman luhur dari umat islam. Tetapi pahala barulah sebuah terminal dalam perjalanan spiritual menuju Allah. Pahala itu kita singgahi sebelum menuju suatu ujung perjalanan cinta terakhir. Siapa lagi kalau bukan Allah.





