Kalau amati artikel di blog ini yang paling menyita perhatian pembaca untuk bercomment adalah artikel yg berjudul “Jilbab Tidak Wajib?”, atau lihat di sini
Berbeda dengan artikel sebelumnya yng mengangkat isu hukum jilbab melalui tafsir ‘ala guyonan’, kali ini saya lihat jilbab sebagai pembangkit semangat perjuangan umat islam di dunia.
Jika di Indonesia umat Islam masih mempersoalkan apakah pantas atau tidak anak perempuan bermain bola? Atau Islamikah bermain bola bagi anak perempuan? Saudara-saudaranya di Kanada mengalami hal yang berbeda. Sepakbola bagi anak perempuan muslimah adalah sesuatu yang tidak dipersoalkan. Tetapi yang menjadi masalah di Kanada adalah bermain sepakbola dengan tetap mengenakan identitas kultural kemuslimannya, yaitu jilbab.
Asmahan Mansour, pasti tidak pernah menyangka bahwa pilihannya untuk tetap mengenakan jilbab pada saat kompetisi pertandingan sepak bola akan mengakibatkan ia dikeluarkan dari lapangan oleh wasit.
Menurut wasit, aturan sepakbola internasional melarang pemain mengenakan sesuatu yang membahayakan dirinya atau pemain lainnya. Dan jilbab Asmahan, tambahnya, sudah termasuk kriteria melanggar aturan tersebut.
Saya sangat mengapresiasi, memuji, serta mengacungkan empat jempol bagi wasit tersebut, juga kepada Bapak Mustafa Kemal Ataturk, sangat pantas dijuluki sebagai Bapak Bangsa Turki modern yang telah gagah berani dan sukses menghapus pemerintahan agama di Turki dan memilih konstitusi yang sekuler. Benar-benar menunjukkan beliau seorang pejuang yang nasionalismenya sangat tinggi.
Anda juga wajib berterima kasih kepada mereka. Bagaimana tidak, mereka telah mampu memberikan peluang kepada umat islam untuk bersatu, iya bersatu untuk menentang kebijakan mereka tentunya.
Saya yakin, tindakan-tindakan mereka telah menjadikan gairah juga rasa ukhuwah kita muncul, sehingga ukhuwah bukan hanya saat sholat berjamaah., melainkan di luar sholat jelas lebih penting.
Jilbab saya yakin akan senantiasa menggulir sebagai isu, bukan hanya agama, tapi juga sosial, ekonomi, budaya, terlebih saat ini mungkin dinilai simbol politis.
Tuduhan-tuduhan yang mengkambing hitamkan jilbab, entah langkah awal untuk menghapuskan paham sekuler, mengekang kebebasan perempuan, sampai menuding penggunaan jilbab sebagai ajaran “fundamentalis” dan “radikal”, selayaknya jangan dianggap sebagai bentuk yang mengancam eksistensi islam di dunia.
Anda masih ingat energi potensial pegas, usaha yang dilakukan untuk menarik pegas berbanding lurus dengan gaya tekan terhadap pegas itu. Seluruh usaha itu disimpan menjadi sebuah energi yang bernama energi potensial elastik. Itulah hakekat umat ini. Biarkan dunia posesif terhadap kita, kita akan semakin bangkit lebih dari kemampuan biasa kita. Jilbab ditakutkan, ia akan semakin lahir. Ia dilarang, justru ia semakin hadir.
Mahasiswa Trisakti mungkin tak tak akan menjadi seorang yang memiliki tekad perjuangan sedemikian tinggi jika Pak Harto santun, tidak egaliter, dan benar dalam mengendalikan pemerintah. Stevie Morris mungkin tak akan menjadi Stevie Wonder jika matanya tidak buta.
Andrey Shakarof barangkali tidak akan menjadi ilmuwan yang memiliki kesadaran kemanusiaan yang sedemikian tinggi jika sistem politik Rusia tidak serepresif yang ia alami. Dan mungkin sejumlah Muslim Kanada yang berjumlah 750 ribu jiwa dari total penduduk Kanada 32,2 juta jiwa tidak pernah berseru dengan satu isu yang menyatukan dan menggelorakan semangat jihad membela saudaranya jika wasit tidak mengeluarkan Asmahan.
Jilbab tidak usah dianggap sebagai simbol radikalisme, supaya nanti tidak benar-benar menjadi gerakan radikal. Tidak usah mempermasalahkan jilbab dengan menuduhnya sebagai simbol gerakan politis, agar tidak benar-banar menjadi gerakan politis. Kalau orang tak mencuri dituduh mencuri terus, lama-lama ia malah jadi pencuri beneran. Kalau orang malas sholat disangka rajin sholat, lama-lama ia akan malu dan jadi rajin sembahyang.
Apalagi di indonesia yang umat islamnya paling menang dalam jumlah dan akan terus beranak, tidak waktunya lagi mempermasahkan jilbab yang telah diyakini sebagai “simbol identitas” kemuslimahan.
AS yang dipimpin George W Bush saja tak pernah mengeluarkan peraturan larangan penggunaan jilbab, baik dalam kehidupan sosial maupun di lingkungan sekolah, putri Perdana Menteri (PM) Turki, Recep Tayyip Erdogan, tetap boleh berjilbab meski dia kuliah di AS. meskipun di lain pihak ternyata Amerika Serikat juga sewot soal penutupan sebuah majalah feminis “Zanan” di Iran.





