TRIO SINGA
Wanita Memarginalkan Diri
“Benarkah hadist yang mengatakan bahwa kebanyakan penghuni neraka itu perempuan kiai? Apa ini bukannya terkesan mendiskri…” tanya Sarep kepada kiai Delun.
“Stop!” Delun memotong kalimatnya. ”Tidak pernah baca al Qur’an ya kamu?”
Sarep menunduk.”Baca kiai. Tapi jarang baca terjemahannya”
”Kenapa?” Tanya Delun
”Saya takut tertipu kiai. Saya mungkin akan menangkap bagian-bagian verbal dengan membaca terjemahan, tapi kata kiai terjemahan tidak pernah mampu secara tepat mentransmisikan makna dan keutuhan yang diterjemahkan.” Jawab Sarep.
Kiai Delun segera menjelaskan panjang lebar.
”Sesungguhnya kami menciptakan mereka sebenar-benarnya. Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta dan berusia sebaya (QS 56:36-37)”
Ayat ini berkenaan dengan para bidadari, yang Allah ciptakan dari perempuan yang saleh. Di surga lebih banyak bidadari daripada laki-laki mukmin. Wanita bukanlah makhluk rendah yang patut untuk direndahkan. Apalagi dalam islam. Agama tidak mungkin melakukan penindasan dan marginalisasi terhadap siapapun, termasuk perempuan.
Agama jangan dipolitisi. Dalil-dalil qur’an jangan digunakan legitimasi eksistensi diri maupun kelompok. Dalil-dalil Qur’an pernah digunakan sekelompok politisi untuk menolak keberadaan seorang wanita sebagai kepala Negara. Ayat Al-Qu’an “Ar-rijalu qowwamuuna ‘ala`l-nisaa” dan hadits “lan yufliha `l-qoumu” sempat diobral di mana-mana. Tetapi dibelakang hari semua berubah, ia didukung untuk menjadi kepala Negara juga dengan dalil-dalil agama dan legitimasi syariah Islam oleh kelompok yang sama.
Wanita sering dijadikan objek marginalisasi budaya. Entah mereka yang dengan sengaja senantiasa memarginalkan diri. Wanita identik dengan berbagai keharaman aurat. Seluruh tubuh dan segala tingkah lakunya seolah mengundang syahwat bathin juga syahwat lahir kaum Adam. Atau mungkin laki-laki saat melihat ada wanita tampil misalnya, yang dilihat adalah jenis kelaminnya.
Idealnya ketika melihat tingkah laku wanita saat tampil, yang dilihat itu manusianya, bukan kewanitaannya. Kalau menteri kesehatan ibu Fadhilah Supari berpidato, ia tampil sebagai menteri kesehatan. Ia menampilkan intelektualitasnya, prestasinya, fungsi sosialnya, bukan kewanitaannya.
Tapi saat ini juga banyak yang berusaha menjual glasnot aurat, sensualitas, lenggok merangsang, serta unsur-unsur kewanitaan lain. Saya yakin mereka tidak memiliki prestasi lain yang lebih original dan usaha akal untuk dipasarkan, sehingga harus menempuh jalan itu. Terpaksa, tapi tetap salah.
Allah melarang wanita untuk tampil pada hakekatnya mendorong kaum wanita agar tertantang untuk mendemonstrasikan prestasi kemanusiaannya, bukan organ kewanitaannya.
Anda mungkin kenal dengan Trio Singa, ukhuwah menakjubkan tiga gadis berbakat dan luar biasa atraktif dari Jawa Timur. Salah satu personilnya kebetulan dilahirkan oleh ibunya di kampung Anu, beberapa kilometer saja dari kampungku.
Dan kebetulan disekolahkan se SMA denganku. Jadi sejak SMA aku sudah sangat mengenal kemolekan suaranya, juga wajahnya. Membuatku menundukkan pandanganku. Bukan karena ingat surat an Nuur, ”Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya,,, “, tapi karena tidak PD menatap senyumannya yang menggodaku.
Sering aku tergoda dan terus berdzikir ”Astaghfirullah”, meskipun pernah juga diselingi dzikir ”Alhamdulillah”. Juga sempat mengucapkan ”Subhanallah” saat mengagumi keindahan ciptaan Allah.
Bakat kawan lamaku itu ternyata cepat sekali berkembang biak. Lulus SMA dia sudah menjadi duta Indonesia ke Korea Selatan. Entah dalam rangka apa. Entah apa yang diwakilinya dan dipromosikannya dari Indonesia.
Saat aku melihat liputan di TV, aku melihat mereka, subhanallah,,astaghfirullah,,kali ini aku benar-benar menundukkan pandangan karena ingat an Nuur.
”Pasti Cuma syahwat nabi Yusuf yang tahan saat melihat goyangan dangdut sedahsyat dan se….(maaf saya sensor) ini Rif” Kata Iwan yang menemaniku nonton penampilan Trio Singa waktu itu.
Lalu, benarkah wanita yang menjadi penyebab terusirnya manusia dari surga? Rasanya saya akan susah membela kaum wanita kalau situasinya seperti Trio Singa.





