Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) khususnya Komisariat Sepuluh Nopember sering dicitrakan sebagai organisasi yang menganut Islam kiri. Stereotip yang digunakan dalam logika ini menggunakan kaidah-kaidahnya sendiri. Mencoba menjelaskan sesuatu hanya dengan satu sisi saja. Menalar dengan perluasan takwil atau menggunakan perluasan makna maupun pemalingan makna seperti yang biasa dilakukan dalam teori-teori teks yang diantitesiskan dengan konteks tidak pernah dilakukan.
Bahwa kanan itu identik dengan nilai-nilai atau hal-hal yang adiluhung, luhur dan penuh dengan kebajikan dan tentu saja berada dekat dengan malaikat. Sedangkan lawannya, kiri tidak dilepaskan dari pemaknaan sebagai hal-hal yang nista, buruk dan berhubungan dengan kaidah-kidah yang tercela. Biasanya pula, analogi yang dilakukan adalah dengan menggunakan organ tubuh yang berupa tangan. Tangan kanan adalah tangan yang bertugas untuk melaksanakan hal-hal yang baik atau yang bersifat baik dan dianggap baik serta menuju pada kebaikan. Contohnya adalah ketika manusia makan, maka ia wajib menggunakan tangan kanannya sebagai bukti beretiket. Pada saat seseorang memberi atau menerima sesuatu yang membutuhkan tangan sebagai sarana peneriamaan langsung, maka lagi-lagi tangan kanan digunakan dalam rangka menunjukkan bahwa pemberi maupun penerima menggunakan sopan dan santun. Sedangkan tangan kiri adalah tangan yang bertugas melaksanakan hal-hal yang buruk, dipandang atau dianggap buruk. Seperti membersihkan kemaluan dalam rangka istinjak.
* * *
Seolah-olah job description yang dilekatkan pada kiri dan kanan sudah tertulis sejak manusia lahir. Yang artinya bahwa tugas, wewenang, hak dan tanggung jawab yang dilekatkan kepada dua tangan manusia merupakan perkara Ilahiah (nature) yang disematkan oleh Allah pada saat manusia lahir. Dan perihal tugas, wewenang, hak dan tanggung jawab tangan tidak dianggap sebagai permasalahan budaya (nurture) yang dibentuk oleh konstruksi sosial dan kebiasaan dari masyarakat dan terlebih si empunya tangan. Bukankah bila hal ini merupakan perkara Ilahiah, ternyata tidak pernah ditemukan tekstualitas yang menyatakan bahwa tangan membawa pesan Ilahiah ini. Namun bila permasalahan ini dilihat sebagai permasalahan budaya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi sosiologi dan permasalahan kebiasaan maka telah terdapat bukti-bukti yang banyak. Ada banyak orang yang tidak bermasalah ketika menggunakan tangan kiri sebagai organ pembersih istinjak sekaligus menggunakan untuk hal-hal yang bisa dilakukan tangan kanan seperti makan, minum dan lain sebagainya. Pun, perlu disadari juga bahwa tidak ada tekstualitas yang menyatakan bahwa tangan kiri atau tangan kanan lebih unggul bila diperbandingkan.
Namun rupanya hal ini masih disanggah dengan menyatakan dengan “Coba saja Anda pake tangan kiri untuk istinjak dan juga untuk makan”. Dalam logka bila sisa-sisa istinjak yang berada di tangan tersebut tidak bibersihkan maka siapapun tidak akan sreg menggunakannya. Namun, dalam ruang yang menyediakan berbagai macam pembersih dan air sebagai penopangnya, maka persoalan ini menjadi kurang relevan. Seolah-olah sisa-sisa istinjak masih saja menempel di tangan yang digunakan beristinjak tadi.
Namun bila logika ini benar adanya, yaitu tetap menempelnya sisa-sisa istinjak pada tangan meskipun sudah dibersihkan dengan air dan berbagai pembersih yang ada, maka akan muncul kekhawatiran baru. Mereka yang biasanya mengupas buah-buahan dan sayuran dan memotong-motongnya menggunakan tangan kiri untuk memegang sayuran dan buah-buahan tersebut harus beralih untuk membiasakan menggunakan tangan kanan untuk memegangnya. Sedangkan tangan kiri bertugas untuk memegang pisau yang mengelupas atau memotongnya. Setuju kagak tuh,,,?
* * *







Cie,,,3x,,,da pinter ngritisi organisasiE dewe iki,,Salut buat ente sobat,,Terus semangat belajar apapun,,Da’wah dan sosial harus seimbang
just dropping by. This’s great. Salam! (www.suratno77.multiply.com)
Madzhab perasaan cuma ada Syapi’i,kambali,maliki,hanapi. ternyata ono madzhab kiri’i. Iku madzhabe PMII. yakin ta ‘i?
wes.. rak sah do petingkah.
ngaji satu dua lembar aja dah neko2.
benerke disik fatihahmu.
kaya di Makkah itu lho….!!!!
meskipun beda2 mahdzab, TETEP SATU JAMA”AH.
Amiin.