
atau…

Kata prestasi telah mengalami penyempitan makna seiring penghargaan yang berlebihan terhadap kualitas IQ seseorang. Kita lebih mudah menjumpai apresiasi terhadap prestasi akademik seseorang daripada penghargaan terhadap perjuangan dalam bidang sosial misalnya. Sehingga akan tetap ditulis dengan tinta emas bagi pelajar atau mahasiswa yang memenangkan olimpiade mata pelajaran tertentu, peraih nilai raport atau indeks prestasi akademik terbaik, juara karya ilmiah, meskipun ia tidak pernah mengenal tetangga sebelah rumahnya. Meskipun ia tak mau tahu di depan kampusnya ada ketimpangan sosial. Bahkan mungkin juga menurutnya tidak penting menyaksikan kedzaliman terstruktur dalam beberapa penggusuran PKL di jalanan yang dilaluinya tiap hari. Yang penting belajar dengan rajin, kuliah dengan serius, praktikum dengan lancar, IP bagus, lulus cepat, dapat kerja di perusahaan bonafide, makmurlah hidupnya.
Kita mungkin malu jika menguak sejarah masa lampau tentang peran kaum muda terhadap indahnya nasib negeri ini. Mari sejenak memeriksa memori kita tentang sejarah perjuangan gerakan mahasiswa masa lampau. Kita akan teringat bahwa justru kaum mudalah yang selalu menjadi motor utama perubahan. Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, merupakan hasil konkret perjuangan mahasiswa dan kaum Muda Indonesia. Pada saat itu, kelompok pemuda dari Gerakan Menteng 31 menganggap bahwa masa kekosongan kekuasaan -karena Jepang baru saja kalah dalam perang Asia Timur Raya- harus dimanfaatkan untuk menyiapkan kemerdekaan. Kaum muda tidak sepakat dengan metode yang ditempuh golongan tua (Soekarno dan Hatta) dengan berharap belas kasihan Jepang, dengan bekerja di BPUPKI dan PPKI. Terjadilah peristiwa Rengasdengklok, mahasiswa dan pemuda menculik Soekarno–Hatta dan memaksa mereka untuk menandatangani teks proklamasi dan membacakannya tanggal 17 Agustus. Kalau bukan kepeloporan kaum muda, insyaallah kita tidak memperingati kemerdekaan tiap tanggal 17 Agustus.
Dalam analisa sejarahnya soal revolusi sosial di Jawa tahun 1945-1946, Ben Anderson menyebut gejolak tersebut sebagai revolusi pemuda, karena pada saat itu golongan pemuda merupakan motor dari revolusi yang tengah bergulir. Bahkan, peranan mereka sekaligus mengalahkan peranan kaum intelegensia dan kelompok lainnya dalam kancah perpolitikan saat itu.
Juga masih lekat dalam ingatan saya beberapa mahasiswa berkali-kali masih menjadi inspirasi perubahan fundamental di negeri ini. Ketika dosen, rektor, menteri bahkan presiden sebagai pemegang amanah kekuasaan dari rakyat tidak mampu lagi untuk mentransformasikan amanah tersebut menjadi suasana keadilan, kesejahteraan dan pemerataan kemakmuran, maka beberapa mahasiswa masih sempat tampil untuk menyuarakannya. Sehingga berulang kali sejarah telah mencatat mereka sebagai aktor penting dalam menentukan hitam-putih bangsa ini.
Anda ingat tragedi turunnya rezim Orde Baru? Mahasiswa menunjukkan taringnya dalam momentum ini. Ketika dunia akademik memaknai prestasi adalah bidang akademik, maka sungguh komponen gerakan mahasiswa yang bisa menjatuhkan rezim Soeharto itu bukanlah mahasiswa cerdas berotak encer. Jika ukuran kecerdasan adalah IPK maka mereka sungguh jauh dari kategori cerdas. Masuk kuliah saja jarang-jarang kok mau IPK bagus. Bahkan ada diantara mereka yang harus di-DO karena kehabisan waktu studi di kampus. Hari-harinya sudah terlanjur digadaikan untuk rapat-rapat aksi, merancang gerakan massa, menggalang kekuatan dari kampus ke kampus. Mereka harus iuran untuk membiayai kegiatan. Kalau perlu ngamen di kantin kampus. Hasilnya bisa dipake keliling untuk konsolidasi. Karena kampus tidak akan sudi membiayai aktivitas semacam itu sekalipun proposalnya dibuat rangkap tiga bahasa.
Lalu untuk apa mereka melakukan “hal bodoh” semacam itu?. Untuk siapa mereka korbankan masa depan mereka sendiri?. Untuk apa mereka berorasi di terik matahari yang menyengat dengan begitu bersemangat?. Apa yang menggerakkan mereka untuk melakukan itu semua?
Ah, saya masih yakin bahwa senyum tulus kebahagiaan yang ditemani mata gerimis dari kaum tertindas menjadi penghargaan dan apresiasi paling fenomenal di hati mereka.
Sungguh, di sini saya hanya ingin mengapresiasi ketulusan yang telah diteladankan oleh rekan-rekan yang terlibat aktif dalam setiap gerakan mahasiswa di negeri ini. Kalau bangsa kita sampai saat ini belum mampu memberikan penghormatan kepada mereka, biarlah tulisan ini yang menjadi inspirasi atas lahirnya generasi-generasi hebat seperti itu satu kali lagi.
Jika kita kaji secara singkat, setidaknya ada beberapa sifat kaum muda masa lalu yang sangat mempengaruhi akselerasi perubahan bangsa menuju ke arah yang lebih baik. Sebut saja semacam tiga pilar utama. Pilar-pilar itu adalah progressif, radikal dan militant.
Progresif, hasrat kaum muda yang menggebu untuk maju dan selalu lebih maju. Radikal, hasrat merubah dan merombak sistem yang usang. Dan militan, pemilik jiwa heroik dan semangat juang yang membaja.
Lalu bagaimana dengan mahasiswa sekarang?
Amatlah berlebihan bila menganggap mereka tidak melakukan apa-apa. Lihatlah mereka sangat aktif mengikuti pelatihan-pelatihan kepribadian (soft skill) yang dianggap cukup sebagai bekal di masa depannya. Lihatlah, waktu luang pun bisa mereka manfaatkan untuk mengerjakan karya tulis ilmiah. Lihatlah, mereka masih terus aktif berdiskusi di kampus, menghabiskan waktu di laboratorium-laboratorium, dan yang juga sering kita jumpai adalah mereka yang sering menghadiri acara-acara di stasiun televisi. Sekalipun rakyat masih harus antri minyak tanah, sekalipun penggusuran semakin marak, sekalipun biaya pendidikan semakin tinggi, sekalipun angka pengangguran terus bertambah, yang jelas sampai saat ini kita dengan bangga menyaksikan puluhan hingga ratusan mahasiswa memakai jas almamater biasa bersorak sorai dan bertepuk tangan di Republik Mimpi, Empat Mata, atau Democrazy.
Duh, lihatlah wajah-wajah mereka yang anggun. Mari kita dengan penuh semangat menyambut mereka dengan pekik: HIDUP MAHASISWA!
Kawan, kalau kau sempat, sesekali cobalah sejenak menelusuri lorong-lorong sempit perkampungan kumuh di kotamu. Pilih salah satu rumah yang paling mengenaskan, ketuk pintunya, ucapkan salam dengan tulus. Setelah kau dipersilahkan masuk, duduklah di sebelah pemilik rumah. Tanyakan padanya, sebenarnya apa yang mereka banggakan dari seorang mahasiswa. Tanya kepada mereka, apakah mereka berbahagia saat bertemu mahasiswa dengan IPK empat?. Tanyakan juga pada mereka, apakah mereka bangga menyaksikan mahasiswa menggema suaranya, bersorak sorai, dan bertepuk tangan di depan kamera televisi seperti itu?. Dan jangan lupa, pungkasi pertemuan itu dengan satu pertanyaan,”Apa yang dapat membuat anda bangga kepada kami?”.
Sungguh, tangis dan jerit masyarakat masih belum redam oleh ulah konyol para insinyur yang dulu lahir dari rakyat jelata, tetapi setelah diwisuda, tanpa rasa berdosa melaksanakan proyek penataan kota dengan menggusur rumah bekas tetangganya dulu. Miris sekali. Ia mungkin lupa, (atau memang nggak pernah ngaji tentang Sirah Shahabat kali yah,,), dialah Amr bin ‘Ash yang dulu sedang menjabat sebagai gubernur sempat berkucuran keringat dingin saat mendapat kiriman tulang dari Umar ibn Khattab yang dibawa oleh rakyatnya yang kebetulan beragama Yahudi.
Awal kisahnya, sang Yahudi saat itu rumahnya akan digusur oleh Amr. Padahal ia bersikeras tidak bersedia untuk dipindahkan dari rumahnya, yaitu sebuah gubuk reot dan beberapa lahan pertanian.
Nah, Amr ‘kan merasa risih, “Masak di sebelah kantor gubernur ada gubuk reot. Milik Yahudi pula”. Akhirnya Amr bin ‘Ash mengancam si Yahudi bahwa jika ia tak mau menjual tanahnya, maka Amr akan menggusurnya.
Mendapat ancaman itu si Yahudi memutuskan melaporkan kepada Khalifah Umar di Madinah. Setelah memperoleh laporan itu, Umar menyuruh si Yahudi untuk mengambil sepotong tulang di tempat sampah. Tulang itu digaris lurus dengan ujung pedang Umar. Si Yahudi disuruh oleg Umar untuk menyampaikan tulang itu kepada Amr bin Ash.
Usai disampaikan, Amr bin ‘Ash mendadak berkucuran keringat saat mendapat kiriman tulang itu. Si Yahudi bingung donk, “Ini gubernur, dapat kiriman tulang aja merinding kaya’ gini”.
Seketika Amr bin ‘Ash menjelaskan kepada si Yahudi, bahwa goresan garis lurus dengan ujung pedang pada tulang itu adalah peringatan keras dari Umar, seolah-olah Umar sedang berkata kepada Amr, ”Hai Amr bin ‘Ash, luruslah kamu dalam menjalankan tugasmu. Jika kau membelok, aku tidak akan segan-segan meluruskanmu dengan pedang ini”.
Si Yahudi takjub dengan keadilan dan keindahan ajaran Islam. Seketika itu juga ia mengucap dua kalimat syahadat.
Duhh,, Alangkah malang nasib kita, kawan seperjuanganku. Dunia ini terlalu sempit kalau hanya kekayaan materi dan kesenangan sendiri yang kita impikan, jabatan tinggi yang kita damba, kursi empuk kekuasaan yang kita harap, namun dengan melupakan tugas sosial kita. Ingatlah, bahwa kehebatanmu akan dicatat dengan tinta emas oleh sejarah melalui kontribusi yang kau berikan pada sesama.