
VS

Agak lama saya mendengar gaung kedua novel itu. Tapi dulu, seperti biasa, saya tak punya cukup kesabaran untuk membaca bab demi bab untuk mengetahui jalan ceritanya. Karena untuk membaca sebuah novel tujuan saya hanya ingin tahu ceritanya. Maka kalau dengan meloncat-loncat antar bab bisa dipahami, kenapa saya harus menghabiskan banyak waktu untuk membaca perkalimat dalam novel itu?. Begitu pikir saya.
Tetapi beberapa hari terakhir, saya cukup punya alasan untuk membaca dua novel itu. Oia, maaf sebelumnya jika saya menyebut Sandiwara Langit juga sebagai novel, meskipun sebenarnya ceritanya –sebagaimana disebut oleh Ust. Umar, pengarangnya- adalah kisah nyata. Namun bagi saya, penceritaan dalam Sandiwara Langit maupun Tuhan Izinkan Aku jadi Pelacur cukup memenuhi syarat untuk disebut sebagai karya yang terilhami oleh kisah nyata. Andrea Hirata menyebutnya dengan istilah Fiktif Literary. Karya fiksi yang diangkat dari kisah nyata.
♥ ♥ ♥
Sandiwara Langit
Buku ini terbit pertama kali pada April 2008, dan cetakan keduanya Agustus pada tahun yang lama. Artinya buku ini sejak awal kehadirannya memang cukup diminati pembaca. Meskipun ditulis dengan bahasa yang ringan, dengan penceritaan yang sangat sederhana. Kita maklumi itu, karena ust. Umar –penulisnya- benar-benar berhati-hati dalam proses penceritaannya agar tak jauh berbeda dengan kisah aslinya.
Inti dari buku ini adalah menceritakan tentang dua tokoh utama, Rizqan dan Halimah. Rizqaan, pemuda shalih yang memutuskan untuk menyegerakan nikah di usianya yang belum menginjak kepala dua karena ketakutan yang luar biasa kepada fitnah masa muda. Dengan segala keterbatasan dirinya. Modal belum punya, pekerjaan pun belum ada. Sedangkan Halimah, pemudi shalihah, putri pak Razaq, seorang pengusaha kaya raya.
Meskipun terkesan nekad, Rizqan memutuskan untuk mengkhitbah Halimah. Uniknya, pak Razaq hanya mau menikahkan Halimah dengan Rizqan dengan satu syarat, yaitu bila dalam 10 tahun Rizqan tidak bisa sukses dan membahagiakan Halimah, maka ia harus menceraikannya.
Rizqan setuju. Dan kehidupan rumah tangganya dimulai dengan banyak perjuangan yang tak mudah. Bermacam ujian dan cobaan yang digambarkan, namun senantiasa dihadapi oleh mereka dengan suatu sikap yang sudah selayaknya dimiliki oleh seorang muslim. Hingga berbagai cobaan yang mereka hadapi bukan lagi dalam bentuk kesulitan namun justru suatu nikmat yang juga punya potensi untuk menjerumuskan mereka ke jurang nista.
Rizqaan memulai berdagang menjajakan roti dari suatu pabrik dengan sedikit modal yang dimilikinya. Mereka memulai hidup dalam keprihatinan, mereka bahkan makan nasi putih dengan garam dan bawang goreng, dan bermacam cobaan lainnya. Berkat kegigihan dan kejujuran Rizqaan dalam berdagang, juga kesabaran Halimah istrinya untuk menerima keadaan mereka dan keuletannya memanage keuangan rumah tangga. Pelan tapi pasti kehidupan keduanya berangsur membaik. Rizqaan menjadi penjual roti keliling yang sukses. Akhirnya ia bisa mendirikan pabrik roti sendiri. Intinya dia jadi kaya raya.
Nah, menjelang sepuluh tahun, ia terkena musibah. Hingga suatu malam tiba, dimana malam itu pada bulan kedua belas dan hari “H” tinggal hanya dua hari lagi terjadi musibah besar yang memporak-porandakan kehidupan yang selama ini mereka bangun dengan susah payah. Kebakaran melanda pabrik dan rumah mereka, hingga ayah Rizqaan meninggal dunia karena musibah itu. Belakangan di akhir cerita diketahui, bahwa kebakaran tersebut merupakan ulah dari saudara jahat Halimah yang bernama Asyraf agar ayahnya memenangkan perjanjian dan Halimah menikah dengan lelaki lain yang lebih kaya.
Emang mirip sinetron-sinetron televisi sich.. tapi nggak pa2, karena ini kisah nyata, jadi lebih menarik. Di akhir kisah, banyak pembaca yang katanya meneteskan air mata membaca endingnya. Apalagi diiring lagunya Opick, Bila Waktu Tlah Berakhir.. huww.. lumayan mengharukan.
Ini saya kutipkan endingnya,
♥♥♥♥
Suatu ketika Halimah dan kedua orang tuanya berkunjung ke rumah Rizqaan yang kini telah mapan kembali.
♥♥♥♥
“Kami datang, untuk sebuah keperluan yang mungkin tak pernah kamu duga ananda. Setelah perdebatan panjang, dan banyak kisah-kisah di sekitarnya, kami berniat, akan menikahkanmu kembali dengan putri kami, Halimah…..”
“A….pa…? menikahkanku kembali dengan Halimah” Rizqaan tergagap. Ia tak mampu berbicara. Ada kelebatan sinar menyapu otaknya. Sehingga ia nyaris hanya bisa terpaku karena kegembiraan yang tidak terkira.
♥♥♥♥
“Abuya….”
“Maaf, aku belum menjadi suamimu lagi….” sela Rizqaan
“Izinkan aku tetap memanggilmu Abuya. Aku tak terbiasa dengan panggilan lain.”
“Baiklah. Ada apa Adinda?”
“Abuya. Apakah abuya siap menikahiku lagi?”
“Adinda Halimah, kenapa aku tidak siap? Dari dulu aku tak pernah berniat menceraikanmu. Aku senantiasa mencintaimu. Hanya karena kita bukan suami istri lagi, aku selalu menindih rasa cintaku itu sekuat mungkin. Tapi bila diberi kesempatan menikahimu lagi, aku tak mungkin menolak.”
“Meskipun misalnya aku memiliki kekurangan yang tidak kumiliki sebelumnya?”
“Kekurangan apa Adinda?”
“Jawab dulu pertanyaanku.”
“Ya. Aku akan menikahimu dengan segala kekuranganmu yang ada. Selama itu bukanlah cacat dalam agamamu yang tidak dapat diperbaiki.” Ujar Rizqaan tegas.
“Abuya. Aku ingin Abuya menikahiku. Karena aku ingin mati dalam keridhaan seorang suami shalih…..” Halimah berhenti sejenak. Ada keharuan yang membuatnya tercekat, sehingga sulit bicara.
“Abuya bisa segera menikahiku. Tapi aku tak tahu, apakah keinginan itu akan tetap ada, setelah Abuya mengetahui kekuranganku sekarang. Abuya, aku baru saja satu minggu yang lalu melakukan check up. Dan aku terbukti mengidap leukimia…” sampai disitu, Halimah terisak. Ia tak mapu melanjutkan bicaranya.
Rizqaan merasa tersentak. Tapi demi Allah, ia tak sedikit pun merasa sedih. Kegembiraan bisa kembali bersama istrinya, tak bisa terkalahkan oleh kesedihan atas kondisi Halimah tersebut.
“Dokter mengklain bahwa usiaku tak akan lebih dari 3-4 bulan saja….” kembali Halimah menangis.
“Aku tidak peduli. Umur ada di tangan Allah. Manusia hanya mapu mengira-ngira. Nyawaku, bisa saja lebih dahulu terenggut daripada nyawamu. Aku akan segera menikahimu. Biarlah Allah yang menentukan akhir perjalanan hidup kita. Bagiku, hidup atau mati bersamamu, dalam “kecintaan” Allah adalah sebuah kenyataan yang paling penuh berkah”. Rizqaan berbicara dengan kayakinan kokoh membelit jiwanya.
♥♥♥♥
Rizqaan dan Halimah kembali hidup berbahagia. Mereka kembali mengulang masa-masa penuh keceriaan di antara mereka. Satu bulan kemudian, anak mereka yang kedua lahir. Ia seorang bayi perempuan yang cantik. Mirip ibunya, Halimah. Bayi itu dilahirkan dengan cara normal. Bayi maupun ibunya sama-sama selamat.
♥♥♥♥
Kebahagiaan mereka berlanjut, sampai suatu ketika datang berita bahwa abang Halimah, Asyraf menjadi buronan polisi dikarenakan kasus narkoba, dan juga berita tentang dalang penyebab kebakaran yang menewaskan ayah Rizqaan. Karuan berita itu membuat kegembiraan mereka semua hilang. Ayah Halimah yang kini menjelma menjadi orang baik hati marah besar kepada anaknya tersebut. Dan Halimah seketika jatuh pingsan dan sakit.
♥♥♥♥
Sore menjelang Maghrib, Halimah terbangun. Disampingnya duduk Rizqaan. Sementara di depannya, Ayah dan ibunya duduk diatas kursi plastik. Mereka semua cemas menantikan kesadarannya. Seorang dokter perempuan –yang sengaja diundang ke rumah- mendekatinya. Memeriksa nadinya, lalu memberikan suntikan di bagian lengannya.
“A…..Abuya….” Halimah berkata lirih.
“Aku disini Adinda”
“Alhamdulillah. Apakah sudah maghrib? “tanya Halimah.
“Belum. Masih kira-kira sepuluh menit lagi.”
“Abuya…”sapa Halimah pelan.
“Ada apa Adinda.”
“Apakah Abuya masih mencintaiku?”
“Tentu Adinda. Aku selalu mencintaimu karena Allah.”
“Aku juga mencintaimu karena Allah, Abuya.” Halimah diam sejenak lalu ia bertanya lirih.
“Apakah engkau akan tetap bersabar atas segala yang menimpa kita, Abuya?”
“Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar, Adinda….”
“Abuya. Jawablah pertanyaanku.”
“Ya. Apa Adinda?”
“Apakah engkau meridhaiku sebagai Istri?”
“Sudah tentu Adinda. Suami mana pun akan meridhai istri seshaliha dirimu. Setaat dirimu. Sepatuh dirimu. Kamu bukanlah wanita yang tak memiliki kekurangan atau kesalahan. Tapi dengan keshalihanmu, ketaatanmu, kepatuhanmu, aku senantiasa ridha terhadapmu…..”
“Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shaalihaat. Aku ingin termasuk di antara wanita yang disebutkan dalam Hadits.”
“Bagaimana itu Adinda?”
أًَيُّمَا امْرَ أًَ ة مَا تَتْ وَ زَ جُهَا عَنْهَا رَا ض د خَلَت الْجَنَّهَ
“Wanita mana pun yang meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadanya, ia pasti masuk surga.”
Halimah mengucapkan Hadits itu sedemikian fasihnya. Arab, berikut terjemahannya.
“Semua wanita shalihah, mengidamkan hal itu Adinda, dengan izin Allah, Adinda akan termasuk di dalamnya.”
“Allahumma amien. Abuya, sekarang aku puas. Apaun yang terjadi atas diriku, kini aku sudah kembali menjadi istrimu. Aku telah berdo’a setiap malam, agar aku bisa berdampingan dengan suami yang shalih. Sehingga kalaupun mati, aku akan mati dengan keridhaan Allah kemudian dengan keridhaan suamiku…..” Halimah berhenti sejenak.
“Abuya, betapa indahnya bila Allah betul-betul mencintai kita. Aku ingin dengan cinta-Nya, kita berdua menuai bahagia seutuhnya. Kebahagiaan yang bukan Cuma di dunia, tapi juga di akhirat.”
Halimah menghela nafasnya yang terasa begitu berat.
“Abuya bila aku sudah tiada, berjanjilah untuk senantiasa berjalan di atas ajaran Allah. Didiklah anak kita, dan berbaktilah kepada orang tua….”
“Jangan berkata begitu Adinda….” Rizqaan menyela.
Halimah memberikan isyarat dengan tangannya, agar Rizqaan tidak bertanya apa-apa.
“Berjanjilah Abuya…..”
“Aku berjanji Adinda. Tanpa berjanji pun, ketaatan kepada Allah adalah janji seluruh manusia saat mereka berada dalam perut ibu mereka….” ujar Rizqaan.
“Alhamdulillah…….”
“Abuya….tabir itu mulai terbuka…..Aku mencintaimu, Abuya. Abuya tak perlu meragukan cintaku. Tapi aku lebih merindukan Allah. Bila ini kesempatanku bersua dengan-Nya. Aku tidak akan menyia-nyiakannya sedikit pun…….”
“Adinda….”
“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”
“Adinda….”
“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”
“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”
“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”
Suara tahlil itu semakin lembut dan syahdu dari mulut Halimah. Terus menerus. Semakin lama, semakin lemah. Namun semakin syahdu. Sampai akhirnya suara terakhir terdengar, masih sama, “Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”
Usai berakhirnya suara itu, nafas Halimah terhenti. Di tengah keheningan kamar di rumah mereka, yang masih tercium bau catnya. Karena belum lama dibangun Halimah mengehembuskan nafas terakhirnya. Sang ibu menjerit. Sang bapak menangis. Rizqaan juga tak kuasa menahan air matanya yang tiba-tiba mengalir deras. Pernikahannya dengan Halimah yang merupakan masa kembalinya kebahagiaannya yang beberapa saat nyaris lenyap, kini nyaris terenggut kembali. Tapi kepergian Halimah dengan kondisi yang menyemburatkan aurat Surga, membuat hatinya terasa nyaman. Ia bersedih, tapi juga berbangga dengan istrinya. Kesedihannya pupus perlahan karena rasa bangga bercampur rasa iri yang menyejukkan jiwanya. Betapa berbahagia Halimah.
Tak lama kemudian, adzan maghrib terdengar. Mereka mendengarkannya dengan khusyu’. Saat lantunan adzan berhenti, Ayah Halimah mendekati Rizqaan. Ia manatap menantunya yang sekian lama ia kecewakan. Sekian lama ia perangkap dalam kesukaran dan penderitaan. Pria yang –dengan seizin Allah- telah mengubah wujud putrinya, sehingga menjelma menjadi wanita shalihah begitu setia pada kebenaran. Ia menatap pemuda itu. Air matanya menetes tak terbendung. Penyesalan membuncah sehingga nyaris membakar otak. Ia nyaris bisu dalam suasana hati yang kuyup penyesalan.
“Duhai, seandainya aku masih memilki putri yang lain. Pasti aku akan menikahkannya denganmu, ananda.” Ujar ayah Halimah kepada Rizqaan.
“Halimah sudah cukup bagiku pak. Nikahkanlah aku kembali dengan putrimu itu pak.”
“Aku sudah melakukannya dua kali ananda…..”
“Cobalah untuk yang ketiga kalinya pak…”ujar Rizqaan lirih.
“Itu bukan lagi hakku ananda. Biarlah Allah yang akan menikahkanmu dengannya di Surga kelak. Relakanlah kepergiannya saat ini. Semua kita toh pasti akan mati juga. Gapailah Surga dengan amal ibadahmu. Dengan ketulusan hatimu. Hanya dengan itu Allah akan berkenan mempertemukanmu kembali dengannya…..”
Rizqaan tersenyum.
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
وَادْخُلِي جَنَّتِي
Hai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,
masuklah ke dalam syurga-Ku.
♥ ♥ ♥
Tuhan, Izinkan Aku jadi Pelacur
Buku ini terbit pertama kalinya pada tahun 2003. Tapi untuk buku yang saya baca ini tertulis cetakan keduanya pada tahun 2007. Saya kurang tahu bagaimana bisa lama begitu untuk cetakan berikutnya. Padahal saya dengar karena banyaknya kontroversi pada novel ini, maka novel ini sangat laris di pasaran, bahkan saya baca dari sebuah website, pada tahun 2005 sudah cetakan ke-12. Entah mana yang benar, tapi disebutkan juga, untuk cetakan pertama penerbitnya adalah Melibas, dan cetakan yang sedang saya baca ini penerbitnya ScriPta Manent.
Bahasa yang digunakan oleh penulis, Muhidin M Dahlan, saya nilai lebih ‘nyastra’ daripada Sandiwara Langit.
Kebetulan sinopsis di cover belakangnya juga sangat menarik:
Dia seorang muslimah yang taat. Tubuhnya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar. Hampir semua waktunya dihabiskan untuk shalat, baca Al Quran, dan berzikir…
Tapi di tengah jalan ia diterpa badai kekecewaan. Organisasi garis keras yang mencita-citakan tegaknya syariat Islam di Indonesia yang diidealkannya bisa mengantarkannya ber-Islam secara kaffah, ternyata malah merampas nalar kritis sekaligus imannya. Setiap tanya yang dia ajukan dijawab dengan dogma yang tertutup. Berkali-kali digugatnya kondisi itu, tapi hanya kehampaan yang hadir. Bahkan Tuhan yang dia agung-agungkan seperti lari dari tanggung jawab dan ‘emoh’ menjawab keluhannya….
Baca sinopsis itu saja saya lagsung tertarik untuk segera membacanya hingga akhir.
Novel ini bercerita tentang seorang gadis, Nidah Kirani, yang mengamalkan agama lebih sebagai rangkaian ritual. Ia rindu untuk segera mengamalkan agama secara kaffah. Bukan hanya ritual seperti yang dipahami masyarakat pada umumnya. Dia rindu memperdalam agama lebih dari masyarakat umum memahaminya. Kerinduan itu mengantarnya pada seorang teman diskusi yang fasih mengutipkan dan menjelaskan ayat untuk menjawab keingintahuannya. Tak butuh waktu lama, ketaatannya pada agama membuat dia hampir melupakan masalah lahir /duniawi, kemudian timbul pemikiran dan semangat lain dalam dirinya. Semangat menegakkan Syariat islam.
Semangat itu akhirnya mendapat jalan ketika dia dengan rangkaian cerita akhirnya masuk sebuah organisasi yang notabene memperjuangkan berdirinya syariat Islam. Tetapi apa akhirnya yang didapat?. Kekecewaan, ya kekecewaan yang sangat ketika ternyata semuanya yang dipikirkan sebelumnya tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam perjalanannya ia harus menemui sebuah alur pikir yang tak sesuai dengan yang diharapkan. Karena ternyata wawasan kawan-kawannya hanya sebatas itu-itu saja. Setelah bergaul cukup lama dengan komunitas dakwah kampus yang dari luar terlihat semangat dakwahnya menggebu, ternyata ereka hanyalah ‘korban’ keringnya islam di masa dini. Sehingga ketika menyaksikan ada ajaran islam yang instan dan siap saji, yang menyuguhkan pola keislaman yang berbeda dengan yang dipahaminya sebelumnya, ia akhirnya tertarik untuk mengikuti sebagian kecil kelompok aktivis muslim yang diketahuinya sangat semangat dan santun itu. Dalam kalimat Muhidin M Dahlan begini:
Kucoba bertanya banyak hal, tapi selalu tidak terjawab. Begitu sedikitnya wawasan ikhwan ini. Tiap minggu yang dia kasih cuma ceramah yang itu-itu saja yang sangat membosankan, “Dakwah ya. Kalian itu disuruh berdakwah. Berdakwahlah.” Ketika kutanya apa sasarannya ke depan, jawaban yang ia berikan berputar di situ lagi. Aku jadi berpikir, jangan-jangan orang ini sama juga denganku, sama-sama udim politik dan wacana pergerakan. Dalam tubuh Jemaah hanya segelintir orang yang tahu mau ke mana Jemaah ini hendak dibawa (hal. 85)
Kekagumanku pada Mbak Auliah pun perlahan memudar. Ternyata ia bukan seorang ukhti yang kuidealkan. Perhatiannya yang menyejukkan, penuh persaudaraan, dan sungguh-sungguh kepadaku, ternyata tidak dibarengi dengan keluasan wawasan dan kedalaman pikir untuk mengajarkan ilmu kepada yang lain (hal. 62 – 63)
Organisasi yang dianggap akan membawa dia dalam kesyahidan ternyata hanya kepalsuan dan kebohongan. Dan ketika dia ingin berontak dan mundur, dia mendapatkan tekanan yang luar biasa beratnya baik dari organisasi tersebut maupun dari dalam dirinya sendiri dan lingkungannya.
Akhirnya, dia merasa hidup tidak ditolong tuhan, dan bertambahlah kekecewaanya. Kekecewaan membuat dia bimbang, tapi semakin jujur, jujur akan kemunafikan, ketika semua realita terungkapkan, ketika kejujuran yang bersembunyi dibalik kedok agama terbuka, ia akhirnya terjerumus menjadi pelacur. Bukan karena alasan ekonomi, tetapi untuk menggugat tuhan yang (menurutnya) tak pernah menolongnya.
Cerita ini menggambarkan suatu pergulatan batin seseorang yang kecewa. Mungkin cerita ini dirasa kurang logis, kok dari alimnya gitu bisa ndadak jadi pelacur?. Penjelasannya mungkin begini, mungkin lho ya. Ketika seseorang tidak mendapatkan bahwa apa yang diharapkan, maka dia akan menjadi sangat kecewa, dan konsekuensinya adalah melakukan perubahan yang drastis. Dan jika suatu hal membuat kita kecewa, tidakkah secara instink dia akan “lari” ke titik yang berlawanan?. Fenomena yang sama kerap terjadi pula pada suatu kasus yang berkebalikan: seseorang yang tadinya kehidupan beragamanya biasa-biasa saja atau malah tidak perduli sama sekali dengan agama, ketika sampai pada suatu titik yang sangat mengecewakan, bisa berbalik menjadi sangat religius bahkan mengarah pada fanatik. Logis?. Wajarlah!. Sory, ane kan bukan lulusan psiko..Hehe..
♥ ♥ ♥
Ah, sudahlah. Tak panjang-panjang saya buka tentang isinya. Saya malah tertarik tentang Surat Untuk Pembaca yang dilampirkan di akhir buku.
Banyak sekali cercaan maupun pujian terhadap buku ini. Penulis menceritakan di bagian akhir buku ini dengan judul : yang memuji yang mengutuk. Selain pujian, si penulis menerima banyak kutukan dan makian untuk bukunya ini. Dari tuduhan bahwa dia kafir, Marxis, benci agama, berusaha merusak akidah dengan kecanggihan tulisannya, hingga prasangka tentang tuduhan adanya peran Zionis di balik penerbitan buku ini. Bukunya dikatakan sampah yang tak layak dibaca, wajib ditarik karena mencemarkan nama baik agama. Penulis diminta untuk bertanggung jawab atas akibat sosial: merusak iman remaja dan akhlak bangsa.
Tapi saya tertarik cara si penulis menjawab cacimaki itu:
Iman yang tak digoncangkan, sepengetahuan saya, adalah iman yang rapuh. Iman yang menipu. Hati-hati! (hal. 260)
Toh, seandainya saja ada yang tersesat setelah membaca buku ini, jangan melulu menyalahkan buku ini. Yang kita pertanyakan justru iman pembaca yang bersangkutan: betapa tipisnya iman mereka yang tersesat hanya dengan isi buku kecil ini. (hal. 259)
Penulis itu, dalam keyakinan saya, mirip dengan tukang besi pembuat pisau. Tentu saja pembuat besi tidak bisa dimintai pertanggungjawaban sekiranya pisau buatannya disalahgunakan oleh seseorang untuk membunuh… Tapi pun kalau dimintai pertanggungjawaban, maka bentuknya yang paling mungkin adalah dengan menghadiri diskusi buku yang bersangkutan. Maaf, saya seorang penulis, dan tugas saya adalah menulis dan mengungkapkan kebenaran yang menurut saya benar. (hal. 257)
Pesan saya: This book is recommended to read, and it is you to judge the story.