Feeds:
Posts
Comments

2009 lenyap ditinggalkan masa. Waktu terus mengalir menuju sisanya yg semakin sempit. Lalu kalimat tanya klasik yg seharusnya terus menerus kita ajukan kepada jiwa kita sendiri hanyalah satu, ya, hanya satu. Karena satu kalimat tanya itu nantinya juga akan menjadi kalimat tanya yang diajukan Allah kepada kita di akhir masa: Waktumu kau habiskan untuk apa?.

.
Masa terus mengalir menuju peraduannya. Detik demi detik pun akan tetap melaju. Kencang atau tidak lajunya bukan tergantung jam dinding yang menempel di kamar kita. Cepat lambatnya waktu tak ada kaitannya dengan jam digital yg kita tatap tiap saat di HP kita. Tak ada kaitannya. Karena cepat lambatnya waktu akan berbeda bagi tiap orang, meskipun jarum detik tetap bergerak dg kecepatan yg sama. Bayangkan kita berada di dalam kondisi yg paling kita nikmati, setelah waktu tersita, tak jarang kalimat lancang meluncur dari lisan, “Lho, kok cepat banget yah?”. Dan tatkala kita berada dalam duka, terbaring dalam sakit, menanti sesuatu dalam sedih, tak jarang waktu terasa berjalan dengan cepatnya.

.
Masa terus beralih meninggalkan peraduannya, dan Allah tak pernah memberi kalimat tanya berapa. Kalimat tanyanya untuk apa. Maka sebelum Izrail datang menjemput, di bawah suasana mendung yg beberapa hari terakhir ini tak bosan menjadi selimut bumi pertiwi, mari bersama mengingat dan merenung, sejenak saja. Kira-kira, lebih banyak mana kita mengisi kotak bekal kita ke Barzah, kita isi dengan puing-puning pahala, atau justru puing-puing dosa yg akan memperberat siksa?. Demi masa depan kita yg abadi, mari kita instropeksi sejenak, ya sejenak saja, berapa detik2mu, menit2mu, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun2 yg kita habiskan untuk menuruti nafsu, nafsu, dan nafsu. Berapa masa yg telah lebur dalam dosa, berapa saat yg telah tersia dalam kelakuan-kelakuan konyol tanpa makna. Berapa waktu yg telah kita korup untuk tak menjalankan perintah dari Sang Pencipta. Berapa masa telah kita gadai dalam maksiat. Berapa lama kita buang waktu ke kubangan jurang nisata. Dan berapa lama kita telah berani menentang-Nya.

.
Merenung. Hanya itu yg bisa kita lakukan untuk merenovasi rumah hati kita masing-masing. Berapa lama kita menghuni bumi dg pertanggungjawaban amal?. Jika usia rata-rata kita 20 hingga 23 tahun, maka paling tidak kita telah hidup dalam baligh rata-rata 6-8 tahun. Ambil saja 7 tahun, berapa tahun kira-kita waktu kita gunakan untuk sholat, mengaji, mengingat Allah, merenungi dosa, melapangkan lambung dg puasa, mengisi malam yg pekat dg tetesan air mata di atas sajadah, membela kaum tertindas, menebarkan ilmu yg kita punya. Ya, hitung, berapa tahun?. Kemudian jangan bosan untuk membandingkan dg waktu yg kita habiskan dalam nyenyaknya tidur di larut malam yg indah untuk mengungkap segala resah padaNya. Berapa waktu yg kita habiskan untuk cangkruan tak jelas, ngobrol ngalor ngidul tak menghasilkan apapun. Berfacebook ria dg melupakan bahwa detik2mu sedang dihitung, pundi2 pulsamu sedang dihitung, amanah HP mu sedang dihitung, semua akan ditanyakan pertanggungjawabannya nanti di akhirat.

.
Maka, sebelum maut datang menjemput, lebih baik kita bersiap dg segala jawaban dari kalimat tanya yg terlontar kelak.
Kalau bagiku, mungkin kalimat tanya dari malaikat begini:

Tentang umur:
Malaikat: Berapa waktu kau habiskan dalam amal?
Aku: waduh, lupa malaikat..
Malaikat: dikira-kira aja,, hanya mengkonfirmasi kok. Aku lho udah punya catetannya..
Aku: ya, lebih banyak sia-sianya kayaknya. Dosa kadang-kadang. Pahala juga kadang-kadang.
Malaikat:berdasarkan catetan kami nih.. berat dosamu ini i. masuk neraka dulu nggak papa yah…?
Aku: waduh.. masak nggak ada keringanan Kat.. oia, di awal Januari 2010 aku da tobat,nangis2 lho. Masak nggak dilebur dosanya..
Malaikat: Januari 2010?. Emm.. bentar.. (malaikat sibuk searching).. daaan..

“oia, ini catetannya baru ketemu.” … (dihitung ulang..).. tiiit.. tiiit.. tiiit..
Aku: gimana malaikat?
Malaikat: selamat,kamu beruntung..
Aku: alhamdulillah…
(Sory, Cuma bercanda, tidak ada maksud meremehkan kerja malaikat. Dialog ini hanya untuk kepentingan menjelaskan semata.)

Wuih.. panjang banget. Sory2.. nggak nyadar. Sisanya besok-besok lagi yah..?. masih byk yg penge kutulis.. tentang Gus Dur (alm), tentang cinta, tentang kita. Kpn2 dilanjut lagi..

Salam.. –Fay-

Andaikan ku bisa memilih, maka tak ada usia lain yg lebih ku pilih selain usia saat ku bersama kalian. Bagaimanapun masa harus beralih. Jujur, segala rasa telah kunikmat saat ku membersamai kalian. Cinta, malu, sedih, bahagia, riang, haru, dan segala tindakan, kekonyolan, kenakalan, dan canda kalian memberi inspirasi banyak pada hidupku kemudian. Kisah-kisah konyol yg membuat kisah remajaku berwarna. Tindakan-tindakan ngawur yg membuat masa mudaku tak hambar.

.

Tapi bagaimanapun, masa terus beralih. Dan satu per satu dari kita pun telah menemukan dunianya. Satu per satu dari kita telah terkotak dalam ruang hidupnya masing-masing. Satu per satu dari kita telah menemukan muara keinginan dan harapannya.

.

Masing-masing kalian memberi arti yg tak kecil bagi hidupku. Ya, tak kecil. Ajay yg selalu membuat segala hal menjadi gelak tawa. Imron yg tak pernah serius memandang suatu masalah sebesar apapun masalah itu. Barok yg selalu bijak saat mengambil keputusan. Ridho, teman sejak kelas satu ku yg tak pernah kulihat kemarahannya. Beny sang pendatang yg mudah baur. Tegar, memanfang segala hal dg santai dan selalu neyanyak dalam situasi apapun. Tito, sang leader yg tegas. Cotet, hidupmu tak pernah letih dg tawa. Denis, yg tak pernah bosan mengumpulkan geng ritual ayam bakar di rumahnya. Hasan, sang juragan selep yg selalu semangat untuk berkumpul. Najib, atlit yg kami andalkan. P-Thoq, selalu menghujani dg gurauan pornonya. Ah, Eko, IPA1 tak kan bisa melupakan segala kelakuan konyolmu. Wawan, gara2 pencet, tak hilang panggilan maling hingga kiamat darimu. Gatot, flow dg tawanya. Cepot yg lelenya selalu dinanti. Ucrit, dimana ada Tegar, disitu kau selalu ada. Unto, lama kami menanti hadirmu.

.

Para ceweknya pun tak kalah memberi banyak kenangan yg tak mudah dilupa. Itis, gelak tawamu selalu mengagetkan kami. Nawiyah, diam2 nikah duluan. Kami menyesalkan, kenapa tak kau kasih tahu kami, padahal kami sangat menanti hari itu. Ambar yg tak bosan membuat lelucon yg selalu update. Anita, teman sebangkuku yg tak bosan dg keusilanku. Erni, kawan lamaku yg tetap setia menantiku (huek..), Ely, Ririn.. dua kawanku ini biasa menangis dan tertawa dg kelakuanku. takur, yg selalu umek dg ajay, ealah.. habis lulus malah jadian. Ika, menurutku asline pyn cerewet seharuse, tapi dulu ditahan kayakE, dan sekarang nampak wujud aslinya.. haha.. Rina, sifat keibuanmu telah namapak sejak remaja, wajarlah kau nikah saat ini. Titik, emm.. selalu seru. Vera, teman SMP ku, sekaligus teman karib istriku. Devi, diammu membuat kami penasaran, tapi sekarang kau lebih rame, sip. Koleeer.. pantese ngganteni Luna Maya lho, bukannya jd bidan. Eva, sory ya, traktirane kemaren dikit yg dateng. Puji, tega kau Ji, da beranak baru kau kasih tahu tentang kabarmu. Nanik, kawanku yg rame. Kemana dikau sekarang Nik, jarang2 ikut kumpul yuuk. Efi, teman lawasku, kau selalu tenang. Tacik, wajahmu lebih mudah ku lupa daripada suaramu (lho??), Nurul, instruktur senam yg dahsyat. Cony, kenapa pernikahanmu kau sembunyikan kawan. Kami ingin hadir tapi sunkan tak kau undang. Kustari, diammu akan terkenang selalu. Yu Ton, dimana kau berada kawan?. Iin, maaf In, kadoe arek2 nggilani.

.

Ah, kawan-kawanku. Tak pernah ku lupa kebersamaan itu. Dan kurasa, tak ada yg lebih kompak dibanding SMAPATU. Di bawah asuhan Bu Masfufah yg selalu perhatian dg semua siswanya. Tak hanya berperan sebagai guru, beliau adalah seorang ibu yg selalu memahami kita. Seorang ustadzah yg tak bosan menghaturkan petuah dan nasehatnya pada kita. Seorang motivator yg tak pernah letih mendorong kita untuk menatap masa depan dengan tatapan cerah.

.

Kawan, jujur aku sedang rindu dg kebersamaan itu. Tiap tahun yg kunanti adalah mimen idul fitri dan liburan. Karena ku bisa betemu dg kalian. Tiap ada buku baru, yg kuingatpun kalian. Bukan untuk promosi, karena ku yakin kalian bukan orang yg suka membaca. Bukan untuk pamer, karena bukan hal yg membanggakan menulis buku bagi kalian. Karena yg pertama kuingat adalah kalian. Ku ingin kalian tahu aktivitasku. Dan ku berharap kalian juga bisa berbagi apa yg telah kalian lakukan selama ini.

.

Maka sungguh ku selalu menyesalkan jika ada dari kalian yg tega untuk tak mengundang kami dalam walimah pernikahan kalian yg mungkin hanya sekali seumur hidup itu. Ku menyesalkan kalian yg tak mau berbagi kepada kami tentang apa masalah yg sedang kau tanggung saat ini. Kami sangat menyesalkan jika kalian tak mau membagi sedikit kebahagiaan jika kalian sedang mendapatkannya. Kami hanya ingin kita bisa bersama selamanya. Together forever. Itu saja. Kawan.

.

Tak usah kau sembunyikan gengsimu pada kami. Meskipun ada ribuan kawan-kawan baru setelah kita lulus, ku yakin, SMAPATU tetap berada dalam urutan teratas kawan-kawan yg paling berkesan dalam hatimu. Kami tak berharap sedikitpun harta yg kau punya. Tak kami hirau apa organisasimu saat ini. Tak kami harap sedikitpun jabatan yg kau rengkuh. Tak ada peduli dg apapun prestasimu saat ini. Kami pun tak peduli wajah indahmu telah keriput sekali pun. Kalian tetaplah manusia yg memberi arti tersendiri bagi jiwa kami. Persahabatan kita akan tetap ada, dan selalu mengalir dalam keabadian.

.PERJANJIAN SMAPATU

1. HADIR TIAP KUMPUL IDUL FITRI

2. WAJIB PUNYA NOMOR HAPE IPA1

3. KALO NIKAH WAJIB NGUNDANG

4.WAJIB DATANG MESKI TAK DIUNDANG

Hmm .. :-)

Setelah diundur selama satu minggu, Ternyata blog ini masuk dalam 3 besar. Emm.. awalnya penasaran juga sich, siapakah jawaranya.

Siapapun juaranya, semoga bisa jadi teladan bagi yg lain. Dan siapapun yang belum juara, semoga tetap menjadi blogger yang tetap setia menyuarakan kebenaran lewat blog. Bahkan jika pun seluruh manusia tak memberi apresiasi, biarlah Raqib menuliskan kerja keras dan niat sucimu sebagai aliran pahala bagimu. Keikhlasanmu diuji disini. Apakah engkau hanya blogger yg memburu beberapa ribu rupiah dari Blog Competiton, atau engkau memang ikhlas mengabdikan dirimu untuk menyuarakan kebenaran lewat karya dari jemarimu.

BUKTIKAN!!!

Film sang pemimpi dah premiere kan ya?. Hmm.. Saya sebagai salah satu penggemar tetralogi Laskar Pelangi sudah tak tahan lagi ingin menyaksikan film sang pemimpi yang katanya dibintangi Ariel Peterpen itu. Berminggu-minggu saya mencari link download film Sang Pemimpi. Pengorbanan yg nggak sia-sia. Hehe..

.

.

.

Coba tebak apa hasilnya?

.

.

.

.

.

Yups, seratus. Nggak kutemuin satu pun link nya.

Berbagai forum sudah saya masuki, Nanya sana-sini apakah link download film gratisnya sudah ada apa belum. Tapi hasilnya nihil. Mungkin para maniak downloaeder gratisan (istilah apa ini?) sudah memperkirakan kalo Film-film Indonesia sudah tak ada lagi yg kecolongan seperti Ayat-ayat Cinta yg bocor sebelum premiere.

Sebenere saya kasian aja sama temen-temen di kampong yg jauh dari gedung bioskop. Kalo saya sich mudah, jalan kaki ke Galaxy Mall dah bisa menyaksikan film ini dg puas. Tapi lihat tuh temen-temen kita di desa. Mau berangkat ke kota nggak ada dana. Mau nunggu CD nya lama banget baru keluar. Padahal mereka ‘kan lebih butuh film kayak gini. Untuk mempertinggi impian mereka, bahwa hidup adalah perjuangan. Sang pahlawan bukan dilahirkan oleh kemanjaan masa muda. Bukan pula belay manis harta benda di usia dininya. Para pemenang kebanyakan berasal dari ketaknyamanan hidup di usia mudanya. Ia berjuang sekeras tenaga untuk mengubah nasib. Seperti Ikal dan Arai yg menunjukkan sikapnya menerjang badai hidup yg diungkap dalam film in dg cerita yg tak miris dan menyedihkan. Atau sering disebut sebagai kemiskinan yg dinikmati.

Berhubung link download film sang pemimpi belum kutemuin, maka saya hanya akan memberikan dulu link download mp3 ost film sang pemimpi yang dibawakan oleh Gigi dengan judul Sang Pemimpi, selain itu juga akan saya berikan link download novel sang pemimpi ebook. Tak lupa saya kasih bonus trailer Sang Pemimpi. Berdoa aja semoga saya menemukan link download film sang pemimpi tersebut secepatnya..

Amin…  :-)

1 Muharam, Our New Year

MUHARAM adalah bulan pertama dalam kalender Hijriyah. Sebelum Rasulullah hijrah dari Makkah ke Yathrib, penanggalan mengikut tahun Masehi. Nah, para sahabat akhirnya menyepakati tahun islam dimulai sejak hijrahnya sang Rasul tercinta ke Madinah.
Muharam artinya ‘diharamkan’ atau ‘dipantang’, yaitu Allah SWT melarang melakukan peperangan atau pertumpahan darah pada bulan ini. Namun demikian larangan ini dihapus setelah Fathul Makkah (Al Baqarah: 91).

Keutamaan

Muharram merupakan satu dari empat bulan yang dimuliakan Allah. Empat bulan tersebut adalah, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.

“Sesungguhnya jumlah bulan di kitabullah (Al Quran) itu ada dua belas bulan sejak Allah menciptakan langit dan bumi, empat di antaranya adalah bulan-bulan haram” (QS. At Taubah: 36)

Peristiwa-peristiwa penting:

1 Muharam – Khalifah Umar Al-Khattab mula membuat penetapan kiraan bulan dalam Hijrah.
10 Muharam – Dinamakan juga hari ‘Asyura’. Pada hari itu banyak terjadi peristiwa penting yang mencerminkan kegemilangan bagi perjuangan yang gigih dan tabah bagi menegakkan keadilan dan kebenaran.

Pada 10 Muharam juga telah berlaku:

  1. Nabi Adam bertaubat kepada Allah.
  2. Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit.
  3. Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama enam bulan.
  4. Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud.
  5. Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa.
  6. Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara.
  7. Penglihatan Nabi Yaakob yang kabur dipulihkkan Allah.
  8. Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritainya.
  9. Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam.
  10. Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Firaun.
  11. Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah.
  12. Nabi Sulaiman dikurniakan Allah kerajaan yang besar.
  13. Hari pertama Allah menciptakan alam.
  14. Hari Pertama Allah menurunkan rahmat.
  15. Hari pertama Allah menurunkan hujan.
  16. Allah menjadikan ‘Arasy.
  17. Allah menjadikan Luh Mahfuz.
  18. Allah menjadikan alam.
  19. Allah menjadikan Malaikat Jibril.
  20. Nabi Isa diangkat ke langit.

Antara amalan disunatkan pada bulan Muharam:

1. Berpuasa.

Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baiknya puasa setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baiknya ibadah setelah ibadah wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)

Secara umum, puasa Muharram dapat dilakukan dengan beberapa pilihan. Pertama, berpuasa tiga hari, sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Kedua, berpuasa pada hari itu dan satu hari sesudah atau sebelumnya, yaitu puasa tanggal: 9 dan 10, atau 10 dan 11. Ketiga, puasa pada tanggal 10 saja, hal ini karena ketika Rasulullah saw memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura para shabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim).

2. Shadaqah

Selain berpuasa, umat Islam disarankan untuk banyak bersedekah dan menyediakan lebih banyak makanan untuk keluarganya pada 10 Muharram. Tradisi ini memang tidak disebutkan dalam hadist, namun ulama seperti Baihaqi dan Ibnu Hibban menyatakan bahwa hal itu baik untuk dilakukan.

Demikian juga sebagian umat Islam menjadikan bulan Muharram sebagai bulan anak yatim. Menyantuni dan memelihara anak yatim adalah sesuatu yang sangat mulia dan dapat dilakukan kapan saja. Dan tidak ada landasan yang kuat mengaitkan menyayangi dan menyantuni anak yatim hanya pada bulan Muharram.

3. Berdoa akhir tahun pada hari terakhir bulan Zulhijah selepas Asar sebanyak 3X

Fadhilahnya adalah barang siapa membaca do’a ini dalam waktu tersebut maka setan berkata: “Kesusahanlah bagiku,dan sia-sia lah pekerjaanku menggoda anak Adam(manusia) pada satu tahun ini karena mereka mengerjakan amal ini hanya dalam waktu lebih kurang 1 jam”

Di mulai dengan membaca Suratul Fatihah 1 Kali

Inilah do’a Akhir Tahun:

Artinya: “

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami nabi Muhammad SAW,beserta para keluarga dan sahabatnya.

Ya Allah, segala yang telah ku kerjakan selama tahun ini dari apa yang menjadi larangan-Mu, sedang kami belum bertaubat,padahal Engkau tidak melupakannya dan Engkau bersabar (dengan kasih sayang-Mu), yang sesungguhnya Engkau berkuasa memberikan siksa untuk saya, dan Engkau telah mengajak saya untuk bertaubat sesudah melakukan maksiat.Karena itu ya Allah, saya mohon Ampunan-Mu dan berilah ampunan kepada saya dengan kemurahan-Mu.

Segala apa yang telah saya kerjakan, selama tahun ini, berupa amal perbuatan yang Engkau ridhai dan Engkau janjikan akan membalasnya dengan pahala, saya mohon kepada-Mu, wahai Dzat YangMaha Pemurah, wahai Dzat Yang Mempunyai Kebesaran dan Kemuliaan,semoga berkenan menerima amal kami dan semoga Engkau tidak memutuskan harapan kami kepada-Mu, wahai Dzat Yang MahaPemurah. Dan semoga Allah memberikan rahmat dan kesejahteraan atas penghulu kami Muhammad,keluarga dan sahabatnya. Amin yaa rabbal ‘alamin.

4. Berdoa awal tahun pada 1 Muharram selepas Maghrib 3X

Pada Malam Harinya sejak permulaan terbenamnya Matahari (Timbul merah Jingga) itulah tanda tanggal 1 Muharam telah Tiba.

Kita perlu mengucapkan selamat datang dengan membaca doa Awal Tahun

Fadhilahnya Barangsiapa doa ini syetan2 akan berkata demikian :

“Alangkah bahagianya orang itum dia akan dilindungi dari godaan2ku pada sisa umurnya, karena Allah mengutus 2 malaikat untuk menjaganya dari godaan2ku”

Di mulai dengan membaca Suratul Fatihah 1 Kali.

inilah doa AWAL TAHUN

Artinya:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami
Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan sahabatnya.
Ya Allah Engkaulah Yang Abadi, Dahulu, lagi Awal. Dan hanya kepada anugerah-Mu
yang Agung dan Kedermawanan-Mu tempat bergantung.
Dan ini tahun baru benar-benar telah datang. Kami memohon kepada-Mu perlindungan
dalam tahun ini dari (godaan) setan, kekasih-kekasihnya dan bala tentaranya.
Dan kami memohon pertolongan untuk mengalahkan hawa nafsu amarah yang mengajak
pada kejahatan,agar kami sibuk melakukan amal yang dapat mendekatkan diri kami
kepada-Mu wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan
kami Nabi Muhammad SAW,beserta para keluarganya dan sahabatnya.
Amin yaa rabbal ‘alamin

Masa Tak Pernah Menunggu


Kalau kita memulai langkah dengan rasa takut, maka sebenarnya kita tidak pernah melangkah.

(A.H Nayyar)

Masa tidak pernah menunggu. Usia tidak pernah mau menanti. Sejarah pun tak pernah mengakui orang yang berkata akan, akan, dan akan. nanti, nanti, dan nanti. Selagi kita hanya bisa bermimpi dan berharap, tak akan ada perubahan dalam hidup kita.

Allah Yang Maha Baik telah menyediakan bagi kita ikan, tetapi kita harus mau mengail untuk mendapatkannya. Rezeki memang di tangan Tuhan. Tetapi kalau kita tak mau mulai menjemputnya, ya rezeki itu akan di tangan Tuhan terus.

Cara untuk menjadi orang yang berada di depan adalah memulai sekarang juga. Jika kita memulai sekarang, maka tahun depan kita akan tahu banyak hal yang sekarang tidak kita ketahui, dan yakinlah bahwa kita tak akan meraih masa depan indah jika kita hanya menunggu-nunggu sambil berkata nanti, nanti, dan nanti. Sekali lagi, sejarah tak akan rela mengukir nama orang yang hanya berkata akan, akan, dan akan.

Meraih prestasi puncak itu tidak sulit, yang sulit adalah bagaimana kita memulainya. Kita banyak yang belum-belum sudah berkata, “Saya tidak bisa”, padahal belum ada yang kita lakukan untuk memulainya. “Saya belum bekerja”, “Saya tidak punya kemampuan”, “Saya masih terlalu muda”. Banyak yang mengajukan berbagai alasan, padahal mulai saja belum.

Seribu kilometer perjalanan, selalu dimulai dari langkah pertama. Menapaki tangga yang tinggi, pastilah dimulai dari anak tangga pertama. Kesempatan kecil kerap kali merupakan awal usaha yang besar. Memang sangat sulit dan berat untuk memulai suatu tindakan baru. Tapi kalau tidak anda awali saat ini juga, maka tidak ada perubahan pada diri anda selamanya.

Sesuatu yang belum dikerjakan, seringkali tampak mustahil. Kita baru yakin saat kita telah berhasil melakukannya dengan baik. (Evelyn Underhill)

Awalnya adalah sebuah sikap. Sikap positif akan melahirkan kepercayaan diri. Percaya diri bermetamorfosis menjadi keberanian. Keberanian melahirkan tindakan. Tindakan menentukan hasil. Hasil menentukan nasib kita, menjadi pahlawan atau pecundang.

Penundaan hanya akan membawa kita pada kehidupan yang semakin tidak jelas dan berujung pada penyesalan. Karena waktu anda terbatas. Momentum pun tidak tiba untuk kedua kalinya. Kesempatan tidak datang berulang kali seumur hidup. Kesempatan kita detik ini belum tentu lebih baik daripada kesempatan pada waktu berikutnya.

“Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan baik amalannya, dan sejelek-jeleknya manusia adalah orang yang diberi panjang umur dan jelek amalannya.” (HR. Ahmad)

Kesuksesan bisa kita dapatkan dengan bertindak lebih cepat dan lebih berani. Anda ingat bahwa sekecil apapun perbuatan Rasulullah, merupakan perbuatan yang bebas dari kesia-siaan, efektif dan penuh makna.

Maka mulailah bertindak dan bergerak sekarang juga. Sekali kita diam, maka selamanya kita akan berat melakukan hal sekecil apapun. Ibarat menjalankan mobil, menggerakkan mobil saat diam itu membutuhkan tenaga lebih banyak daripada saat mobil telah melaju. Logika mekanikanya, gaya gesekan statis itu lebih besar daripada gaya gesekan dinamis.Gitu.

***********

1 tahun..

2 Tahun..

3 tahun.. . . . . . . .

Engkau tak jua datang.. . . .

Lima belas tahun..

Enam belas tahun..

tak jua datang.. . . . .

misteriusmu membuat hidupku tak pernah tenang..

sebenarnya ku takut menemuimu,

tapi ku tak berdaya menjauhimu,

terpaksa hari2ku ku mengejarmu.. .. . .

20 tahun..

21 tahun..

22 tahun..

engkau tak kunjung hadir.. . . . .

Maut,

kapan engkau siap menjemputku.. . .

.

.

.

.

.

.

.

Bagaimana kau merasa bangga
akan dunia yg sementara
bagaimanakah bila semua hilang dan pergi
meninggalkan dirimu

bagaimanakah bila saatnya
waktu terhenti tak kau sadari
masikah ada jalan bagimu untuk kembali
mengulangkan masa lalu

dunia dipenuhi dengan hiasan
semua dan segala yg ada akan
kembali padaNya

bila waktu tlah memanggil
teman sejati hanyalah amal
bila waktu telah terhenti
teman sejati tingallah sepi

– Opick, Bila waktu tlah berakhir -

.

.

.

Jika esok ku tlah tiada..

tertinggal satu kata untuk semua..

.

.

.

.

.

MAAF

- Ahmad Rifa’i Rif’an -

Sebentar, jika tulisan-tulisan sebelumnya tak pernah ku khususkan untuk para blogger, kali ini ku ingin membagi inspirasi ini bagi kalian. Para blogger lama, baru, atau para calon blogger. Itung-itung turut memotivasi blogger mania untuk menyuarakan kebenaran lewat blognya

Kawan, ada banyak yg mengajukan dalih untuk menutupi kemalasan mereka dalam menulis. Dari perjalanan menulis selama ini, ku makin tahu, tak ada kendala berarti dalam menulis kecuali apa yang ada di dalam jiwa kita. Dulu saat masih meminjam komputer teman dan mengetikkan tulisan di rental, saya merasa sepertinya akan lebih produktif jika memiliki komputer sendiri. Begitu memiliki komputer sendiri, ternyata sama juga. Saat itu lalu berpikir, jika punya laptop, kayaknya lebih produktif. Begitu notebook dimiliki, rasanya sama juga.

Sekali lagi saya menyadari, kendala menulis letaknya bukan di fasilitas, melainkan di dalam jiwa kita. Kita berlindung kepada Allah dari jiwa yang lemah untuk menyampaikan kebenaran, dari hati yang bungkam untuk mencegah kejahatan.

Blog, adalah media independet yg bertugas sebagai corong yg mengabarkan pikiranmu pada dunia. Ya, pikiranmu, ilmumu, kenanganmu, pengalamanmu. Suarakan itu, agar kebaikan dari kerja otakmu menjadi jamak. Tentu kau tahu, bahwa tak ada seorang pun yang tak berbakat menulis. Karena menulis adalah turunan dari membaca, mengalami, dan mikir. Jika engkau berhenti menulis, boleh jadi karena kemampuan otak kita yg jarang terpakai. Ah, bukankah ini sudah kufur nikmat.

Tidak ada resep jitu untuk menulis secara produktif. Kita akan menemukan pedoman kita sendiri dengan cara meramu “misteri menulis” menjadi sejumput teori sederhana. Mulailah segera. Setelah satu atau dua kalimat, cerita tulisanmu itu pun mulai mengalir, akan muncul dari kedalaman diri yang misterius.

Sungguh amat berlimpah ritual peribadatan yang menuntut adanya pemaknaan dalam jiwa para pelaku haji. Ihram misalnya. Semua jamaah harus memakai kain putih tak berjahit. Semuanya, tanpa kecuali. Tanpa membedakan status sosial. Maka bagi mereka, tak penting lagi apa organisasi sosial. Tak penting lagi dari partai apapun mereka berasal. Tak jadi soal apa madzhab fiqih yang mereka anut. Tak peduli dari suku mana mereka berasal. Semua seirama menunaikan perintah Allah, Tuhan yang sama. Menjalankan risalah Muhammad, Rasul yang sama.

Haji, ladang untuk menumbuhkan benih persatuan umat. Bagi mereka, perbedaan adalah keniscayaan sosial. Maka demi tumbuhnya kemajuan, bukan beda yang mereka tonjolkan. Kesamaan lah yang harus menjadi pemersatu. Bayangkan jika jamaah haji thawaf dengan arah putaran yang beda antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Betapa kacaunya.

Maka, bukan saatnya lagi saling debat antar sesama muslim. Tak lagi masanya saling membid’ahkan kelompok lain. Tak jamannya lagi saling sinis hanya karena berbeda madzhab. Karena perbedaan dalam umatku, kata sang Rasul tercinta, adalah rahmat.

Ihram juga memberi ibrah lain, yaitu menjadi lahan tumbuhnya kesadaran pada diri manusia bahwa tak penting apakah anda presiden, menteri, lurah, dosen, mahasiswa, kaum miskin, rakyat jelata, atau apapun status sosial anda. Kita sama di hadapan Allah, yaitu seorang muslim. Artinya dengan ihram seharusnya kesadaran sebagai muslim lebih bertumbuh melebihi kesadaran bahwa anda presiden, menteri, rakyat, lurah, dan lain-lain. Kita adalah muslim. Umat yang terbaik yang diturunkan oleh Allah di muka bumi. Titik.

Lalu apa tugas kita sebagai umat terbaik?.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.“ (Q.s Ali Imran : 110)

Ukhrijats linnaasi.. dilahirkan untuk manusia. Ah, cukuplah kalimat langit ini memberi petunjuk. Kita dilahirkan untuk manusia, bukan untuk Allah. Bahkan jikapun seluruh makhluk-Nya tak ada yang menyembah-Nya, Ia tak ‘kan kehilangan Kuasa. Kita menyembahNya karena kitalah yang membutuhkan Allah.

“Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (Q.s Adz Dzaariyaat : 57)

Ukhrijats linnaas.. dilahirkan untuk manusia. Kesadaran itulah yang harus tertanam. Maka membengkaknya jumlah jamaah haji dalam suatu masyarakat seharusnya berbanding lurus dengan tingkat kemakmuran masyarakat tersebut. Karena seseorang yang telah menunaikan ibadah haji akan memperoleh visi hidup yang lebih tinggi daripada sebelumnya. Ia tak mungkin tega meninggalkan tetangganya berada dalam kesusahan sementara ia mengumpulkan uang agar bisa berhaji lagi tahun berikutnya. Ia akan merasa malu di hadapan Allah ketika tak ikut serta menyelesaikan segala hal yang timpang di lingkungannya. Setelah berhaji seharusnya ia belajar menjadi the main of social change, pelaku utama dalam perubahan masyarakatnya. Ia tak lagi tertarik bekerja keras mengumpulkan uang dengan tujuan agar bisa berhaji agar bisa masuk ‘sendirian’ ke dalam surga-Nya sementara masih terlihat di lingkungannya ketidakadilan dan penindasan kepada kaum mustadz’afin (kaum yang dilemahkan, ditindas, dimelaratkan, dibohongi, disengsarakan).

Ya, itulah yang kita harap, semoga mereka menjadikan ‘haji’ sebagai starting point dalam melakukan segala perombakan sosial demi kesejahteraan lingkungannya.

Beberapa bulan terakhir, dayu shalawat mulai membahana di kampus ITS. Setelah bertahun-tahun ITS hanya dihias oleh musik-musik modern yang garing hikmah serta nasyid-nasyid acapella yang kering estetika. Kini, tradisi shalawatan mulai berkecambah, tumbuh, dan mendadak menjadi dewasa dengan akselerasi yang cukup drastis di ITS. Melalui Unit Kegiatan (UKM) Mahasiswa Cinta Rebana, anak muda NU di ITS mulai percaya diri untuk menunjukkan ke-NU-annya. Bahkan saat ini, hampir setiap acara keagamaan yang diadakan di ITS, tak pernah lepas dari iringan shalawat dari UKM Cinta Rebana.

Momentum ini dimanfaatkan dengan baik oleh para mahasiswa yang berasal dari kalangan nahdliyin untuk menjadikan NU lebih eksis lagi di kampus yang sejak lama didominasi oleh kelompok islam revivalis itu. Bahkan, pada hari Kamis, 19 Nopember 2009, menjadi hari bersejarah bagi komunitas NU ITS. Karena pada hari itu, pertama kalinya acara diba’ dan shalawat dilaksanakan di masjid kampus Manarul Ilmi ITS.

Mungkin bagi sebagian orang melihat fenomena ini hanyalah hal yang biasa saja. Tetapi bagi komunitas NU di ITS, kabar ini adalah fenomena yang ‘aneh’. Karena mereka mengetahui, betapa sulitnya untuk mengadakan kegiatan diba’ di masjid kampus ITS maupun beberapa PTN lainnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa masjid kampus sejak lama hanya ‘dihuni’ oleh kelompok mahasiswa yang berasal dari kaum revivalis islam yang cenderung menganggap acara-acara itu sebagai bid’ah. Ya, masjid kampus sejak lama telah ‘dikuasai’ oleh kelompok yang -dalam kalimat Gus Dur disebut- berislam gaya Timur Tengah.

Gaya berislam Timur Tengah dikhawatirkan Gus Dur menimbulkan gaya berislam yang cenderung keras, tidak kompromistis dan memahami agama sebatas apa yang tertulis. Maka beberapa hari menjelang dilaksanakannya acara diba’ dan shalawat tersebut, ada kekhawatiran pada beberapa sahabat bahwa acara ini akan menimbulkan konflik dengan pihak masjid Manaru Ilmi. Tetapi dengan niat yang bersih, yakni ingin menghidupkan tradisi baik di masjid kampus, akhirnya kegiatan ini dipermudah oleh Allah.

♥ ♥ ♥

Untuk artikel lanjutannya sengaja saya delete, karena sangat provokatif. Saya takut efek negatif yg timbul lebih besar daripada dampak positifnya. Afwan

VS

Agak lama saya mendengar gaung kedua novel itu. Tapi dulu, seperti biasa, saya tak punya cukup kesabaran untuk membaca bab demi bab untuk mengetahui jalan ceritanya. Karena untuk membaca sebuah novel tujuan saya hanya ingin tahu ceritanya. Maka kalau dengan meloncat-loncat antar bab bisa dipahami, kenapa saya harus menghabiskan banyak waktu untuk membaca perkalimat dalam novel itu?. Begitu pikir saya.

Tetapi beberapa hari terakhir, saya cukup punya alasan untuk membaca dua novel itu. Oia, maaf sebelumnya jika saya menyebut Sandiwara Langit juga sebagai novel, meskipun sebenarnya ceritanya –sebagaimana disebut oleh Ust. Umar, pengarangnya- adalah kisah nyata. Namun bagi saya, penceritaan dalam Sandiwara Langit maupun Tuhan Izinkan Aku jadi Pelacur cukup memenuhi syarat untuk disebut sebagai karya yang terilhami oleh kisah nyata. Andrea Hirata menyebutnya dengan istilah Fiktif Literary. Karya fiksi yang diangkat dari kisah nyata.

♥ ♥ ♥

Sandiwara Langit

Buku ini terbit pertama kali pada April 2008, dan cetakan keduanya Agustus pada tahun yang lama. Artinya buku ini sejak awal kehadirannya memang cukup diminati pembaca. Meskipun ditulis dengan bahasa yang ringan, dengan penceritaan yang sangat sederhana. Kita maklumi itu, karena ust. Umar –penulisnya- benar-benar berhati-hati dalam proses penceritaannya agar tak jauh berbeda dengan kisah aslinya.

Inti dari buku ini adalah menceritakan tentang dua tokoh utama, Rizqan dan Halimah. Rizqaan, pemuda shalih yang memutuskan untuk menyegerakan nikah di usianya yang belum menginjak kepala dua karena ketakutan yang luar biasa kepada fitnah masa muda. Dengan segala keterbatasan dirinya. Modal belum punya, pekerjaan pun belum ada. Sedangkan Halimah, pemudi shalihah, putri pak Razaq, seorang pengusaha kaya raya.

Meskipun terkesan nekad, Rizqan memutuskan untuk mengkhitbah Halimah. Uniknya, pak Razaq hanya mau menikahkan Halimah dengan Rizqan dengan satu syarat, yaitu bila dalam 10 tahun Rizqan tidak bisa sukses dan membahagiakan Halimah, maka ia harus menceraikannya.

Rizqan setuju. Dan kehidupan rumah tangganya dimulai dengan banyak perjuangan yang tak mudah. Bermacam ujian dan cobaan yang digambarkan, namun senantiasa dihadapi oleh mereka dengan suatu sikap yang sudah selayaknya dimiliki oleh seorang muslim. Hingga berbagai cobaan yang mereka hadapi bukan lagi dalam bentuk kesulitan namun justru suatu nikmat yang juga punya potensi untuk menjerumuskan mereka ke jurang nista.

Rizqaan memulai berdagang menjajakan roti dari suatu pabrik dengan sedikit modal yang dimilikinya. Mereka memulai hidup dalam keprihatinan, mereka bahkan makan nasi putih dengan garam dan bawang goreng, dan bermacam cobaan lainnya. Berkat kegigihan dan kejujuran Rizqaan dalam berdagang, juga kesabaran Halimah istrinya untuk menerima keadaan mereka dan keuletannya memanage keuangan rumah tangga. Pelan tapi pasti kehidupan keduanya berangsur membaik. Rizqaan menjadi penjual roti keliling yang sukses. Akhirnya ia bisa mendirikan pabrik roti sendiri. Intinya dia jadi kaya raya.

Nah, menjelang sepuluh tahun, ia terkena musibah. Hingga suatu malam tiba, dimana malam itu pada bulan kedua belas dan hari “H” tinggal hanya dua hari lagi terjadi musibah besar yang memporak-porandakan kehidupan yang selama ini mereka bangun dengan susah payah. Kebakaran melanda pabrik dan rumah mereka, hingga ayah Rizqaan meninggal dunia karena musibah itu. Belakangan di akhir cerita diketahui, bahwa kebakaran tersebut merupakan ulah dari saudara jahat Halimah yang bernama Asyraf agar ayahnya memenangkan perjanjian dan Halimah menikah dengan lelaki lain yang lebih kaya.

Emang mirip sinetron-sinetron televisi sich.. tapi nggak pa2, karena ini kisah nyata, jadi lebih menarik. Di akhir kisah, banyak pembaca yang katanya meneteskan air mata membaca endingnya. Apalagi diiring lagunya Opick, Bila Waktu Tlah Berakhir.. huww.. lumayan mengharukan.

Ini saya kutipkan endingnya,

♥♥♥♥

Suatu ketika Halimah dan kedua orang tuanya berkunjung ke rumah Rizqaan yang kini telah mapan kembali.

♥♥♥♥

“Kami datang, untuk sebuah keperluan yang mungkin tak pernah kamu duga ananda. Setelah perdebatan panjang, dan banyak kisah-kisah di sekitarnya, kami berniat, akan menikahkanmu kembali dengan putri kami, Halimah…..”

“A….pa…? menikahkanku kembali dengan Halimah” Rizqaan tergagap. Ia tak mampu berbicara. Ada kelebatan sinar menyapu otaknya. Sehingga ia nyaris hanya bisa terpaku karena kegembiraan yang tidak terkira.

♥♥♥♥

“Abuya….”

“Maaf, aku belum menjadi suamimu lagi….” sela Rizqaan

“Izinkan aku tetap memanggilmu Abuya. Aku tak terbiasa dengan panggilan lain.”

“Baiklah. Ada apa Adinda?”

“Abuya. Apakah abuya siap menikahiku lagi?”

“Adinda Halimah, kenapa aku tidak siap? Dari dulu aku tak pernah berniat menceraikanmu. Aku senantiasa mencintaimu. Hanya karena kita bukan suami istri lagi, aku selalu menindih rasa cintaku itu sekuat mungkin. Tapi bila diberi kesempatan menikahimu lagi, aku tak mungkin menolak.”

“Meskipun misalnya aku memiliki kekurangan yang tidak kumiliki sebelumnya?”

“Kekurangan apa Adinda?”

“Jawab dulu pertanyaanku.”

“Ya. Aku akan menikahimu dengan segala kekuranganmu yang ada. Selama itu bukanlah cacat dalam agamamu yang tidak dapat diperbaiki.” Ujar Rizqaan tegas.

“Abuya. Aku ingin Abuya menikahiku. Karena aku ingin mati dalam keridhaan seorang suami shalih…..” Halimah berhenti sejenak. Ada keharuan yang membuatnya tercekat, sehingga sulit bicara.

“Abuya bisa segera menikahiku. Tapi aku tak tahu, apakah keinginan itu akan tetap ada, setelah Abuya mengetahui kekuranganku sekarang. Abuya, aku baru saja satu minggu yang lalu melakukan check up. Dan aku terbukti mengidap leukimia…” sampai disitu, Halimah terisak. Ia tak mapu melanjutkan bicaranya.

Rizqaan merasa tersentak. Tapi demi Allah, ia tak sedikit pun merasa sedih. Kegembiraan bisa kembali bersama istrinya, tak bisa terkalahkan oleh kesedihan atas kondisi Halimah tersebut.

“Dokter mengklain bahwa usiaku tak akan lebih dari 3-4 bulan saja….” kembali Halimah menangis.

“Aku tidak peduli. Umur ada di tangan Allah. Manusia hanya mapu mengira-ngira. Nyawaku, bisa saja lebih dahulu terenggut daripada nyawamu. Aku akan segera menikahimu. Biarlah Allah yang menentukan akhir perjalanan hidup kita. Bagiku, hidup atau mati bersamamu, dalam “kecintaan” Allah adalah sebuah kenyataan yang paling penuh berkah”. Rizqaan berbicara dengan kayakinan kokoh membelit jiwanya.

♥♥♥♥

Rizqaan dan Halimah kembali hidup berbahagia. Mereka kembali mengulang masa-masa penuh keceriaan di antara mereka. Satu bulan kemudian, anak mereka yang kedua lahir. Ia seorang bayi perempuan yang cantik. Mirip ibunya, Halimah. Bayi itu dilahirkan dengan cara normal. Bayi maupun ibunya sama-sama selamat.

♥♥♥♥

Kebahagiaan mereka berlanjut, sampai suatu ketika datang berita bahwa abang Halimah, Asyraf menjadi buronan polisi dikarenakan kasus narkoba, dan juga berita tentang dalang penyebab kebakaran yang menewaskan ayah Rizqaan. Karuan berita itu membuat kegembiraan mereka semua hilang. Ayah Halimah yang kini menjelma menjadi orang baik hati marah besar kepada anaknya tersebut. Dan Halimah seketika jatuh pingsan dan sakit.

♥♥♥♥

Sore menjelang Maghrib, Halimah terbangun. Disampingnya duduk Rizqaan. Sementara di depannya, Ayah dan ibunya duduk diatas kursi plastik. Mereka semua cemas menantikan kesadarannya. Seorang dokter perempuan –yang sengaja diundang ke rumah- mendekatinya. Memeriksa nadinya, lalu memberikan suntikan di bagian lengannya.

“A…..Abuya….” Halimah berkata lirih.

“Aku disini Adinda”

“Alhamdulillah. Apakah sudah maghrib? “tanya Halimah.

“Belum. Masih kira-kira sepuluh menit lagi.”

“Abuya…”sapa Halimah pelan.

“Ada apa Adinda.”

“Apakah Abuya masih mencintaiku?”

“Tentu Adinda. Aku selalu mencintaimu karena Allah.”

“Aku juga mencintaimu karena Allah, Abuya.” Halimah diam sejenak lalu ia bertanya lirih.

“Apakah engkau akan tetap bersabar atas segala yang menimpa kita, Abuya?”

“Engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar, Adinda….”

“Abuya. Jawablah pertanyaanku.”

“Ya. Apa Adinda?”

“Apakah engkau meridhaiku sebagai Istri?”

“Sudah tentu Adinda. Suami mana pun akan meridhai istri seshaliha dirimu. Setaat dirimu. Sepatuh dirimu. Kamu bukanlah wanita yang tak memiliki kekurangan atau kesalahan. Tapi dengan keshalihanmu, ketaatanmu, kepatuhanmu, aku senantiasa ridha terhadapmu…..”

“Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shaalihaat. Aku ingin termasuk di antara wanita yang disebutkan dalam Hadits.”

“Bagaimana itu Adinda?”

أًَيُّمَا امْرَ أًَ ة مَا تَتْ وَ زَ جُهَا عَنْهَا رَا ض د خَلَت الْجَنَّهَ

“Wanita mana pun yang meninggal dunia sementara suaminya ridha kepadanya, ia pasti masuk surga.”

Halimah mengucapkan Hadits itu sedemikian fasihnya. Arab, berikut terjemahannya.

“Semua wanita shalihah, mengidamkan hal itu Adinda, dengan izin Allah, Adinda akan termasuk di dalamnya.”

“Allahumma amien. Abuya, sekarang aku puas. Apaun yang terjadi atas diriku, kini aku sudah kembali menjadi istrimu. Aku telah berdo’a setiap malam, agar aku bisa berdampingan dengan suami yang shalih. Sehingga kalaupun mati, aku akan mati dengan keridhaan Allah kemudian dengan keridhaan suamiku…..” Halimah berhenti sejenak.

“Abuya, betapa indahnya bila Allah betul-betul mencintai kita. Aku ingin dengan cinta-Nya, kita berdua menuai bahagia seutuhnya. Kebahagiaan yang bukan Cuma di dunia, tapi juga di akhirat.”

Halimah menghela nafasnya yang terasa begitu berat.

“Abuya bila aku sudah tiada, berjanjilah untuk senantiasa berjalan di atas ajaran Allah. Didiklah anak kita, dan berbaktilah kepada orang tua….”

“Jangan berkata begitu Adinda….” Rizqaan menyela.

Halimah memberikan isyarat dengan tangannya, agar Rizqaan tidak bertanya apa-apa.

“Berjanjilah Abuya…..”

“Aku berjanji Adinda. Tanpa berjanji pun, ketaatan kepada Allah adalah janji seluruh manusia saat mereka berada dalam perut ibu mereka….” ujar Rizqaan.

“Alhamdulillah…….”

“Abuya….tabir itu mulai terbuka…..Aku mencintaimu, Abuya. Abuya tak perlu meragukan cintaku. Tapi aku lebih merindukan Allah. Bila ini kesempatanku bersua dengan-Nya. Aku tidak akan menyia-nyiakannya sedikit pun…….”

“Adinda….”

“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”

“Adinda….”

“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”

“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”

“Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”

Suara tahlil itu semakin lembut dan syahdu dari mulut Halimah. Terus menerus. Semakin lama, semakin lemah. Namun semakin syahdu. Sampai akhirnya suara terakhir terdengar, masih sama, “Laa ilaaaha illallah…muhammadurrasulullah……”

Usai berakhirnya suara itu, nafas Halimah terhenti. Di tengah keheningan kamar di rumah mereka, yang masih tercium bau catnya. Karena belum lama dibangun Halimah mengehembuskan nafas terakhirnya. Sang ibu menjerit. Sang bapak menangis. Rizqaan juga tak kuasa menahan air matanya yang tiba-tiba mengalir deras. Pernikahannya dengan Halimah yang merupakan masa kembalinya kebahagiaannya yang beberapa saat nyaris lenyap, kini nyaris terenggut kembali. Tapi kepergian Halimah dengan kondisi yang menyemburatkan aurat Surga, membuat hatinya terasa nyaman. Ia bersedih, tapi juga berbangga dengan istrinya. Kesedihannya pupus perlahan karena rasa bangga bercampur rasa iri yang menyejukkan jiwanya. Betapa berbahagia Halimah.

Tak lama kemudian, adzan maghrib terdengar. Mereka mendengarkannya dengan khusyu’. Saat lantunan adzan berhenti, Ayah Halimah mendekati Rizqaan. Ia manatap menantunya yang sekian lama ia kecewakan. Sekian lama ia perangkap dalam kesukaran dan penderitaan. Pria yang –dengan seizin Allah- telah mengubah wujud putrinya, sehingga menjelma menjadi wanita shalihah begitu setia pada kebenaran. Ia menatap pemuda itu. Air matanya menetes tak terbendung. Penyesalan membuncah sehingga nyaris membakar otak. Ia nyaris bisu dalam suasana hati yang kuyup penyesalan.

“Duhai, seandainya aku masih memilki putri yang lain. Pasti aku akan menikahkannya denganmu, ananda.” Ujar ayah Halimah kepada Rizqaan.

“Halimah sudah cukup bagiku pak. Nikahkanlah aku kembali dengan putrimu itu pak.”

“Aku sudah melakukannya dua kali ananda…..”

“Cobalah untuk yang ketiga kalinya pak…”ujar Rizqaan lirih.

“Itu bukan lagi hakku ananda. Biarlah Allah yang akan menikahkanmu dengannya di Surga kelak. Relakanlah kepergiannya saat ini. Semua kita toh pasti akan mati juga. Gapailah Surga dengan amal ibadahmu. Dengan ketulusan hatimu. Hanya dengan itu Allah akan berkenan mempertemukanmu kembali dengannya…..”

Rizqaan tersenyum.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

وَادْخُلِي جَنَّتِي

Hai jiwa yang tenang

Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.

Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,

masuklah ke dalam syurga-Ku.

♥ ♥ ♥

Tuhan, Izinkan Aku jadi Pelacur

Buku ini terbit pertama kalinya pada tahun 2003. Tapi untuk buku yang saya baca ini tertulis cetakan keduanya pada tahun 2007. Saya kurang tahu bagaimana bisa lama begitu untuk cetakan berikutnya. Padahal saya dengar karena banyaknya kontroversi pada novel ini, maka novel ini sangat laris di pasaran, bahkan saya baca dari sebuah website, pada tahun 2005 sudah cetakan ke-12. Entah mana yang benar, tapi disebutkan juga, untuk cetakan pertama penerbitnya adalah Melibas, dan cetakan yang sedang saya baca ini penerbitnya ScriPta Manent.

Bahasa yang digunakan oleh penulis, Muhidin M Dahlan, saya nilai lebih ‘nyastra’ daripada Sandiwara Langit.

Kebetulan sinopsis di cover belakangnya juga sangat menarik:

Dia seorang muslimah yang taat. Tubuhnya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar. Hampir semua waktunya dihabiskan untuk shalat, baca Al Quran, dan berzikir…

Tapi di tengah jalan ia diterpa badai kekecewaan. Organisasi garis keras yang mencita-citakan tegaknya syariat Islam di Indonesia yang diidealkannya bisa mengantarkannya ber-Islam secara kaffah, ternyata malah merampas nalar kritis sekaligus imannya. Setiap tanya yang dia ajukan dijawab dengan dogma yang tertutup. Berkali-kali digugatnya kondisi itu, tapi hanya kehampaan yang hadir. Bahkan Tuhan yang dia agung-agungkan seperti lari dari tanggung jawab dan ‘emoh’ menjawab keluhannya….

Baca sinopsis itu saja saya lagsung tertarik untuk segera membacanya hingga akhir.

Novel ini bercerita tentang seorang gadis, Nidah Kirani, yang mengamalkan agama lebih sebagai rangkaian ritual. Ia rindu untuk segera mengamalkan agama secara kaffah. Bukan hanya ritual seperti yang dipahami masyarakat pada umumnya. Dia rindu  memperdalam agama lebih dari masyarakat umum memahaminya. Kerinduan itu mengantarnya pada seorang teman diskusi yang fasih mengutipkan dan menjelaskan ayat untuk menjawab keingintahuannya. Tak butuh waktu lama, ketaatannya pada agama membuat dia hampir melupakan masalah lahir /duniawi, kemudian timbul pemikiran dan semangat lain dalam dirinya. Semangat menegakkan Syariat islam.

Semangat itu akhirnya mendapat jalan ketika dia dengan rangkaian cerita akhirnya masuk sebuah organisasi yang notabene memperjuangkan berdirinya syariat Islam. Tetapi apa akhirnya yang didapat?. Kekecewaan, ya kekecewaan yang sangat ketika ternyata semuanya yang dipikirkan sebelumnya tidak sesuai dengan kenyataan. Dalam perjalanannya ia harus menemui sebuah alur pikir yang tak sesuai dengan yang diharapkan. Karena ternyata wawasan kawan-kawannya hanya sebatas itu-itu saja. Setelah bergaul cukup lama dengan komunitas dakwah kampus yang dari luar terlihat semangat dakwahnya menggebu, ternyata ereka hanyalah ‘korban’ keringnya islam di masa dini. Sehingga ketika menyaksikan ada ajaran islam yang instan dan siap saji, yang menyuguhkan pola keislaman yang berbeda dengan yang dipahaminya sebelumnya, ia akhirnya tertarik untuk mengikuti sebagian kecil kelompok aktivis muslim yang diketahuinya sangat semangat dan santun itu. Dalam kalimat Muhidin M Dahlan begini:

Kucoba bertanya banyak hal, tapi selalu tidak terjawab. Begitu sedikitnya wawasan ikhwan ini. Tiap minggu yang dia kasih cuma ceramah yang itu-itu saja yang sangat membosankan, “Dakwah ya. Kalian itu disuruh berdakwah. Berdakwahlah.” Ketika kutanya apa sasarannya ke depan, jawaban yang ia berikan berputar di situ lagi. Aku jadi berpikir, jangan-jangan orang ini sama juga denganku, sama-sama udim politik dan wacana pergerakan. Dalam tubuh Jemaah hanya segelintir orang yang tahu mau ke mana Jemaah ini hendak dibawa (hal. 85)

Kekagumanku pada Mbak Auliah pun perlahan memudar. Ternyata ia bukan seorang ukhti yang kuidealkan. Perhatiannya yang menyejukkan, penuh persaudaraan, dan sungguh-sungguh kepadaku, ternyata tidak dibarengi dengan keluasan wawasan dan kedalaman pikir untuk mengajarkan ilmu kepada yang lain (hal. 62 – 63)

Organisasi yang dianggap akan membawa dia dalam kesyahidan ternyata hanya kepalsuan dan kebohongan. Dan ketika dia ingin berontak dan mundur, dia mendapatkan tekanan yang luar biasa beratnya baik dari organisasi tersebut maupun dari dalam dirinya sendiri dan lingkungannya.

Akhirnya, dia merasa hidup tidak ditolong tuhan, dan bertambahlah kekecewaanya. Kekecewaan membuat dia bimbang, tapi semakin jujur, jujur akan kemunafikan, ketika semua realita terungkapkan, ketika kejujuran yang bersembunyi dibalik kedok agama terbuka, ia akhirnya terjerumus menjadi pelacur. Bukan karena alasan ekonomi, tetapi untuk menggugat tuhan yang (menurutnya) tak pernah menolongnya.

Cerita ini menggambarkan suatu pergulatan batin seseorang yang kecewa. Mungkin cerita ini dirasa kurang logis, kok dari alimnya gitu bisa ndadak jadi pelacur?. Penjelasannya mungkin begini, mungkin lho ya. Ketika seseorang tidak mendapatkan bahwa apa yang diharapkan, maka dia akan menjadi sangat kecewa, dan konsekuensinya adalah melakukan perubahan yang drastis. Dan jika suatu hal membuat kita kecewa, tidakkah secara instink dia akan “lari” ke titik yang berlawanan?. Fenomena yang sama kerap terjadi pula pada suatu kasus yang berkebalikan: seseorang yang tadinya kehidupan beragamanya biasa-biasa saja atau malah tidak perduli sama sekali dengan agama, ketika sampai pada suatu titik yang sangat mengecewakan, bisa berbalik menjadi sangat religius bahkan mengarah pada fanatik. Logis?. Wajarlah!. Sory, ane kan bukan lulusan psiko..Hehe..

♥ ♥ ♥

Ah, sudahlah. Tak panjang-panjang saya buka tentang isinya. Saya malah tertarik tentang Surat Untuk Pembaca yang dilampirkan di akhir buku.

Banyak sekali cercaan maupun pujian terhadap buku ini. Penulis menceritakan di bagian akhir buku ini dengan judul : yang memuji yang mengutuk. Selain pujian, si penulis menerima banyak kutukan dan makian untuk bukunya ini. Dari tuduhan bahwa dia kafir, Marxis, benci agama, berusaha merusak akidah dengan kecanggihan tulisannya, hingga prasangka tentang tuduhan adanya peran Zionis di balik penerbitan buku ini. Bukunya dikatakan sampah yang tak layak dibaca, wajib ditarik karena mencemarkan nama baik agama. Penulis diminta untuk bertanggung jawab atas akibat sosial: merusak iman remaja dan akhlak bangsa.

Tapi saya tertarik cara si penulis menjawab cacimaki itu:

Iman yang tak digoncangkan, sepengetahuan saya, adalah iman yang rapuh. Iman yang menipu. Hati-hati! (hal. 260)

Toh, seandainya saja ada yang tersesat setelah membaca buku ini, jangan melulu menyalahkan buku ini. Yang kita pertanyakan justru iman pembaca yang bersangkutan: betapa tipisnya iman mereka yang tersesat hanya dengan isi buku kecil ini. (hal. 259)

Penulis itu, dalam keyakinan saya, mirip dengan tukang besi pembuat pisau. Tentu saja pembuat besi tidak bisa dimintai pertanggungjawaban sekiranya pisau buatannya disalahgunakan oleh seseorang untuk membunuh… Tapi pun kalau dimintai pertanggungjawaban, maka bentuknya yang paling mungkin adalah dengan menghadiri diskusi buku yang bersangkutan. Maaf, saya seorang penulis, dan tugas saya adalah menulis dan mengungkapkan kebenaran yang menurut saya benar. (hal. 257)

Pesan saya: This book is recommended to read, and it is you to judge the story.

Kisah Awal Menulisku..

writingletters

“Semoga Allah berkahi tiap kata yang mengalir dari jemari kita. sungguh sebuah buku dapat merubah jiwa manusia dan nasib dunia” (M. Fauzil Adhim)

Sedikit Ceritaku..

Awalnya hanya sebuah riak-riak kecil berupa harapan untuk berbagi. Berbagi sedikit pengetahuan dan pengalaman melalui artikel-artikel kecil dalam sebuah blog. Menulis yg terpikir. Mengetikkan yg terenung. Mencoretkan yg terkenang. Namun lewat lisan polos seorang sahabat(i) yg berkomentar terhadap tulisan-tulisan saya di blog yg menurutku tak beraturan, susah dimengerti, mbulet, dengan bahasa yang sok (ng)intelek & idealis, ia justru memberi saran “Terus menulis ya.. ntar tulisan2nya dikumpulin, ‘kan lama2 bisa jadi buku…”. Saat itu masih sebuah harapan yg terlalu mengawang-awang, “Buku? Wah, terlalu tinggi. Bisa ngerti tulisanku aja mending…”.
Tapi semangat untuk terus belajar saat itu masih tinggi. Dengan satu tujuan, pembaca bisa mengerti apa yg kusampaikan. Sederhana memang. Tapi niat polos itu ternyata melahirkan berkah.

.
Awal Maret 2009, sebuah penerbit menyatakan tertarik dengan seri artikel ‘Rahasia Doa’ yg kutulis dan ku posting hanya beberapa hari. Seingatku tak sampai satu minggu. Penerbit itu menilai penuturan dari seri rahasia doa yang kuungkap unik. Ide-ide jarang tersampaikan dalam tulisan-tulisan maupun ceramah-ceramah umum. Tapi penerbit itu ingin mengkhususkan rahasia doa itu terangkai untuk menyambut momentum musim ujian bagi siswa-siswi sekolah. Judul yg ditawarkan ‘Rahasia Doa Lulus Ujian’. Tapi, saat itu ku tak langsung setuju. Karena bertepatan dengan saat ku punya harapan untuk mendirikan sebuah usaha. Ya, usaha kecil-kecilan. Untuk memulai memutus ketergantungan dari jatah beasiswa dari kampus yang sebenarnya lebih dari cukup untuk membiayai hidup sehari-hari.

.
Nah, dari sana timbullah niat untuk mendirikan usaha penerbitan, singkat cerita, akhirnya berdirilah penerbit Marsua Media pada akhir Maret 2009. Kucoba tanya-tanya ke pimpinan penerbit yg sudah berpengalaman. Ternyata cetak buku minimal di penerbit adalah di atas 2000 eksemplar. Wuih, butuh banyak modal donk.

.
Tapi akhirnya, dengan modal yg serba pas-pasan, kucoba untuk mengoptimalkan karya perdana ini. Asal terbit lah. Ya, untuk cetakan pertama saat itu asal bisa terbit aja syukur. Karena memang karya ini adalah hanyalah karya kumpulan artikel yang sangat sederhana di blog yg tentu saja tak beraturan, asal bisa terbit dan diterima pembaca, tentu sebuah kegembiraan yang luar biasa.

.
Tapi berkah itu pun muncul. Satu bulan setelah kukirim ke distributor untuk didistribusikan ke toko-toko buku, distributor menyatakan stok buku 9 Rahasia Doa Lulus Ujian minta segera dikirim, karena stok di distributor telah habis. Saat itu ucapan Alhamdulillah saya sertai sujud syukur, karena tak ku sangka karya itu bakal secepat itu habisnya. Hingga Mei 2009, cetakan ketiga telah terdistribusi. Sebuah awalan yg luar biasa bagi seorang pemula yg sedang belajar. Maka sejak cetakan ketiga, Best Seller pun tercantumkan di cover.

.
4 bulan berlalu, cetakan keempat pun terbit. Jika dirata-rata satu bulan sekali naik cetak. Hasil penjualan pun sudah bisa untuk mencetak dua kali lipat buku cetakan sebelumnya, mencetak satu buku baru, dan sisanya sedikit diinvestasikan. Saat ini (yg berarti enam bulan sejak awal saya mulai belajar menulis buku) Alhamdulillah telah terselesaikan 4 buku dan sekarang sedang menulis buku kelima.

.
Itulah berkahnya. Enam bulan belajar menulis, dan dalam perjalanan belajar ternyata bisa sekaligus menghasilkan 4 karya. Itulah yg menurutku berkah. Ribuan mata membaca tulisan tak beraturan itu. Hadiah nampaknya, tentu berupa ratusan SMS, kiriman email, serta saat bertatap muka yg kadang berupa pujian, kadang saran, terkadang nasehat, ada pula makian.
Ah, itulah indahnya, dari sana jiwa ini bisa banyak belajar. Semakin banyak saudara-saudara baru yang secara tak langsung perhatian.

.
Nikmat lain tentu materi. Awalnya tak menyangka juga, dari niat mendirikan usaha kecil-kecilan ternyata buahnya lumayan tiap bulan, sedikit mirip dg gaji bulanan PNS yang telah mengabdi bertahun-tahun lah. Hehe..
Bukannya berbangga dg prestasi yg saya anggap kebetulan itu. Tapi sedikit berbagi, bahwa dg niat yg tulus untuk berbagi, insyaallah keberkahan akan mengekor di belakangnya.

.
Lebih dari materi. Impian terbesarku dari menulis adalah ketika nanti di Mahsyar ku terbelalak melihat catatan amalku, “Ya Allah, bukankah timbangan amalku tak sebesar ini?”, kemudian ku terima jawaban dari-Nya, “Ya, kau benar. Tapi ribuan orang telah tergerak beramal kebaikan setelah membaca tulisan2mu. Berantai amal sunnah terkerjakan setelah ribuan manusia membaca karya dari jemarimu”. Ah, demi Allah Yang Maha Tahu, itulah harapan tertinggiku.

.

Sejarah hanya ditulis dengan nuansa dua warna, hitam tinta para ulama’, dan merah darah para syuhada’.
(Abdullah Azam)

Bergerak atau Mati!

geraklh

Teruslah bergerak, hingga kelelahanlah yg lelah mengikuti gerakmu.

Teruslah berlari, hingga kebosanan yg justru bosan mengejarmu.

Teruslah berjalan, hingga keletihan yg akan letih bersamamu.

Tetaplah berjaga, hingga kelesuan menjadi lesu menemanimu.

Karena tak ada sedetik pun jedah istirahat sblm kita menginjakkan kaki di pelataran surga.

butuh Allah

Ada kalimat yang selama ini menggema dari Catatan Pinggir Gunawan Muhammad, “Tuhan tidak butuh sembahyang manusia”.

Tak ada yang membantah kebenaran kalimat itu. Saya yakin. Bahkan jikapun seluruh makhluk-Nya tak ada yang menyembah-Nya, Ia tak ‘kan kehilangan Kuasa.

Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (Adz Dzaariyaat : 57)

Tapi sayang, kalimat yang benar tidak selalu membuahkan kebenaran. Seperti Ali radhiyallahu ‘anh saat mengomentari Khawarij yang gemar menyelewengkan ayat, Ali berkata, “Kalimatu haqqin, wuridha bihal baathil.. kalimat benar yang dengannya termaksud kebathilan”.

Tak harus selalu bertentangan dengan Pak Gunawan Muhammad serta rekan-rekannya di komunitas Utan Kayu. Sebagaimana kita juga tak harus selalu sependapat dengan mereka. “Setiap orang bisa diterima atau ditolak kata-katanya” seru Imam Malik di Raudhah Masjid Nabawi, “Kecuali orang yang berada dalam kubur ini!” Beliau menunjuk ke arah makam Rasulullah.

Imam Malik benar, dan saya memilih tidak sependapat dengan Pak Gun yang gencar menyuarakan kalimat di atas. Kenapa? Ya, Pak Gun menggemakan Adz Dzaariyaat ayat 57 tapi menegasikan ayat 56 nya.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz Dzaariyaat : 56)

Tulisan-tulisan komunitas Utan Kayu memang kritis. Kita akui itu. Referensi-referensinya juga luas. Kita juga paham itu. Tapi semua itu tak boleh menjadikan kita senantiasa taqlid pada pemahaman-pemahaman mereka tentang segala hal. Karena selama ini kita seringkali terjebak dalam ketertarikan tokoh, bukan pada apa yang disampaikannya.

Sejenak mari kita jadikan kalimat Pak gun di atas sebagai sample. Bukankah kalimat itu bisa mengungkap semangat yang pincang dari perintah beragama?. Yang diungkap oleh pak Gun hanya satu semangat saja, yakni ingin menyadarkan khalayak bahwa beragama tidak semata bergelut dengan ritual formal peribadahan. Pak Gun ingin menekankan bahwa beragama bukan dalam rangka melaksanakan ibadah untuk menyenangkan Tuhan. Tapi Pak gun mungkin tak memprediksi, bahwa kalimatnya itu memberi pemahaman lain pada khalayak awam, “Buat apa sembahyang kalau tuhan tidak butuh?”.

Nah, pemahaman rusak pun semakin menggejala. Bukan hanya pada masyarakat awam, tapi juga kaum intelektual yang berpikir bahwa tugas sosial lebih utama daripada sekedar ibadah-ibadah formal. Lahirlah para pembebas mustadz’afin yang meremehkan sholat. Muncullah para aktivis muslim yang tak pernah menyentuh Qur’an. Lahirlah sang pejuang kemanusiaan yang tak pernah merasai sejuknya puasa di siangnya Ramadhan. Sayang, bukan?. Padahal sang pejuang pembebas bumi dari penindasan tak terbebas dari kewajiban ritual menunaikan kewajiban mahdhah.

 

Miyabi Undercover

miyabipakejilbabyq5Miyabi kalo make jilbab cantik ‘kan?.

Gimana kalo film ‘Penculikan Miyabi’ Miybi disuruh make jilbab+jubah seperti wanita2 muslimah?

Hehe..

Kali ini saya ingin ikut andil berkomentar tentang maraknya kontroversi pada satu wanita terkenal yang saya dari dulu hanya saya ketahui namanya dari cerita kawan-kawan di kampus. Meskipun baru sempat melihat wajah ayu itu beberapa waktu terakhir ini, dari pemberitaan di tv.

.
Saya pernah mengulas artikel yang membahas glasnot vulgar di blog ini juga yaitu tentang Trio Singa yang saya ulas dari segi moralitas religi. Kali ini seperti biasa, saya menggunakan latar religi dalam mengurai masalah ini.
Lumayan sering negeri kita yang sudah carut-marut ini dihebohkan dengan kontroversi terkait hal-hal berbau porno. Mulai dari semakin merebaknya film-film porno, website pornografi yang masih laris, UU antipornografi yang menjadi bahasan cukup lama, serta kasus terakhir yaitu kontroversi dalam pembuatan film yang dibintangi oleh artis porno dari Jepang, Miyabi, yang berjudul Penculikan Miyabi.

.
Penilaian saya tentang hal ini, sederhana saja. Sebagai warga Negara, saya setuju jika Miyabi diizinkan untuk bermain dalam film Indonesia. Alasannya? Karena sampai saat ini belum ada Undang-Undang yang melarangnya. Asal ia bermain sesuai aturan yang berlaku di negeri ini, tegakkan aturan itu dengan objektif.

.
Tapi sebagai muslim, dengan tegas saya menyatakan menolak. Penghancur negeriku adalah musuhku. Seperti kedatangan si Bush yang penghancur aspek ekonomi politik sosial negeri-negeri saudaraku seiman, seperti itu pula saya juga menolak kedatangan Miyabi, si penghancur mental bangsaku.

.

Saya sepakat Miyabi, menurut MUI merupakan lambang pornografi yang kedatangannya akan membuat buruk citra umat beragama di Indonesia. Meskipun film yg digrap bukn film parno. Bahkan kalopun di film itu si miybi make jilbab, apa kita merubah sikap?.

.

Mulai sekarang, udah yah., jangan panjang-panjang mengkontroversikannya. Karena semakin ia kontroversi, ia akan semakin laris. Betul?.

Sampai saat ini saya percaya bahwa manusia besar selalu mengurusi hal-hal besar dalam hidupnya. Maka ketika orang-orang Irak jauh-jauh menemui Ibnu Abbas untuk menanyakan suatu permasalahan, dengan lantang Ibnu Abbas mengingatkan, “Tanyakan padaku perkara besar. Berikan perkara yang remeh pada orang lain”.

.
Apa ini pertanda kesombongan?. oh bukan. Bukannya Ibn Abbas berniat sombong dengan pernyataan itu, Ibnu Abbas ingin kita meneladaninya bahwa dalam hidup kita harus  mengambil peran pada hal-hal yang lebih besar.

.

Bukankah dalam hidup kita selalu ada pilihan-pilihan persoalan. Ada yang kecil dan ada yang besar. Jika dua-duanya adalah permasalahan hidup, mana yang kita prioritaskan untuk segera menyelesaikannya?.

.
Ingat kawan, usia kita terbatas. Kita juga diberi jatah waktu yang sama tiap hari, 24 jam. Jangan sampai permasalahan remeh selalu menghabiskan jatah usia kita, sehingga permasalahan besar terabaikan. Permasalahan bangsa ini juga besar, jangan sampai perhatian kita terserap oleh kontroversi Miyabi ini.

.
Saya jadi teringat kalimat syaikhut tarbiyah saat menyikapi artis dangdut dengan goyang seronoknya, “Lisan kita terlalu mulia untuk membicarakannya”.

.
Ah, begitulah sikap orang-orang besar menghadapi persoalan hidup. Ia fokus pada permasalahan besar negeri ini.
Lalu menyikapinya gimana?

.
Jika bisa dengan tangan, larang kemaksiatan dengan tanganmu, ini jelas tugas pejabat pemerintah. Kalau tidak bisa dengan kuasa, cegah dengan lisanmu, suarakan penolakan kita. bisa lewat ceramah agama bagi para ustadz, ulama’, atau kita-kita yang pada hakikatnya jg da’i. bisa juga lewat tulisan kayak artikel ini. Jangan salah lho, ini juga upaya saya dalam menyuarakan penolakan. Kalau tidak mampu juga, cukuplah hati kita membencinya. Jangan sampai getar hati kita seirama dengan para pendukung dosa.

ifffffmages

atau…

imagdddes

Kata prestasi telah mengalami penyempitan makna seiring penghargaan yang berlebihan terhadap kualitas IQ seseorang. Kita lebih mudah menjumpai apresiasi terhadap prestasi akademik seseorang daripada penghargaan terhadap perjuangan dalam bidang sosial misalnya. Sehingga akan tetap ditulis dengan tinta emas bagi pelajar atau mahasiswa yang memenangkan olimpiade mata pelajaran tertentu, peraih nilai raport atau indeks prestasi akademik terbaik, juara karya ilmiah, meskipun ia tidak pernah mengenal tetangga sebelah rumahnya. Meskipun ia tak mau tahu di depan kampusnya ada ketimpangan sosial. Bahkan mungkin juga menurutnya tidak penting menyaksikan kedzaliman terstruktur dalam beberapa penggusuran PKL di jalanan yang dilaluinya tiap hari. Yang penting belajar dengan rajin, kuliah dengan serius, praktikum dengan lancar, IP bagus, lulus cepat, dapat kerja di perusahaan bonafide, makmurlah hidupnya.

Kita mungkin malu jika menguak sejarah masa lampau tentang peran kaum muda terhadap indahnya nasib negeri ini. Mari sejenak memeriksa memori kita tentang sejarah perjuangan gerakan mahasiswa masa lampau. Kita akan teringat bahwa justru kaum mudalah yang selalu menjadi motor utama perubahan. Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, merupakan hasil konkret perjuangan mahasiswa dan kaum Muda Indonesia. Pada saat itu, kelompok pemuda dari Gerakan Menteng 31 menganggap bahwa masa kekosongan kekuasaan -karena Jepang baru saja kalah dalam perang Asia Timur Raya- harus dimanfaatkan untuk menyiapkan kemerdekaan. Kaum muda tidak sepakat dengan metode yang ditempuh golongan tua (Soekarno dan Hatta) dengan berharap belas kasihan Jepang, dengan bekerja di BPUPKI dan PPKI.  Terjadilah peristiwa Rengasdengklok, mahasiswa dan pemuda menculik Soekarno–Hatta dan memaksa mereka untuk menandatangani teks proklamasi dan membacakannya tanggal 17 Agustus. Kalau bukan kepeloporan kaum muda, insyaallah kita tidak memperingati kemerdekaan tiap tanggal 17 Agustus.

Dalam analisa sejarahnya soal revolusi sosial di Jawa tahun 1945-1946, Ben Anderson menyebut gejolak tersebut sebagai revolusi pemuda, karena pada saat itu golongan pemuda merupakan motor dari revolusi yang tengah bergulir. Bahkan, peranan mereka sekaligus mengalahkan peranan kaum intelegensia dan kelompok lainnya dalam kancah perpolitikan saat itu.

Juga masih lekat dalam ingatan saya beberapa mahasiswa berkali-kali masih menjadi inspirasi perubahan fundamental di negeri ini. Ketika dosen, rektor, menteri bahkan presiden sebagai pemegang amanah kekuasaan dari rakyat tidak mampu lagi untuk mentransformasikan amanah tersebut menjadi suasana keadilan, kesejahteraan dan pemerataan kemakmuran, maka beberapa mahasiswa masih sempat tampil untuk menyuarakannya. Sehingga berulang kali sejarah telah mencatat mereka sebagai aktor penting dalam menentukan hitam-putih bangsa ini.

Anda ingat tragedi turunnya rezim Orde Baru? Mahasiswa menunjukkan taringnya dalam momentum ini. Ketika dunia akademik memaknai prestasi adalah bidang akademik, maka sungguh komponen gerakan mahasiswa yang bisa menjatuhkan rezim Soeharto itu bukanlah mahasiswa cerdas berotak encer. Jika ukuran kecerdasan adalah IPK maka mereka sungguh jauh dari kategori cerdas. Masuk kuliah saja jarang-jarang kok mau IPK bagus. Bahkan ada diantara mereka yang harus di-DO karena kehabisan waktu studi di kampus. Hari-harinya sudah terlanjur digadaikan untuk rapat-rapat aksi, merancang gerakan massa, menggalang kekuatan dari kampus ke kampus. Mereka harus iuran untuk membiayai kegiatan. Kalau perlu ngamen di kantin kampus. Hasilnya bisa dipake keliling untuk konsolidasi. Karena kampus tidak akan sudi membiayai aktivitas semacam itu sekalipun proposalnya dibuat rangkap tiga bahasa.

Lalu untuk apa mereka melakukan “hal bodoh” semacam itu?. Untuk siapa mereka korbankan masa depan mereka sendiri?. Untuk apa mereka berorasi di terik matahari yang menyengat dengan begitu bersemangat?. Apa yang menggerakkan mereka untuk melakukan itu semua?

Ah, saya masih yakin bahwa senyum tulus kebahagiaan yang ditemani mata gerimis dari kaum tertindas menjadi penghargaan dan apresiasi paling fenomenal di hati mereka.

Sungguh, di sini saya hanya ingin mengapresiasi ketulusan yang telah diteladankan oleh rekan-rekan yang terlibat aktif dalam setiap gerakan mahasiswa di negeri ini. Kalau bangsa kita sampai saat ini belum mampu memberikan penghormatan kepada mereka, biarlah tulisan ini yang menjadi inspirasi atas lahirnya generasi-generasi hebat seperti itu satu kali lagi.

Jika kita kaji secara singkat, setidaknya ada beberapa sifat kaum muda masa lalu yang sangat mempengaruhi akselerasi perubahan bangsa menuju ke arah yang lebih baik. Sebut saja semacam tiga pilar utama. Pilar-pilar itu adalah progressif, radikal dan militant.

Progresif, hasrat kaum muda yang menggebu untuk maju dan selalu lebih maju. Radikal, hasrat merubah dan merombak sistem yang usang. Dan militan, pemilik jiwa heroik dan semangat juang yang membaja.

Lalu bagaimana dengan mahasiswa sekarang?

Amatlah berlebihan bila menganggap mereka tidak melakukan apa-apa. Lihatlah mereka sangat aktif mengikuti pelatihan-pelatihan kepribadian (soft skill) yang dianggap cukup sebagai bekal di masa depannya. Lihatlah, waktu luang pun bisa mereka manfaatkan untuk mengerjakan karya tulis ilmiah. Lihatlah, mereka masih terus aktif berdiskusi di kampus, menghabiskan waktu di laboratorium-laboratorium, dan yang juga sering kita jumpai adalah mereka yang sering menghadiri acara-acara di stasiun televisi. Sekalipun rakyat masih harus antri minyak tanah, sekalipun penggusuran semakin marak, sekalipun biaya pendidikan semakin tinggi, sekalipun angka pengangguran terus bertambah, yang jelas sampai saat ini kita dengan bangga menyaksikan puluhan hingga ratusan mahasiswa memakai jas almamater biasa bersorak sorai dan bertepuk tangan di Republik Mimpi, Empat Mata, atau Democrazy.

Duh, lihatlah wajah-wajah mereka yang anggun. Mari kita dengan penuh semangat menyambut mereka dengan pekik: HIDUP MAHASISWA!

Kawan, kalau kau sempat, sesekali cobalah sejenak menelusuri lorong-lorong sempit perkampungan kumuh di kotamu. Pilih salah satu rumah yang paling mengenaskan, ketuk pintunya, ucapkan salam dengan tulus. Setelah kau dipersilahkan masuk, duduklah di sebelah pemilik rumah. Tanyakan padanya, sebenarnya apa yang mereka banggakan dari seorang mahasiswa. Tanya kepada mereka, apakah mereka berbahagia saat bertemu mahasiswa dengan IPK empat?. Tanyakan juga pada mereka, apakah mereka bangga menyaksikan mahasiswa menggema suaranya, bersorak sorai, dan bertepuk tangan di depan kamera televisi seperti itu?. Dan jangan lupa, pungkasi pertemuan itu dengan satu pertanyaan,”Apa yang dapat membuat anda bangga kepada kami?”.

Sungguh, tangis dan jerit masyarakat masih belum redam oleh ulah konyol para insinyur yang dulu lahir dari rakyat jelata, tetapi setelah diwisuda, tanpa rasa berdosa melaksanakan proyek penataan kota dengan menggusur rumah bekas tetangganya dulu. Miris sekali. Ia mungkin lupa, (atau memang nggak pernah ngaji tentang Sirah Shahabat kali yah,,), dialah Amr bin ‘Ash yang dulu sedang menjabat sebagai gubernur sempat berkucuran keringat dingin saat mendapat kiriman tulang dari Umar ibn Khattab yang dibawa oleh rakyatnya yang kebetulan beragama Yahudi.

Awal kisahnya, sang Yahudi saat itu rumahnya akan digusur oleh Amr. Padahal ia bersikeras tidak bersedia untuk dipindahkan dari rumahnya, yaitu sebuah gubuk reot dan beberapa lahan pertanian.

Nah, Amr ‘kan merasa risih, “Masak di sebelah kantor gubernur ada gubuk reot. Milik Yahudi pula”. Akhirnya Amr bin ‘Ash mengancam si Yahudi bahwa jika ia tak mau menjual tanahnya, maka Amr akan menggusurnya.

Mendapat ancaman itu si Yahudi memutuskan melaporkan kepada Khalifah Umar di Madinah. Setelah memperoleh laporan itu, Umar menyuruh si Yahudi untuk mengambil sepotong tulang di tempat sampah. Tulang itu digaris lurus dengan ujung pedang Umar. Si Yahudi disuruh oleg Umar untuk menyampaikan tulang itu kepada Amr bin Ash.

Usai disampaikan, Amr bin ‘Ash mendadak berkucuran keringat saat mendapat kiriman tulang itu. Si Yahudi bingung donk, “Ini gubernur, dapat kiriman tulang aja merinding kaya’ gini”.

Seketika Amr bin ‘Ash menjelaskan kepada si Yahudi, bahwa goresan garis lurus dengan ujung pedang pada tulang itu adalah peringatan keras dari Umar, seolah-olah Umar sedang berkata kepada Amr, ”Hai Amr bin ‘Ash, luruslah kamu dalam menjalankan tugasmu. Jika kau membelok, aku tidak akan segan-segan meluruskanmu dengan pedang ini”.

Si Yahudi takjub dengan keadilan dan keindahan ajaran Islam. Seketika itu juga ia mengucap dua kalimat syahadat.

Duhh,, Alangkah malang nasib kita, kawan seperjuanganku. Dunia ini terlalu sempit kalau hanya kekayaan materi dan kesenangan sendiri yang kita impikan, jabatan tinggi yang kita damba, kursi empuk kekuasaan yang kita harap, namun dengan melupakan tugas sosial kita. Ingatlah, bahwa kehebatanmu akan dicatat dengan tinta emas oleh sejarah melalui kontribusi yang kau berikan pada sesama.

Older Posts »