Feeds:
Posts
Comments

CINTA


love2

Tinta yang menyebabkan titik

Bukan titik yang menyebabkan tinta

Cinta yang menyebabkan cantik,

Bukan cantik yang menyebabkan cinta

Kata pujangga, cinta letaknya di hati. Meskipun tersembunyi, namun getarannya tampak sekali.

Cinta, satu kata yang tidak asing lagi di telinga kita. Ribuan buku tentang cinta telah memenuhi rak perpustakaan-perpustakaan dunia. Mulai dari novel-nonel monumental sampai karya-karya klasik para penyair. Bahkan jika Anda amati cinta telah menjadi satu tema yang paling banyak dibicarakan, ditulis, didiskusikan, didramakan, maupun difilmkan.

Cinta, satu kata yang mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Ia dapat mengubah pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi rahmat. Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancurkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya serta membuat budak menjadi pemimpin. Ah, inilah dasyatnya cinta menurut Jalaluddin Rumi.

Namun hati-hati dengan cinta, karena cinta juga dapat membuat orang sehat menjadi sakit, si gemuk menjadi kurus, si normal menjadi gila, si kaya menjadi miskin, raja menjadi budak.

Cinta, satu perasaan naluriah yang ada dalam jiwa kita. Ia tumbuh apabila kondisi mendukungnya. Ia selalu tumbuh dari dalam, tanpa membutuhkan pengaruh-pengaruh dari luar dan tanpa didramatisasi ataupun di rekayasa. Ia memberi tapi tidak meminta

Cinta adalah perasaan dalam jiwa yang tumbuh secara sendirinya tanpa kesengajaan atau niatan. Jadi jika kita mencinta seseorang, bukan karena diri orang itu, melainkan karena bagaimana dia membuat kita merasa dicintai.

Kepada Tuhan pun cinta itu semakin agung. Orang yang mencintai Tuhan adalah seorang yang sadar bahwa Tuhan telah banyak memberikannya cinta, tanpa mengharapkan imbalan apapun dari hambanya.

Memang tidak sesederhana itu menjelaskan apa hakekat cinta. Mungkin sampai sekarang masih sangat langkah pakar yang berani menjelaskan hakekat cinta, karena pengertiannya sangatlah jelas tapi hakekatnya sangat misterius. Cinta adalah cinta…

”Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, bahkan bila didefinisikan tidak menghasilkan sesuatu melainkan menambah kabur dan tidak jelas, berarti definisinya adalah adanya cinta itu sendiri”.

(Ibnu al-Qayyim)

AKU ADA KARENA CINTA

cinta allah

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”

(QS 32:9)

Allah memulai menciptakan manusia dengan menyempurnakan aspek fisik, baru kemudian Dia meniupkan ruh-Nya. Dengan demikian keberadaan manusia itu terdiri dari unsur jasmani (fisik) dan ruh ( Allah).

Jalaludin Rumi menyatakan bahwa yang pertama diciptakan Tuhan adalah cinta. Cinta merupakan sifat Tuhan, sehingga antara makhluk dan Khaliqnya sama-sama memiliki sifat mencinta. Dari sini Rumi mengajukan gagasan bahwa cinta sebagai kekuatan yang fundamental dalam diri manusia.

Tuhan adalah Cinta. Sang Maha Cinta telah meniupkan cinta-Nya pada setiap pencinta tanpa henti. Cinta akan selalu ada sebagai manifestasi dari keabadian Sang Pemberi cinta.

Karena Sang Pemberi Cinta adalah Penguasa Alam, maka Cinta akan menggerakkan segalanya. Cinta adalah sebab, juga merupakan akibat. Alam semesta adalah wujud Cinta-Nya.

Di saat berdo’a dan sholat, coba Anda sempatkan untuk melafazkan sifat-sifat Allah. Cobalah hayati perlahan-lahan. Coba temukan getarannya di sana.

Sebuah bisikan mulia dan penuh cinta dengan jelas akan memancar darinya. Pancaran dari sifat-sifat mulia Allah. Ibnu ‘Arabi melantunkan syair cintanya:

……

Lempeng-lempeng Taurat dan Kitab Al Qur’an

Kuanut agama cinta

Dan kemanapun arah

yang hendak dituju oleh kendaraannya

Cinta itulah agama,

dan keyakinanku

Syariat, Wujud Cinta

syariat

“Sadat salat pasa tan apti,

Seje jakat kaji mring Mekah,

Iku wis palson kabeh”

(Syekh Siti Jenar)

Anda dapat menjumpai bait di atas di “ Serat Seh Siti Jenar” gubahan Raden Panji Nata. Kalimat dalam bahasa jawa itu jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebihnya “syahadat, sholat, dan puasa tidaklah diinginkan, begitupun zakat, haji ke Mekah. Semuanya palsu belaka”.

Achmad Chodjim dalam bukunya yang berjudul “ Syekh Siti Jenar ( Makna Kematian)” menjelaskan bahwa menurut pandangan Siti Jenar, pada masa itu, kelima rukun Islam itu sudah berubah maknanya dalam hidup ini. Semuanya telah menjadi formalitas belaka. Tidak ada lagi manfaat yang didapat oleh orang Jawa dalam menjalankan syariat yang lima itu. Semua sudah tidak dapat lagi diturut atau dipegangi. Bila ibadah telah menjadi palsu, tidak dapat dipegangi, maka semuanya merupakan keburukan di bumi.

Selama ini kita menganggap bahwa cinta kasih itu kaitannya dengan agama Nasrani. Sedangkan agama Islam kaitannya dengan syari’ah (hukum), ketaatan pada hukum, serta disiplin pada hukum. Padahal Islam adalah agama yang senantiasa mengajarkan cinta. Allah juga selalu menunjukkan cinta lewat syariat-Nya.

Definisi ilmu syariat itu ialah hukum-hukum yang datang dari Allah, yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW yang terdiri dari lima hukum yaitu wajib, sunat, haram, makruh dan mubah. Dengan hukum-hukum ini, syariat menentukan seluruh kehidupan ini ada yang harus dilaksanakan, yakni perkara-perkara yang wajib. Ada yang sebaiknya dilakukan yakni perkara sunat. Ada pula yang harus ditinggalkan yaitu perkara haram. Sedangkan yang makruh sebaiknya ditinggalkan. Ada juga yang boleh dilakukan dan boleh ditinggalkan, yakni perkara-perkara yang dikategorikan sebagai mubah hukumnya.

Dengan kata lain, setiap apa saja bidang yang kita selami di seluruh aspek kehidupan seperti dalam sistem pendidikan, ekonomi, pertanian, kebudayaan, teknologi dan sistem hidup yang lain, tidak akan terlepas dari lima hukum ini. Bidang kajian ilmu syariat ialah tentang kehidupan lahiriah manusia.

Syariat-yang merupakan bagian tak terpisahkan dari perkembangan Islam-merupakan salah satu ‘cara’ Allah dalam mendidik dan mengarahkan manusia menuju kepada kehidupan yang selamat dan bahagia. Sholat misalnya, lebih dari sekedar gerakan dan ucapan lahir, ia memiliki konsekuensi bathin yang justru mesti terjaga terutama di luar waktu sholat. Sudahkah sholat kita mampu menjadi metode pelatihan relaksasi,  menyegarkan hati yang susah, menghidupkan radar bathin yang telah diredupkan dengan persoalan dunia yang setiap hari datang bertubi-tubi tanpa mengenal jeda.

Sudahkah puasa menjadi penjara bagi hawa nafsu kita yang selalu cenderung pada kenikmatan sesaat, menghentikan insting hewani yang telah menyatu dalam tubuh kita. Kalau belum, jangan syariat yang disalahkan, tapi diri kita yang belum sampai pada taraf penghayatan makna syariat itu. Allah telah mengajarkan metode terbaik untuk meraih kebahagiaan sejati, kebahagiaan hakiki.

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya

HIDUP TANPA AGAMA?

images

Apakah manusia mutlak butuh agama?

Apa manusia tidak bisa hidup tanpa agama?

Apakah  agama  masih relevan dengan kehidupan masa kini?

Dulu, ketika pengaruh gereja di Eropa  menindas  para  ilmuwan  karena penemuan  mereka  yang dianggap  bertentangan  dengan  kitab  suci, bagaimana Anda memandang Nicolaus Copernicus, Kepler, dan Galileo Galilei yang dihukum dan ditentang karena menemukan teori Heliosentris?. Bagaimana mereka memandang agama yang telah memiliki kitab suci bertentangan dengan fakta yang terjadi dan terbukti secara sains?.

Yang terjadi ternyata para ilmuan itu mencoba meninggalkan agama, padahal dari pembahasan sebelumnya dikemukakan bahwa agama merupakan fitrah, ia tetap ada dalam diri manusia. Tidak mungkin bisa ditinggalkan.

Dan benar. Ternyata kecenderungan meninggalkan agama itu tidak berlangsung lama. Mereka menyadari akan kebutuhan adanya pegangan sejati dalam hidup. Pegangan pasti yang sangat  stabil, yang tidak terbentuk   oleh   lingkungan  dan  latar  belakang pendidikan, budaya, serta kondisi sosial kemasyarakatan. William James menegaskan bahwa, “Selama manusia masih memiliki naluri cemas  dan  mengharap,  selama  itu  pula  ia  beragama (berhubungan  dengan Tuhan).”

Selama manusia tetap ingin menjadi manusia, dia harus tetap berpegang pada satu nilai yang tetap, nilai yang akan menemani jiwanya kapanpun, yang memberi tujuan, ajaran, jalan, serta pijakan untuk menempuh kehidupan yang terarah. Se-komunis apapun, seseorang pasti membutuhkan agama. Baik dia mengaku beragama maupun tidak.

Apalagi alam modern sebagai produk kemajuan sains dan teknologi telah melahirkan pola hidup yang materialis, konsumtif, hedonis, dan individualis. Pola hidup seperti ini akan berpotensi menghilangkan jati diri dan ketenangan batin bagi masyarakat.

Sehingga wajar jika John Neisbitt dalam Ten New Direction for The 1990 Megatrend 2000 meramalkan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi tidak mampu memberitahu kepada manusia tentang arti kehidupan. Arti kehidupan itu bisa dipelajari melalui spiritualitas.

Jajak pendapat yang sempat diadakan oleh BBC dan dipublikasikan pada 20 April 1998 menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Barat masih membutuhkan agama. Dihadapkan pada pertanyaan,”Apakah sekarang ini agama telah kehilangan maknanya?” responden yang menjawab ”Tidak” ternyata lebih besar daripada yang menjawab ”Ya”. Satu lagi, dalam buku Calestine Prophecy diceritakan bahwa akan terjadi pembalikan budaya umat manusia di abad ke-20 secara besar-besaran, dari budaya materialistik menjadi budaya spiritualistik. Hal ini terjadi karena adanya rasa sepi di tengah keberlimpahan materi yang terdapat di masyarakat yang telah maju.

Ketika manusia dengan kemampuannya yang luar biasa telah mencapai kesuksesan, sering kali ia disergap dengan adanya perasaan kosong dan hampa dalam batinnya. Ia seringkali bingung saat telah meraih puncak kesuksesan dan kejayaan kariernya. Ia sering kehilangan pijakan, kemana dia harus melangkah, untuk apa semua prestasi yang telah diraihnya itu. Di sini agama berperan memberi bimbingan, jalan akan stabil dan menuju ke tujuan akhir dari hidup manusia, yaitu-dalam bahasa Williem James The Great Socius. Dialah Allah.

”Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS 62:8)

Kata prestasi telah mengalami penyempitan makna seiring penghargaan yang berlebihan terhadap kualitas IQ seseorang. Kita lebih mudah menjumpai apresiasi terhadap prestasi akademik seseorang daripada penghargaan terhadap perjuangan dalam bidang sosial misalnya. Sehingga akan tetap ditulis dengan tinta emas bagi pelajar atau mahasiswa yang memenangkan olimpiade mata pelajaran tertentu, peraih nilai raport atau indeks prestasi akademik terbaik, juara karya ilmiah, meskipun ia tidak pernah mengenal tetangga sebelah rumahnya. Meskipun ia tak mau tahu di depan kampusnya ada ketimpangan sosial. Bahkan mungkin juga menurutnya tidak penting menyaksikan kedzaliman terstruktur dalam beberapa penggusuran PKL di jalanan yang dilaluinya tiap hari. Yang penting belajar dengan rajin, kuliah dengan serius, praktikum dengan lancar, IP bagus, lulus cepat, dapat kerja di perusahaan bonafide, makmurlah hidupnya.

Kita mungkin malu jika menguak sejarah masa lampau tentang peran kaum muda terhadap indahnya nasib negeri ini. Mari sejenak memeriksa memori kita tentang sejarah perjuangan gerakan mahasiswa masa lampau. Kita akan teringat bahwa justru kaum mudalah yang selalu menjadi motor utama perubahan. Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, merupakan hasil konkret perjuangan mahasiswa dan kaum Muda Indonesia. Pada saat itu, kelompok pemuda dari Gerakan Menteng 31 menganggap bahwa masa kekosongan kekuasaan -karena Jepang baru saja kalah dalam perang Asia Timur Raya- harus dimanfaatkan untuk menyiapkan kemerdekaan. Kaum muda tidak sepakat dengan metode yang ditempuh golongan tua (Soekarno dan Hatta) dengan berharap belas kasihan Jepang, dengan bekerja di BPUPKI dan PPKI.  Terjadilah peristiwa Rengasdengklok, mahasiswa dan pemuda menculik Soekarno–Hatta dan memaksa mereka untuk menandatangani teks proklamasi dan membacakannya tanggal 17 Agustus. Kalau bukan kepeloporan kaum muda, insyaallah kita tidak memperingati kemerdekaan tiap tanggal 17 Agustus.

Dalam analisa sejarahnya soal revolusi sosial di Jawa tahun 1945-1946, Ben Anderson menyebut gejolak tersebut sebagai revolusi pemuda, karena pada saat itu golongan pemuda merupakan motor dari revolusi yang tengah bergulir. Bahkan, peranan mereka sekaligus mengalahkan peranan kaum intelegensia dan kelompok lainnya dalam kancah perpolitikan saat itu.

Juga masih lekat dalam ingatan saya beberapa mahasiswa berkali-kali masih menjadi inspirasi perubahan fundamental di negeri ini. Ketika dosen, rektor, menteri bahkan presiden sebagai pemegang amanah kekuasaan dari rakyat tidak mampu lagi untuk mentransformasikan amanah tersebut menjadi suasana keadilan, kesejahteraan dan pemerataan kemakmuran, maka beberapa mahasiswa masih sempat tampil untuk menyuarakannya. Sehingga berulang kali sejarah telah mencatat mereka sebagai aktor penting dalam menentukan hitam-putih bangsa ini.

Anda ingat tragedi turunnya rezim Orde Baru? Mahasiswa menunjukkan taringnya dalam momentum ini. Ketika dunia akademik memaknai prestasi adalah bidang akademik, maka sungguh komponen gerakan mahasiswa yang bisa menjatuhkan rezim Soeharto itu bukanlah mahasiswa cerdas berotak encer. Jika ukuran kecerdasan adalah IPK maka mereka sungguh jauh dari kategori cerdas. Masuk kuliah saja jarang-jarang kok mau IPK bagus. Bahkan ada diantara mereka yang harus di-DO karena kehabisan waktu studi di kampus. Hari-harinya sudah terlanjur digadaikan untuk rapat-rapat aksi, merancang gerakan massa, menggalang kekuatan dari kampus ke kampus. Mereka harus iuran untuk membiayai kegiatan. Kalau perlu ngamen di kantin kampus. Hasilnya bisa dipake keliling untuk konsolidasi. Karena kampus tidak akan sudi membiayai aktivitas semacam itu sekalipun proposalnya dibuat rangkap tiga bahasa.

Lalu untuk apa mereka melakukan “hal bodoh” semacam itu?. Untuk siapa mereka korbankan masa depan mereka sendiri?. Untuk apa mereka berorasi di terik matahari yang menyengat dengan begitu bersemangat?. Apa yang menggerakkan mereka untuk melakukan itu semua?

Ah, saya masih yakin bahwa senyum tulus kebahagiaan yang ditemani mata gerimis dari kaum tertindas menjadi penghargaan dan apresiasi paling fenomenal di hati mereka.

Sungguh, di sini saya hanya ingin mengapresiasi ketulusan yang telah diteladankan oleh rekan-rekan yang terlibat aktif dalam setiap gerakan mahasiswa di negeri ini. Kalau bangsa kita sampai saat ini belum mampu memberikan penghormatan kepada mereka, biarlah tulisan ini yang menjadi inspirasi atas lahirnya generasi-generasi hebat seperti itu satu kali lagi.

Jika kita kaji secara singkat, setidaknya ada beberapa sifat kaum muda masa lalu yang sangat mempengaruhi akselerasi perubahan bangsa menuju ke arah yang lebih baik. Sebut saja semacam tiga pilar utama. Pilar-pilar itu adalah progressif, radikal dan militant.

Progresif, hasrat kaum muda yang menggebu untuk maju dan selalu lebih maju. Radikal, hasrat merubah dan merombak sistem yang usang. Dan militan, pemilik jiwa heroik dan semangat juang yang membaja.

Lalu bagaimana dengan mahasiswa sekarang?

Amatlah berlebihan bila menganggap mereka tidak melakukan apa-apa. Lihatlah mereka sangat aktif mengikuti pelatihan-pelatihan kepribadian (soft skill) yang dianggap cukup sebagai bekal di masa depannya. Lihatlah, waktu luang pun bisa mereka manfaatkan untuk mengerjakan karya tulis ilmiah. Lihatlah, mereka masih terus aktif berdiskusi di kampus, menghabiskan waktu di laboratorium-laboratorium, dan yang juga sering kita jumpai adalah mereka yang sering menghadiri acara-acara di stasiun televisi. Sekalipun rakyat masih harus antri minyak tanah, sekalipun penggusuran semakin marak, sekalipun biaya pendidikan semakin tinggi, sekalipun angka pengangguran terus bertambah, yang jelas sampai saat ini kita dengan bangga menyaksikan puluhan hingga ratusan mahasiswa memakai jas almamater biasa bersorak sorai dan bertepuk tangan di Republik Mimpi, Empat Mata, atau Democrazy.

Duh, lihatlah wajah-wajah mereka yang anggun. Mari kita dengan penuh semangat menyambut mereka dengan pekik: HIDUP MAHASISWA!

Kawan, kalau kau sempat, sesekali cobalah sejenak menelusuri lorong-lorong sempit perkampungan kumuh di kotamu. Pilih salah satu rumah yang paling mengenaskan, ketuk pintunya, ucapkan salam dengan tulus. Setelah kau dipersilahkan masuk, duduklah di sebelah pemilik rumah. Tanyakan padanya, sebenarnya apa yang mereka banggakan dari seorang mahasiswa. Tanya kepada mereka, apakah mereka berbahagia saat bertemu mahasiswa dengan IPK empat?. Tanyakan juga pada mereka, apakah mereka bangga menyaksikan mahasiswa menggema suaranya, bersorak sorai, dan bertepuk tangan di depan kamera televisi seperti itu?. Dan jangan lupa, pungkasi pertemuan itu dengan satu pertanyaan,”Apa yang dapat membuat anda bangga kepada kami?”.

Sungguh, tangis dan jerit masyarakat masih belum redam oleh ulah konyol para insinyur yang dulu lahir dari rakyat jelata, tetapi setelah diwisuda, tanpa rasa berdosa melaksanakan proyek penataan kota dengan menggusur rumah bekas tetangganya dulu. Miris sekali. Ia mungkin lupa, (atau memang nggak pernah ngaji tentang Sirah Shahabat kali yah,,), dialah Amr bin ‘Ash yang dulu sedang menjabat sebagai gubernur sempat berkucuran keringat dingin saat mendapat kiriman tulang dari Umar ibn Khattab yang dibawa oleh rakyatnya yang kebetulan beragama Yahudi.

Awal kisahnya, sang Yahudi saat itu rumahnya akan digusur oleh Amr. Padahal ia bersikeras tidak bersedia untuk dipindahkan dari rumahnya, yaitu sebuah gubuk reot dan beberapa lahan pertanian.

Nah, Amr ‘kan merasa risih, “Masak di sebelah kantor gubernur ada gubuk reot. Milik Yahudi pula”. Akhirnya Amr bin ‘Ash mengancam si Yahudi bahwa jika ia tak mau menjual tanahnya, maka Amr akan menggusurnya.

Mendapat ancaman itu si Yahudi memutuskan melaporkan kepada Khalifah Umar di Madinah. Setelah memperoleh laporan itu, Umar menyuruh si Yahudi untuk mengambil sepotong tulang di tempat sampah. Tulang itu digaris lurus dengan ujung pedang Umar. Si Yahudi disuruh oleg Umar untuk menyampaikan tulang itu kepada Amr bin Ash.

Usai disampaikan, Amr bin ‘Ash mendadak berkucuran keringat saat mendapat kiriman tulang itu. Si Yahudi bingung donk, “Ini gubernur, dapat kiriman tulang aja merinding kaya’ gini”.

Seketika Amr bin ‘Ash menjelaskan kepada si Yahudi, bahwa goresan garis lurus dengan ujung pedang pada tulang itu adalah peringatan keras dari Umar, seolah-olah Umar sedang berkata kepada Amr, Hai Amr bin ‘Ash, luruslah kamu dalam menjalankan tugasmu. Jika kau membelok, aku tidak akan segan-segan meluruskanmu dengan pedang ini”.

Si Yahudi takjub dengan keadilan dan keindahan ajaran Islam. Seketika itu juga ia mengucap dua kalimat syahadat.

Duhh,, Alangkah malang nasib kita, kawan seperjuanganku. Dunia ini terlalu sempit kalau hanya kekayaan materi dan kesenangan sendiri yang kita impikan, jabatan tinggi yang kita damba, kursi empuk kekuasaan yang kita harap, namun dengan melupakan tugas sosial kita. Ingatlah, bahwa kehebatanmu akan dicatat dengan tinta emas oleh sejarah melalui kontribusi yang kau berikan pada sesama.

FA_KCB_promo nasional-ver_final

Malam jam setengah tujuh tanggal 11 Juni 2009, berangkatlah saya menuju 21 Galaxy Mall Surabaya. Aiaii….  yang antri lumayan banyak, aku yakin orang yang berjubel disini cuma ada satu tujuan, melihat perdana Ketika Cinta Bertasbih… Beberapa menit kemudian makin banyak orang yang datang hingga antri di tangga…

Begitu nyampe di loket, mbak penjaga loket bilang, ‘maaf mas, sudah habis yang tiket jam 7. tinggal jam setengah sepuluh. Hah? Setengah sepuluh. Nggak jadi deh, males donk di mall nunggu berjam-jam demi film ini. Alasannya nonton karena cuma penasaran, aja apakah filmnya sebagus novelnya. Ya sudah, tak apa, akhirnya hari ini baru bisa kembali kesana untuk nonton…..

Mau nonton cuplikan filmnya?

Klik sini..

Atau Mau download trailer film Ketika Cinta Bertasbih?

Silahkan Download di sini

DSC01186 copy

Sory kawan-kawan pengunjung rumah maya rifay yang baik…

Kagak boleh lagi menayangkan artikel tentang 9 Rahasia Doa yang pernah terapload dulu. Karena melanggar hakcipta. Sekarang hakcipta diambil oleh penerbit, ane sebagai penulis cukupmenerima royaltinya. Kagak berhak mengcopy-nya ke blog ini.

So beli yah..

Alhmdulillah…Baru satu bulan didistriusikan langsung mendapat respon positif dari pembaca. Sehingga penerbit Marsua Media terlambat menghadirkan cetakan berikutnya karena tidak dikira sedemikian cepat habisnya. terima kasih atas sambutan dan apresiasi karya yangberawal dari artikel kecil di blog yang kebetulan diminati penerbit itu.

yang belum punya buruan ke toko uku terdekat Gramedia Togamas atau yang lain.

Sekarang da cetakan ketiga tuh..

Semoga bermaanfaat.

pksAi Aii.. PKS jawara nih yee..

Ciee…

Ups, Tapi jawaranya di Jepang…

Ketika hasil quickcount di tanah air menunjukkan Demokrat sebagai jawara, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sementara keluar sebagai jawara di Jepang, disusul Partai Demokrat (PD) menempel ketat di urutan kedua.

Demikian hasil penghitungan suara di TPSLN Tokyo, seperti dipantau detikcom dari Den Haag sore ini, Kamis (9/4/2009) waktu Eropa Tengah.

PKS memperoleh 39,6% (76) suara, sedangkan PD 28,6% (55) suara. Di tempat ketiga Golkar bertengger dengan 7,8% (15) suara, keempat Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dengan 6,8% (13) suara, dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) membuntuti dengan 5,2% (10) suara.

Sisanya berturut-turut: PAN 2.1% (4) suara, PDS 2.1% (4) suara, PPP 1,6% (3) suara, PNBK Indonesia 1,6% (3) suara, PKNU 1,6% (3) suara, dan Partai Republikan 1.0% (2) suara.

Kemudian PPRN, PKPI, PDP, dan PBB masing-masing mendapat 1 suara. Partai-partai lainnya tidak mendapat suara alias nul koma nul.

Hasil ini masih dimungkinkan berubah setelah nanti surat suara per pos dihitung.

Kenapa Negeri kita mayoritas muslim tetapi partai Best sellernya kok bukan partai islam yah?

Dulu -juga sekarang kayaknya- para founding father parpol-parpol Islam mungkin selalu berfikir pragmatis ketika mereka mendirikan sebuah partai. Paling tidak, mereka beranggapan bahwa mayoritas konstituen (calon pemilih) yang beragama Islam pasti akan menjatuhkan pilihannya pada parpol-parpol Islam. Silogisme ini tentu sejalan dengan realitas penduduk Indonesia yang 85% beragama Islam.

Namun sayang, hingga saat ini, silogisme ini belum menemukan relevansinya. Catatan sejarah di atas adalah bukti konkretnya. Sepinya peminat parpol-parpol Islam tak lain merupakan kesalahan fatal yang telah dilakukan para elit politik parpol.

Isu penegakkan syariah Islam, pemberlakuan Piagam Jakarta dan upaya mendirikan negara Islam yang sering dijadikan menu utama kampanye sungguh sudah tidak menarik simpati konstituen lagi, untuk tidak dikatakan tidak laku sama sekali. Mengapa isu-isu bernuansa syariah tidak laku dijual?

Jawabannya hanya satu, calon pemilih sudah semakin cerdas. Calon pemilih mulai menyadari bahwa masalah krusial bangsa ini bukan lagi seputar perdebatan tentang landasan ideologi dan konsep negara. Tapi, masalah primer bangsa ini adalah kemiskinan, pendidikan, perbaikan ekonomi, lapangan pekerjaan, kesejahteraan dan kemakmuran.

Juga, secara eksplisit dan implisit, mayoritas masyarakat Indonesia sudah mengakui Pancasila dan UUD 45 sebagai platform ideologi bangsa yang akan menjaga integrasi pluralitas NKRI. Sehingga, sampai kapanpun, jika parpol-parpol Islam hanya berkutat pada ‘masalah-masalah langit’ dan tidak mau berbenah diri untuk memperbaiki program-program yang lebih membumi, maka sejauh itu pula parpol Islam akan semakin tergerus dan mengalami evolusi.

Terlebih lagi, di pemilu 2009, masyarakat Indonesia yang semakin berpendidikan tentu saja tidak akan langsung kepincut jatuh hati melihat simbol ka’bah yang menjadi gambarnya PPP, bulan-bintang dan menara masjid yang dijajakan parpol-parpol Islam. Umat Islam Indonesia saat ini sudah semakin sekuler. Dalam artian, kaum muslimin sudah tidak lagi terjebak dalam politik simbol dan politik warna-warni yang selama ini terbukti membodohi rakyat.

Kehadiran parpol Islam memang menyimpan dilema tak berujung. Mereka hadir di tengah perpolitikan nasional antara berdakwah dan mencari kepentingan. Dari dua tujuan ini, kepentingan akan kekuasaan seringkali mengalahkan agenda dakwah normatif. Karena toh jika agenda utamanya berdakwah, pasti parpol-parpol Islam akan berjalan seiring sepenanggungan.

Tetapi bagaimana kenyataannya? Tidak demikian. Dalam beberapa isu bangsa, mereka kerap kali menunjukkan sikap yang bersinggungan satu sama lain.

Ciee..Golput Ni Yee..

Besok Nyontreng kagak yahh?

Saya masih teringat fenomena golput yang mengundang MUI yang merupakan representasi umat turun tangan, dengan menggunakan otoritasnya sebagai mufti, mereka pun mulai mengeluarkan fatwa bahwa golput haram. Diharapkan dengan adanya fatwa ini, masyarakat mau menyalurkan suaranya pada pemilu tahun ini.

Tetapi alih-alih mendapatkan dukungan rakyat, fatwa ini justru mengundang banyak kecaman dari masyarakat. Alasannya, dalil yang digunakan MUI dalam mengeluarkan fatwa tidak relevan dengan keadaan yang sesungguhnya.

Contohnya apa yang dikemukakan oleh Dr. Sofjan S. Siregar. Ia menyatakan bahwa fatwa MUI yang mengharamkan golput adalah sebuah ‘blunder ijtihad’ dalam sejarah perfatwaan MUI. Justru mengharamkan golput itu hukumnya haram. “Sampai detik ini, saya gagal menemukan referensi dan rujukan serta dasar istinbath para ulama yang membahas masalah itu,” ujar Sofjan, doktor syariah lulusan Khartoum University, direktur ICCN, Ketua ICMI Orwil Eropa dan dosen Universitas Islam Eropa di Rotterdam.

“Oleh sebab itu, saya menyerukan kepada pematwa dan peserta rapat MUI yang terlibat dalam ‘manipulasi politik fatwa golput’ untuk bertobat dan minta maaf kepada umat Islam Indonesia, karena terlanjur membodohi umat,” tandas Sofjan (Detik.com, 27/1/2009).

Pengamat politik Indobarometer M. Qodari bahkan menilai, dengan fatwa tersebut MUI telah melanggengkan bobroknya sistem politik di Indonesia. “Kalau mereka dilarang untuk golput, hal itu justru menjustifikasi sistem politik yang tidak baik. Fatwa harusnya menganjurkan pada kebaikan,” jelas Qodari (Detik.com, 26/1/2009).

Komentar tajam juga dilontarkan oleh pengamat politik dan ekonomi, Ichsanuddin Noorsy. Menurut Noorsy, MUI tidak konsisten dalam berpijak mengeluarkan fatwanya. Sebab, Pemilu yang dilakukan dengan basis individual atau demokrasi liberal merupakan pemikiran Barat. Karenanya, Noorsy menambahkan, alasan dan argumen rasional MUI lemah.

“Fatwa MUI kali ini pun gagal merujuk al-Quran dan Hadis. Kalau fatwa ini mempertimbangkan kebaikan, berarti MUI mengabaikan kebenaran ajaran dan kecerdasan masyarakat,” tegasnya. (Detik.com, 27/01/2009)

Golput? Ah, menurut saya lanaa a’maalunaa, walakum a’maalukum. Karena menurut pengamatan, setidaknya ada 4 alasan mengapa masyarakat melakukan golput?.

Pertama, golput karena alasan tekhnis

Golongan ini adalah mereka yang tidak terdaftar dalam DPS (Daftar Pemilih Sementara) ataupun DPT ( Daftar Pemilih Tetap). Penyebabnya bisa dikarenakan kesalahan KPU dalam pendataan, pemerintah setempat ataupun orang yang bersangkutan. Atau bisa saja mereka sudah terdaftar, tetapi dalam hari H nya ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan, sehingga mereka tidak bisa hadir di TPS (Tempat Pemungutan Suara).

Kedua, golput karena alasan ekonomis

Orang-orang yang melakukan golput karena alasan ini, biasanya mereka yang karena ma’isyah (mata pencaharian) tidak bisa meninggalkan aktivitasnya untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Golongan ini didominasi oleh para pedagang kecil, karyawan dengan upah harian dan pekerja serabutan lainnya.

Ketiga, golput karena alasan apatis

Golongan ini didominasi oleh mereka yang sudah tidak percaya lagi terhadap sistem dan penguasanya, tetapi mereka juga tidak melakukan perbuatan apapun untuk mengubahnya. Sehingga keberadaanya seperti tidak adanya, mereka merasa masa bodo dengan apa yang terjadi. Tentu saja, golongan seperti ini yang kita tidak harapkan, karena mereka berlepas diri dengan keadaan masyarakat dan mereka senantiasa menyalahkan keadaan serta menyerah dengan keadaan yang ada.

Keempat, golput karena alasan ideologis

Suara ini dikumandangkan oleh sebagian umat Islam dengan alasan yang hampir sama dengan alasan orang-orang apatis, golongan ini sudah tidak mempercayai system dan penguasa yang ada. Karena meyakini ada system yang lebih baik lagi daripada system sekarang yang berlaku, yakni system Islam.

Tetapi, jangan pernah menuduh orang-orang seperti ini sebagai orang yang berlepas diri dengan keadaan masyarakat. Justru mereka melakukan hal itu karena mereka sangat pro masyarakat, yang kini terus dibodohi oleh system yang berlaku.

Jiwa nasionalis mereka lebih tinggi daripada orang-orang yang mengaku nasionalis sekalipun, lihat-lah contohnya ketika Timor-timur akan melakukan referendum, mereka dengan lantang meneriakkan bahwa strategi tersebut adalah ulah para antek Amerika dan Australia yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan Indonesia, suara yang hampir tidak pernah diteriakkan oleh orang-orang nasionalis.

Reality show saat ini sedang menjamur. Tapi di antara semua tayangan reality show, Terhehek-Mehek adalah salah satu program yang dianggap paling disukai oleh pemirsa. Jam tayangnya yang prime time yaitu 18.15-19.00 WIB hingga back song-nya yang keren dan syahdu, membuat acara ini makin diminati.

Pertama kali nonton Termehek-mehek, apa sih yang ada di benak kamu? Pastinya sih terseret arus cerita yang seringkali mengaduk-aduk perasaan di tengah-tengah acara pencarian orang yang dikasihi. Kamu diajak untuk ikut dag-dig-dug menanti ending cerita, happy or sad ending? Jadinya berat rasanya mata untuk dialihkan ke hal lain selain mantengin monitor TV sampai acara selesai. Ehem..iya apa iya?

Mayoritas dari kita, saya dan kamu pasti yakin dan percaya bahwa acara tersebut adalah nyata dan bener terjadi. Dan masih banyak jutaan pemirsa TV lainnya juga yang ikut menangis dan bahagia sesuai dengan jalan cerita Termehek-mehek. Eh…usut punya usut, ternyata acara Termehek-mehek dan mayoritas reality show lainnya itu adalah rekayasa, bukan murni nyata kejadiannya. Kok bisa sih? Makanya, supaya ngerti, ikutin terus pembahasan ini yah. Lanjuutt!

Ternyata rekayasa

Dalam bahasa Jawa, ada istilah ‘nggak mehek’ yang artinya kurang lebih meremehkan atau menganggap kecil sesuatu. Namun Termehek-mehek yang sekarang lagi booming, mempunyai arti menangis tersedu-sedu. Acara ini muncul sekitar Mei 2008 dan langsung menarik perhatian mayoritas pemirsa TV. Ide acara adalah membantu mencari seseorang yang lama hilang. Jalinan ceritanya begitu mempesona karena dibuat seakan-akan nyata dan terjadi dengan sebenarnya.

Saya yang semula juga tersepona eh…terpesona pada Termehek-mehek, jadi kuciwa juga mengetahui fakta sebenarnya. Helmi Yahya sebagai yang punya ide cerita mengakui bahwa ia memanfaatkan karakter orang Indonesia yang suka diberi mimpi.

Para pemeran di tiap episode sengaja diambil dari masyarakat umum terutama mahasiswa agar terkesan alami karena wajahnya belum pernah nongol di TV sebelumnya. Ada satu kasus ketika seorang mahasiswa langsung diteleponin oleh banyak teman-temannya setelah shooting reality show. Jelas aja nih mahasiswa langsung menjelaskan pada teman-temannya itu bahwa cerita yang diangkat bukanlah kisah pribadinya, tapi rekayasa berdasarkan skenario belaka. Malulah kalau sampai beneran kisah pribadinya jadi konsumsi banyak orang se-Indonesia, begitu katanya.

Sebagian dari kamu bisa jadi nggak terima dengan kenyataan ini. Kok bisa sih? Bukankah jelas-jelas sang target pernah mengusir kameramen acara termasuk host-nya yaitu Panda dan Mandala? Masa’ rekayasa pake acara usir-usiran segala? Bahkan Panda pake acara nangis juga bila kebetulan ending cerita mengharukan atau sedih. Mungkin kamu berpikir naïf seperti itu.

Yupz, kamu emang nggak salah. Namanya aja acting, pastilah ya harus meyakinkan. Bahkan Panda dan Mandala pun dibayar bukan cuma untuk menjadi host, tapi plus acting juga. Bagi mereka yang bekerja di dunia pertelevisian, sedari awal langsung ngeh bahwa acara-acara reality show seperti ini penuh dengan rekayasa. Namanya aja show atau pertunjukkan yang sudah jelas ada unsur menghiburnya dong. Hal ini tidak bisa dihindari karena tuntutan deadline. Ketika tidak ada satu kisah nyata yang bisa diangkat ke layar TV, maka solusinya adalah bikin skenario dan membayar pemain amatiran agar terkesan alami. Nah, awalnya saya pikir sebagian, tapi ternyata most of them alias hampir semua episode adalah rekayasa!

Cara gampang untuk mengenali bahwa ini adalah rekayasa yaitu kamu perhatikan aja kualitas suara yang jernih ketika terjadi percakapan antara host, client dan target. Kalau memang si target benar-benar tidak tahu sebagaimana ekspresi mukanya yang seringkali berakting bingung ketika didatangi host, maka seharusnya kualitas suara mereka tidak sejernih yang kita dengar di TV. Kejernihan suara itu karena memang adanya chip untuk mikrofon yang biasanya dipasang di baju. Nah loh…

Kalo kamu jeli, ada wajah tokoh pada acara termehek-mehek yang juga sedang bermain sinetron meskipun hanya sebagai tokoh figuran. Lagipula, bila acara ini menyajikan kejadian sebenarnya, apa ada orang yang rela aibnya ditampilkan sedemikian rupa di TV? Kan sudah mendapat persetujuan dari semua pihak, mungkin itu kilahmu. Namanya juga dramatisasi Non, pastilah acara ini dihadirkan agar seolah-olah semuanya terlihat real.

Mengapa terjadi?

Yupz…kalo di benakmu sempat terbersit pertanyaan seperti ini, itu tandanya kamu sudah selangkah lebih cerdas. Kok bisa-bisanya reality show yang seharusnya real alias nyata, eh ternyata malah rekayasa. Kondisi ini memang memanfaatkan psikologi orang Indonesia yang cenderung pasif dan konsumtif. Mereka mudah ‘dicekoki’ apa saja terutama yang bertujuan pembodohan secara massal. Hal ini pula yang terjadi pada berbagai macam program TV di Indonesia.

Deadline, biasanya menjadi alasan utama rekayasa tayangan reality show. Jadi kalo nunggu kisah nyata beneran untuk ditayangkan, itu bakal menunggu waktu lama dan belum ada kepastian juga kasusnya bisa selesai atau nggak. Kalo direkayasa dengan skenario layaknya sinetron, maka menjual program ini ke stasiun TV jadi lebih mudah karena semuanya serba mudah dan pasti. Karena mudah dan ditonton banyak pemirsa, maka rating pasti naik. Kalo rating naik, iklan pun bakal rebutan untuk ambil porsi tayang. Nah, loh…UUD juga alias Ujung-Ujungnya Duit.

Berdasarkan data AC Nielsen di akhir tahun 2008, Termehek-mehek merupakan program acara paling populer dengan raihan rating 7,2 poin dan share 27,3 persen. Ini adalah yang tertinggi dari semua acara reality show yang ada di stasiun televisi lainnya. Menurut Gusti M Taufik, salah satu Event Coordinator pada sebuah Production House (PH) di Jakarta mengatakan bahwa budget produksi pasti akan membangkak jika shooting menggunakan kejadian real. Belum lagi memburu target pasti akan makan waktu lama. Perhatikan saja pada acara Termehek-mehek, meyoritas pencarian orang bisa dilakukan hanya dalam waktu beberapa hari. Padahal faktanya itu adalah skenario yang bisa diselesaikan hanya dalam waktu hitungan jam saja.

Uang adalah raja diraja manusia saat ini, apalagi untuk program TV. Meskipun sebuah tayangan dikatakan bermutu dan mendidik, namun tanpa uang atau iklan yang menyokong, maka bisa dipastikan program tersebut akan gulung tikar dengan cepat. Begitu sebaliknya, meskipun sebuah tayangan dikategorikan ‘junk program’ alias tidak bermutu, tapi bisa tetep jalan bila didukung kekuatan modal. Inilah pola hidup kapitalisme yang memang sangat mendewakan modal dan pemodal sebagai penguasa zaman.

Tradisi intip-mengintip, mencari celah untuk tahu aib orang, bertengkar dengan kasar di depan umum, berkata-kata jorok sehingga TV perlu menyensor dengan bunyi ‘tiiiittt’, adalah sebagian budaya reality show terutama Termehek-mehek yang berusaha diajarkan pada kita. Sifat dasar manusia yang selalu saja ingin tahu urusan orang dijadikan komoditi, tak ubahnya seperti infotainment. Bedanya, kali ini yang dijadikan objek pengintipan adalah mereka yang bukan selebritis. Tapi intinya sih tetep aja, melakukan hal-hal yang nggak penting dan nggak bermanfaat.

Bagaimana sikap kita?

Mungkin awalnya kita nggak paham tentang realitas reality show. Jadinya kita gampang banget tertipu dan ngefans dengan sebuah program tayangan tertentu. Sampai-sampai kita bela-belain untuk menunda keperluan lain demi nggak mau ketinggalan acara tersebut. Ehem…iya apa iya?

Nah, sekarang kamu jadi ngerti tentang apa dan bagaimananya reality show itu terutama Termehek-mehek yang sekarang ini lagi booming. Terus, apa dong yang kita lakukan sebagai pemuda cerdas plus beriman? Ya…nggak usahlah terlalu serius nonton acara reality show itu. Apalagi tayangan favorit begini biasanya sengaja ditaruh di jam-jam darurat. Perhatikan aja Termehek-mehek ini tayang di waktu Maghrib yang singkat. Kalo kamu udah taraf kecanduan sama acara beginian, bisa dipastikan bakal males mau berangkat sholat. Bila pun melakukan, pasti maunya pingin cepet-cepet selesai alias sholat ala kilat khusus (emangnya surat?).

Padahal itu semua rekayasa loh. Seandainya pun bukan rekayasa, masa iya sih tayangan reality show bisa mengalahkan waktu sholat kamu? Semua ini adalah langkah awal bagi media TV untuk menanamkan racunnya ke dalam benak kaum muslimin terutama pemudanya. Kamu jadi terlena di depan TV dan males untuk sholat secara khusyuk dan tumakninah. Boro-boro baca al-Quran setelah sholat Maghrib, yang ada juga baca al-Fatihah nggak jelas bacaannya karena cepet-cepetan mau nonton Termehek-mehek. Aduh….moga aja kamu bukan type ini ya.

Sabtu sore dan Minggu sore itu biasanya banyak kegiatan di sekitar rumah kamu karena anak-anak sekolah dan kuliah pada santai. Dengan adanya Termehek-mehek ini biasanya kamu-kamu pada males untuk berangkat ngaji atau kegiatan positif lainnya. Pinginnya cuma duduk manis sambil mantengin layer TV nunggu acara reality show kelar.

Nah, mulai sekarang udah nggak musim lagi males ngaji dan ikut pembinaan. Meskipun acara TV kesayangan kamu lagi main, waktunya berangkat menimba ilmu ya berangkat aja. Emang TV bisa menyelamatkan dunia-akhirat kamu? Pasti nggak dong. So, nonton reality show ya wajar-wajar aja kaleee, nggak perlu sampai kecanduan.

Semua ini sandiwara

Bagi yang nggak begitu suka dengan sinetron, biasanya terjebak dengan reality show semacam Termehek-mehek. Padahal program jenis ini setali tiga uang alias sama saja dengan sinteron hanya beda kemasan. Sang produser tahu bener bahwa tidak semua orang bisa ditipu untuk program pembodohan ala tayangan sinetron. Oleh karena itu butuh polesan cerdas untuk tope orang-orang seperti ini dengan tayangan jenis lain. Reality show adalah jawabannya.

Sesungguhnya, semua ini adalah sandiwara. Sandiwaranya para pemodal untuk mengeruk untung sebanyak-banyaknya, tak peduli apakah tayangan itu merusak generasi atau tidak. Yang penting bagi mereka adalah rating tinggi yang berarti iklan banyak, duit pun mengalir menambah penuh pundi-pundi uang mereka. Parahnya lagi, masyarakat kita terlena dengan kebodohan ini. Maka sudah saatnya bagi kamu-kamu yang selangkah lebih cerdas daripada rakyat kebanyakan karena kamu udah membaca gaulislam ini (ehem… kagak nyombong Non!) untuk tidak berdiam diri.

Yuk, kita sebarkan pemahaman ini pada umat. Bukan melulu tentang rekayasa reality show saja tapi juga muatan isinya yang bisa merusak generasi secara perlahan tapi pasti. Ingat, tayangan TV hanya hiburan. Ibarat garam pada masakan, bila kebanyakan maka selain rasanya nggak enak juga pasti menimbulkan berbagai macam penyakit.

Begitu juga dengan tayangan TV, nggak perlu menjadikan TV sebagai menu pokok harian kamu. Sekadarnya saja untuk mengetahui berita terkini terutama tayangan yang bermutu dan bermanfaat. Selebihnya, kita kudu ingat bahwa hidup ini bukanlah main-main. Hidup di dunia juga bukan sandiwara, tapi sungguhan. Kita berbuat salah ya akan mendapat dosa, kalo beramal shalih akan dapat pahala. Hidup kita akan dihisab, akan dimintai pertanggungan jawabnya. Allah Swt. yang akan mengawasi kita semua. Dia tidak bisa ditipu dengan acting kita yang bepura-pura alim atau berpura-pura ikhas. Jadi, beramallah sebaik-baiknya untuk kehidupan sebenarnya di negeri akhirat kelak. Biarkan saja Termehek-mehek dengan acara ‘nggak mehek’nya itu, yang penting kamu nggak lagi sebagai orang naïf yang percaya banget sama reality show. So, ayuk bergerak dan berdakwah untuk perubahan!

dimuat di Majalah Gaulislam edisi 074/tahun ke-2 (26 Rabiul Awal 1430 H/23 Maret 2009)

Mimpi adalah kunci
Untuk kita menaklukan dunia

Berlarilah tanpa lelah
Sampai engkau meraihnya…

(Laskar Pelangi – Nidji )

Masih ingat ga’ anggota Laskar Pelangi….ada Lintang, Kucai, Arai, Mahar, Borek, Flo. Pemeran masing2 tokoh itu oleh sang sutaradara Mira Lesmana dan Riri Riza diambil langsung dari tanah Belitong, sebuah pulau terpencil, tempat tinggal Andrea Hirata. Kenapa LP (Laskar Pelangi) difilmkan? Saya, dan banyak pecinta novel pasti tidak setuju LP difilmkan. Pada awalnya, muncul ketakutan, ketidakpercayaan pada sineas perfilman Indonesia, yang kebanyakan hanya memikirkan untung tanpa memperhatikan filosofi dan nilai2 dari sebuah novel.

BIasanya film tidak seindah novel, atau kata Andrea “pembaca memiliki film sendiri”. Adalah hasil pemikiran yang alama dan mendalam untuk kemudian Andrea mau LP difilmkan. Banyak sekali penawaran muncul, bahkan konon ada salah satu PH yang rela membayar milyaran rupiah, tapi Andrea belum bersedia. Cerita menjadi lain ketika Rri dan Mira menyerahkan script, dibaca, dan dia berfikir bahwa mereka adalah orang2 yang benar2 mengetahui esensi dari LP. Akhirnya dia rela 100% LP difilmkan, dia yakin dengan kerja dari mereka berdua.

Bukan itu saja, Andrea juga membawa misi suci, yaitu demi kebangkitan pendidikan di Indonesia, yang sampai saat inipun, masih ada sekolah yang lebih buruk dari SD Muhamadiyah sekolah Ikal 30 tahun yang lalu. Rakyat Indonesia sedang membutuhkan inspirasi dalam hidup, dan LP datang disaat yang tepat.

Selain itu juga dia ingin membuat semua anak, terutama di Belitong, tidak takut bermimpi. Bayangkan, Zulfany (pemeran Ikal) adalah anak dari pedagang arloji di kaki lima, sekarang sudah menjadi bintang film, bisa bekerja sama dengan seorang sineas sekelas Riri Riza dan Mira Lesmana. Allohu Akbar.

Cut Mini yang tidak henti2nya meneteskan air mata saat tampil di Kick Andy ketika melihat cuplikan film. Ketika ditanya mengapa menangis, dia menjawab, dia selalu teringat Belitong dan ingin kembali kesana. Disini dia memerankan Bu Mus. Kenapa Cut Mini?? pertanyaanku juga, aku menyepelekan, bisa apa dia, hidup enak, orang kota, ga’ ngerti pendidikan, kok bisa2nya jadi bu Mus.

Mira menjawab, dia butuh aktris yang sudah memiliki jam terbang, tapi tetap musti casting. Ternyata diantara yang datang, Cut MInilah yang paling tepat, dia datang dengan logat Belitong, it means, dia telah mempersiapkan dengan baik. Sempat ditayangin juga guru2 yang terpanggil, yang hebat, yang ikhlas, yang mengajar di tempat terpencil, sendirian, tidak dibayar, dan di gedung yang memprihatinkan. Yang menyaksikan semalam pasti sepanjang tayangan meneteskan air mata. Inspiring

Theme Song, Kenapa Nidji? menurut Mira, Nidji adalah Band terbaik di Indonesia saat ini. Jadi dia langsung call them dan Giring pun tanpa ba, bi, bu langsung menyetujui. Yup, menurutku juga, lirik2 Nidji berkualitas, classy. Selain Nidji, Gita Gutawa kaya’nya menyanyikan satu single juga. Yah, dengan segala tujuan mulia, persiapan yang bagus, semoga misi film ini akan tersampaikan, kata ANdrea sendiri “filmnya bakal lebih bagus dari bukunya”.

Oia yang terakhir penting nih untuk diperhatikan. Ternyata orang kribo hebat-hebat ya…..liat aja Kick Andy, Andrea Hirata, Riri Riza, Mira Lesmana, Giring. Jadilah mereka membuat partai baru–PKS–Partai Kribo Sejahtera.. :)

Mau download film Laskar Pelangi?

Download disini

Salah satu pengertian “budaya” ialah tingkat-tingkat mutu ekspresi manusia. Kalau seorang suami marah kepada istrinya atau seorang bapak marah kepada anaknya, kita bisa mengukur tingkat kualitas budaya mereka dengan cara melihat pola ekspresi atau ”cara marah” mereka.

Harus diingat juga bahwa pols ekspresi itu sebagai indikator budaya manusia dan masyarakat,hanyalah salah satu dimensi belaka dari pengertian tentang budaya dan kebudayaan.

Pada kesempatan lain tentulah kita memerlukan uraian-uraian yang mengupas dimensi-dimensi lain.

Suku Asmat di Irian jaya ( Papua), ketika seorang warga mereka meninggal dunia, mereka menangis dengan puisi. Mereka meraung-raungkan syair yang musikal selama tiga hari tiga malam. Mereka memiliki pola dan kadar kebudayaan tertentu, dan muatan syair duka mereka sama sekali tidak kalah dari hasil karya manusia beradab yang mengenal agama-agama dan ilmu pengetahuan modern. Kita diajari untuk tidak bersikap arogan atau memandang rendah mereka hanya karena pakaiain dan peralatan hidup mereka sehari-hari yang masih primitif, sebab kadar keberbudayaan mereka lebih ditentukan untuk pola dan muatan ekspresinya.

Ketika Rasulullah Muhammad SAW dilempari batu dalam perjalanan dakwahnya di Eithopia, beliau pulang sambil mengucapkan do’a yang sangat puitis dan menunjukkan tingkat budaya yang berkualitas tinggi. Saya pribadi selalu mengkritik dan mengambang air mata saya setiap sekali mengucapkan do’a Rasul tersebut.

Ketika Khalifah ali bin abi Thalib dijepit oleh sayao kekuatan Muawiyah yang membelot serta ditikam dari belakang oleh kaum khawarij, beliau senantisa nersujud mengucapkan do’a-do’a yang penuh kedewasaan, kearifan, kelembutan, keadilan nurani serta mencerminkan kepribadian beliau sebagai seorang demokrat sejati yang mengambil posisi moderat demi memelihara ukhuwah.

Cara kita semua marah, cara kita bergembira dan bersedih, cara kita berdagang, cara kita menjalani lalu lintas perpolitikan, cara kita memimpin masyarakat dan negara, sesungguhnya mencerminkan tingkat mutu budaya kepribadian kita. Ketika kita menjalani mekanisme konglomerasi ekonomi yang steril dari nurani keadilan sosial, ketika kita menyelenggarakan kepemimipinan sosial politik yang terpusat pada egosentrisme dan subyektivisme diri maupun kelompok, serta ketika kita menjalankan roda keagamaan dengan siakap ”benar sendiri” dan ”menang sendiri”, sehingga keakhlian kita adalah menajis-najiskan dan membuang orang lain yang kita anggap kotor sesungguhnya meamantulakn tingkat keberbudayaan kita.

Bisa saja kita berperan sebagai pemimpin negara yang dipuja-puja karena kepakaran strategis dan taktis, atau sebagai pemuka sosial, pemuka kaum beragama yang dijunjung-junjung: ternyata dalam prespektif budaya kita masih menyimpan kadar-kadar budaya primitif yang serius namun tidak kita sadari.

Anak-anak kita begitu lulus ujian akhir langsung mendemonstrasikan cara-car kurang berbudaya untuk bergembira dan bersyukur. Merekas mencorat-coret baju mereka, berpesta pora, minum-minuman keras, atau bahkan berkelahi satu sama lain.

Renungkanlah: untuk bergembira saja mereka tidak mapu menemukan bentuk yang pas dan pantas. Renungkanlah, betapa kita telah gagal mendidik anak-anak kita bagaimana cara bersyukur yang berbudaya.

Karena itulah, sering kita mendengar bahwa ”kesenian itu gunanya untuk mengasah hati nurani kita dan kehalusan budi”. Dua hal itu merupakan nukleus dari ”budaya”.

Semoga tulisan ini bisa mengantar kita semua ke dalam ajang untuk melatih, mengasah nurani dan kehalusan budi kita – ditengah gegap gempitanya zaman yang makin penuh primivitas dan kebinatangan.

”Sedang TUHAN pun Cemburu”

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Adhyaksa Dault, memberi kepastian akan menghadiri Seminar Pengembangan Insan (SPI) pada hari Jumat, 20 Maret nanti. Rencananya, ia juga akan menjadi khotib sholat Jumat pada Masjid Manarul Ilmi. Selanjutnya, sekitar pukul 13.00, ia akan memberikan materi dengan tema. Saatnya Pemuda Bangkit dan Berprestasi di Grha Sepuluh Nopember.

SPI sendiri merupakan salah satu rangkaian kegiatan Manarul Ilmi Expo (MIE). Ada hal menarik dari acara yang pada tahun sebelumnya sukses menghadirkan Habiburrahman El Shirazy. ini Kali ini MIE mendapat momen khusus yaitu Milad 20 tahun Jamaah Masjid Manarul Ilmi (JMMI). JMMI sendiri adalah sebuah lembaga kerohanian yang masuk dalam struktur Tim Pembina Kerohanian Islam (TPKI).

Selain Menpora, SPI juga menghadirkan Shofwan Al Banna, Mawapres Tingkat Nasional tahun 2006 yang juga seorang penulis. Harapannya, para peserta seminar nanti dapat berbagi pengalaman dengan dua narasumber ini.

Tanyakan pada panitia,
1. Mengapa Menpora? Kita tahu ada puluhan menteri yang sangat kompeten dalam masalah kepemudaan.
2. Mengapa Mawapres 2006? Bukankah tiap tahun ada mawapres baru yang lebih fres.

Semoga mendekati pemilu ini kampus lebih kritis menyikapi segala kemungkinan disusupi oleh pihak2 yang sedang memperjuangkan kepentingannya masing2.

9 Rahasia Doa Dihapus

Oia, maaf temen-temen, artikel tentang 9 rahasia doa lulus ujian ternyata diminati oleh salah satu penerbit. Sekarang kayaknya sudah terbit. Sehingga kami diminta menghapus artikel tersebut dari blog ini. Maaf banget ya…kalo berminat mungkin bisa beli di toko2 terdekat. Gramedia, Togamas, manyar Jaya juga kayaknya ada..(Hehe,,sekalian promosi)

PMDK Berbeasiswa ITS 2009/2010

Mungkin ini bisa jadi pilihan bagi temen2 yang pengen kuliah tanpa membebani orang tua dengan biaya kuliah maupun biaya hidup sehari-hari. Mengingat jika masuk beasiswa ini kita bebas seluruh biaya kuliah, mulai I/O, SPI,SPP bahkan biaya hidup pun tiap bulan kita sudah dijatah oleh ITS sampai kita lulus.

Enaknya lagi kita tidak dibebani dengan syarat2 yang berat, misal IP harus dibatasi gak boleh dibawah sekian.Saya masuk ITS pun lewat program beasiswa ini. Syarat2nya nggak jauh beda dengan beasiswa lain. Program ini diperuntukkan bagi siswa SMA/MA/SMK/Sejenis yang mempunyai kemampuan akademis yang menonjol.

Dari pengalaman saya dan teman2 yang lolos program ini, biasanya itu ditunjukkan dengan nilai rapot (rangking 1-3 paralel), piagam olimpiade mata pelajaran (Olimpiade Sains Nasional, dan sejenisnya), juga sertifikat2 keaktifan dalam organisasi intra maupun ekstra sekolah. Kalau temen2 berminat bisa langsung lihat pengumumannya di sini.

Serta Download berkas-berkasnya di sini

Older Posts »